Lauk pauk di atas meja makan ditutup dengan tutup saji. Piring kotor yang berada di sink telah dicuci bersih oleh Filo, sedangkan si empunya rumah duduk manis di atas sofa sembari menonton televisi. Tidak, sebenarnya Sesya ingin membantu, tetapi dilarang sebab harus beristirahat agar besok dapat berjalan.
Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam. Kini langit telah sepenuhnya gelap dan ratu malam mulai menunjukkan eksistensinya.
"Aku pulang sekarang, ya," pamit Filo sembari menyeka tangan di celana jeans yang membalut kakinya.
"Eh, kamu gak nginap?" Bibir bawah Sesya maju ke depan. Tak mau ditinggal lagi.
Filo terkekeh kecil seraya mengusap puncak kepala Sesya. "Kapan-kapan, sekarang aku pulang dulu. Bisa gawat kalau orang tua Mama pulang dan lihat aku."
"Ya udah, deh, tapi aku antarin sampai depan, yaa," pinta Sesya.
"Its okay, aku bisa sendiri," tolak Filo.
"Gak, pokonya aku mau antarin sampai depan." Sesya tetap bersikeras.
Dengan berat hati, Filo menuruti si gadis keras kepala ini. Lelaki itu menggendong Sesya sampai ke halaman depan lalu menurunkannya di dekat gerbang pagar.
"Beneran bisa jalan masuk?" tanya Filo memastikan. Raut wajahnya terlihat tidak percaya.
"Tenang ajaa! Aku udah latihan jalan kok pas mandi tadi, lagian lukanya kecik jadi bukan masalah besar," jawab Sesya yakin agar tak membuat lelaki itu khawatir.
Helaan napas berat lolos dari mulut Filo. Berat meninggalkan gadis itu sendiri dalam keadaan terluka, terlebih dia belum menemukan jawaban yang sebenarnya. Namun, mau bagaimana lagi?
Alat teleportasinya belum bisa digunakan, dan akan muncul masalah besar jika orang tua melihat anak gadisnya ditemani laki-laki dewasa yang tak mereka kenal.
"Ish, udah jangan berlebihan. Lagian harusnya aku yang khawatir karena kamu tidur di sekolah," ucap Sesya seraya memajukan bibir bawahnya.
Filo terkekeh kecil. "Sorry, Ma. Mukanya jangan sedih gitu, dong."
"Gimana gak sedih, aku kan pengen ditemanin sama kamu terus," lirih Sesya. Bulir bening tertahan di kelopak mata dan siap terjun bebas.
Kaki Filo maju, memangkas jarak antara mereka berdua lalu membawa gadis itu dalam dekapan hangat. "Its okay, aku selalu ada di hati Mama. Jangan nangis lagi, ya."
Sesya mengangguk dalam pelukan. Hangat, ia ingin memeluk tubuh itu lebih lama lagi. Namun, tiba-tiba muncul sorot lampu motor yang berjalan mendekat. Buru-buru Filo melepaskan pelukan itu.
"Itu siapa? Perasaan ayah sama bunda bawa mobil sendiri," tanya Sesya seraya mengusap jejak air mata di pipi.
Filo tak langsung pergi, matanya menatap sorot lampu yang semakin mendekat. Berjaga-jaga, takut jika yang datang adalah orang jahat.
"Eh ... itu ...."
Motor itu berhenti tepat di depan mereka Filo dan Sesya. Penumpang di kursi belakang turun lalu membuka helm. Melihat wajah di balik helm membuat pupil mata Filo membesar.
"Eh, Jicko? Biru?" Itu suara Sesya. "Ada apa kok tiba-tiba datang ke sini?"
Alih-alih menjawab, tatapan Biru justru menuju pada lelaki berkemeja biru langit di sebelah Sesya. Alisnya mengerut seolah ada yang aneh.
"Kau Edo?" tanya Biru.
Mendengar itu, Filo tertawa renyah. "Edo? Siapa itu? Namaku Filo, bukan Edo."
"Iya, dia namanya Filo," timpal Sesya dengan wajah bingung. Lagipula siapa itu Edo?
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Teen FictionApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
