Chapter-31 : Booth Mini Istimewa

284 32 12
                                        

Perayaan hari kelahiran SMA Bina Bangsa adalah hari yang ditunggu para warga penghuni sekolah itu. Di mana OSIS yang menjabat akan berlomba-lomba membuat pesta yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Hal istimewa di tahun ini adalah ada banyak undangan tersebar ke sekolah lain untuk mengunjungi Bina Bangsa. Bazar mini yang diadakan di lapangan basket pun dipenuhi lautan manusia.

Bagi introvert seperti Biru ini adalah neraka. Harus bersikap hangat, mengulas senyum manis demi menarik pembeli. Entah sebuah keuntungan atau kerugian memiliki wajah tampan yang menarik banyak kaum perempuan ke booth mini milik mereka.

Biru mengelap peluh yang menetes seraya duduk di kursi. Puluhan perempuan yang mengantri kini telah bubar. Biru dan Cindy-kebetulan mendapat jadwal jaga yang sama-akhirnya dapat berisirahat.

Tak jauh berbeda dari Biru, keringat mengalir deras dari kening Cindy. Apalagi gadis bersurai pendek itu bekerja di depan api, menggoreng batagor yang disuplai oleh Hasan.

"Ini." Biru menyodorkan sekaleng cola yang sudah hangat pada Cindy.

Gadis itu mengerutkan dahi. "Untuk apa?"

"Untukmu," jawab Biru pendek.

"Aku gak minum cola." Cindy membuang muka.

Biru menarik uluran tangan, memasukkan kembali cola ke dalam ransel lalu mengeluarkan sebotol air mineral. "Ini."

"Untuk apa, sih?" tanya Cindy.

"Untukmu," jawab Biru singkat. Sebuah perpaduan yang tidak bisa disatukan.

Cindy menggulir bola mata malas. "Aku tahu, tapi untuk apa? Kenapa kau sok baik?"

"Harus ada alasan untuk berbuat baik?"

Pertanyaan Biru membuat mood Cindy semakin buruk. Dia menerima botol air Biru dengan kasar, sedikit menahan gengsi sebab merasa dahaga.

"Marah-marah gak menyelesaikan masalah," ucap Biru tiba-tiba setelah lima menit keheningan menyelimuti mereka berdua.

Cindy menoleh dengan dahi mengerut. "Kau lagi bicara soal apa?"

"Soal Sesya dan ..." Biru menoleh ke arah Cindy, "Dan kamu."

"Jangan ikut campur urusanku!" hardik Cindy seraya menghempaskan diri ke sandaran kursi plastik yang ia duduki.

"Sama, harusnya kamu gak ikut campur urusan Sesya dan Arel," balas Biru.

Sekakmat! Kali ini Cindy diam tak berkutik. Biru memang benar, seharusnya dia tidak ikut campur dalam permasalahan dua perempuan itu. Namun, jika semesta memaksa dia bisa apa?

"Jadi kenapa kamu ada di pihak Arel? Gak mungkin karena percaya cerita dia, kan?" terka Biru. Jika ada perlombaan laki-laki paling peka se-nusantara, sudah pasti Biru-lah yang menyandang gelar itu.

"Bukan urusanmu!" sahut Cindy. Tak mau terbuka.

"Aku ikut campur, karena ingin memberi solusi bukan sekedar penasaran," jelas Biru berharap jika hati Cindy melunak.

Cindy menarik napas panjang lalu mengembuskan kasar. "Solusi untuk siapa? Untuk Sesya, kan?"

"Kenapa bawa-bawa Sesya?" Dahi Biru mengernyit.

"Iyalah, kau kan suka sama Sesya. Aku udah tahu, karena dari awal dia di-bully kau bantuin dia, rela tukar bangku biar dia gak sedih dan sekarang kau sok baik samaku biar gak jahatin dia lagi. Betul aku, kan?" cerocos Cindy.

"Bodoh!" Biru tertawa renyah. "Deduksi yang sangat bodoh."

Ledekan Biru membuat emosi Cindy semakin meledak-ledak. Sudahlah suasana panas, ditambah berjam-jam berdiri di dekat api dan sekarang dikompori oleh lelaki itu.

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang