Bola mata Arel membulat ketika melihat sosok mantan kekasih yang berdiri di depan kelas. Lelaki itu menyender di tiang tembok dan kedua tangan berada dalam saku celana. Mukanya datar seperti biasa, tapi Arel tahu kalau lelaki itu pasti ingin bertemu dengannya.
"Masih belum bisa move on?" tanya Arel sembari berjalan mendekati Biru.
Biru mengangkat wajah lalu menjawab, "aku mau bicara empat mata denganmu."
"Astaga, Biru! Kamu belum bisa move on padahal kita udah enam bulan pisah," komentar Arel seraya terkekeh kecil.
Dua dayang-dayang yang setia berada di belakang Arel ikut tertawa meledek. Namun, Biru tak ambil pusing.
"Ada hal yang lebih penting dari itu," ucap Biru dengan nada datar lalu berjalan menuju area belakang gedung sekolah. Diikuti dengan Arel yang penasaran, topik pembicaraan apa yang membawa lelaki itu mau menemuinya lagi.
"Kamu mau bicara apa? Mau balikan?" tanya Arel, dua tangan melipat di depan dada.
Kaki Biru berhenti saat tiba di tempat. Matanya menyisiri tiap sisi, sepi tidak ada orang selain mereka berdua. "Aku gak minat balikan dengan psikopat sepertimu."
"Ha?" Arel tersenyum sinis. "Kamu masih sama seperti dulu, ya. Kalau ngomong gak pakai mikir, gak suka basa-basi dan to the point."
Biru mengangguk setuju. "Aku masih sama seperti dulu, gak ada yang berbeda kecuali perasaan aku ke kamu."
Sebelah sudut bibir Arel naik ke atas, manik matanya menatap tajam Biru yang berada beberapa meter di depan. Emosi bergejolak kala daun telinga menangkap kalimat yang membuatnya malu.
"Terus apa maumu? Bukannya gak suka basa-basi, langsung aja ke topik pembicaraan," hardik Arel.
"Maunya juga begitu, tapi aku gak mau kamu salah paham," jelas Biru, "Aku mau kamu minta maaf sama Cindy."
Pupil mata Arel melebar. "Minta maaf sama Cindy? Gila kau, ya! Buat apa aku minta maaf sama cewe sialan itu."
"Arel, kamu tahu kenapa hidupmu gak pernah bahagia?" tanya Biru. Arel diam saja tak membuka suara. "Karena terlalu banyak hati yang kamu sakiti. Selama kamu gak mau minta maaf, kamu gak akan pernah bahagia."
"Tau apa kau soal perasaanku hah?" pekik Arel, "Selama ini aku selalu bahagia, dan aku jauh lebih bahagia abis putus sama kamu."
"Aku tahu semua tentangmu, Arel Moretti." Biru melangkah, memangkas jarak antara mereka berdua. "Mulai dengan minta maaf dengan Cindy, karena kamu yang ubah dia jadi sosok antagonis."
Dada Arel naik turun, napasnya terdengar keras dengan tangan mengepal kuat. Amarahnya semakin membara, sebab ia tidak bisa mengelak fakta yang dikatakan Biru.
"GAK MAU! Gak kau, gak Edo semuanya suruh aku minta maaf. Memangnya salah aku apa hah?" tolak Arel tegas.
"Mau aku list? Mungkin 100 halaman gak cukup," sahut Biru.
Tak bisa menahan amarah yang kian memuncak, Arel membalikkan tubuh dan hendak meninggalkan Biru. Namun, laki-laki itu lebih dulu mencengkal pergelangan tangan Arel.
"Aku gak akan berhenti sampai kamu minta maaf ke Cindy," peringat Biru.
"Gak peduli, sampai mati aku gak akan minta maaf sama siapa pun!" tegas Arel seraya mencoba melepaskan pegangan tangan Biru.
Biru menarik Arel hingga batang hidung mereka hampir bersentuhan. Tatapan tajam Biru membuat Arel sedikit bergetar.
"Dan aku gak peduli kalau kamu terus merasa sakit dan terganggu denganku. Aku gak akan diam aja sampai kamu minta maaf."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Teen FictionApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
