Pernikahan Juno dan Zahra sudah tinggal menghitung hari. Semua persiapan sudah selesai karena memang mereka hanya akan mengadakan pesta kecil-kecilan. Selain karena Zahra tidak terlalu suka keramaian, mereka juga harus mengejar waktu untuk kembali ke Jepang secepatnya.
Aisyah cukup ikut andil dalam banyak hal, seperti pemilihan gaun dan juga cincin pernikahan. Zahra berfikir mungkin Aisyah memiliki selera yang sama dengannya, walau Aisyah sendiri belum pernah merasakan memakai gaun pengantin, tapi dia bisa cukup teliti untuk memilih gaun mana yang kira-kira cocok dengan kepribadian Zahra.
Dan ya, Zahra amat sangat puas dengan semua pilihan Aisyah.
Selain persiapan pernikahan, Aisyah juga sedang disibukkan dengan persiapan acara untuk 4 bulanan. Baik Hanni maupun Amira sudah sangat sibuk mempersiapkan banyak hal. Rencananya mereka akan mengundang anak yatim untuk mendoakan kehamilan Aisyah agar terus diberikan kelancaran sampai melahirkan nanti.
Rumah tampak lebih ramai karena beberapa tetangga juga ikut membantu, sebenarnya Aisyah ingin pengajian yang sederhana saja, tapi Amira bilang akan lebih baik jika lebih banyak orang yang datang. Dan Azzam pun tidak tampak keberatan, jadi Aisyah memutuskan untuk menurut saja.
"Nak, makan dulu..." Hanni melongok dari balik pintu kamar Aisyah, tangannya membawa nampan berisi beberapa makanan yang baru saja selesai dibuat.
Aisyah yang baru selesai mandi langsung menghampiri, dia melihat wajah Hanni yang tampak berkeringat.
"Makasih Umma, Aisyah udah boleh ke bawah?"
Hanni menggeleng dengan telunjuk bergoyang-goyang, "Kamu di sini aja istirahat, lagian di bawah udah hampir selesai semua. Kalo bosen nonton aja, atau ngaji mungkin, atau nggak tidur..."
Aisyah hanya bisa mendengus, padahal dia juga ingin membantu, tapi Umma dan Bunda sangat cerewet dengan terus menyuruhnya untuk beristirahat.
"Mas Azzam dimana?"
"Azzam masih belanja buah-buahan sayang, nanti kalo udah pulang Umma suruh dia temenin kamu."
"Eum yaudah deh.."
Hanni menyempatkan diri untuk mengusap perut besar Aisyah sebelum akhirnya pamit pergi. Aisyah kembali menutup pintu kemudian duduk di atas sofa, sembari makan dia menghabiskan waktu dengan menonton mukbang di youtube.
Satu jam setelah Aisyah menghabiskan makanannya, Azzam pulang. Pria itu masuk dengan hati-hati, dan sepertinya itu adalah keputusan yang tepat. Karena saat dirinya masuk, Aisyah sudah terlelap di atas sofa. Satu tangannya memeluk perutnya sendiri, sedangkan satu tangan lagi terjulur ke luar sofa dengan ponsel yang tergeletak di bawahnya.
Ponsel itu bahkan masih memutarkan video mukbang.
Dilihatnya tubuh Aisyah dari atas sampai bawah, Azzam tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Istrinya itu kini tampak lebih menggemaskan dengan tubuh berisi. Sejak hamil nafsu makan Aisyah memang luar biasa, gadis itu bisa makan bahkan sampai lima kali sehari. Dan tentu saja itu membuat berat badannya mengalami kenaikan, pipinya semakin tembam dengan daging lengan dan paha yang semakin menebal.
Namun itu malah membuat Azzam semakin menyukainya.
"Ummi gemes banget ya Dek, pengen Abi gigit pipinya..." bisik Azzam pada perut besar istrinya.
Karena tidak ingin mengganggu, akhirnya Azzam memutuskan untuk mandi lebih dulu. Pengajian akan diadakan malam ini, dan dia butuh waktu untuk beristirahat sejenak.
Saat pintu kamar mandi kembali terbuka, Azzam bisa melihat Aisyah sudah bangun dari tidurnya. Gadis itu duduk menghadap ranjang dengan kedua kaki bersila, matanya sayu dan hanya diam tanpa melakukan apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Terindah
General Fiction"Ummi punya satu permintaan, Aisyah mau kabulkan?" "Apapun akan Aisyah lakukan asal Ummi bahagia.." Aisyah membawa tangan Danira untuk dia kecup. "Menikahlah dengan Azzam Nak.." "Iya, Aisyah pasti menikah sama Mas Azzam. Aisyah janji.." Danira te...
