Entah hanya perasaan Sesya atau suasana kelas pagi ini terasa dingin dan sepi saat kaki jenjang miliknya menginjak kelas. Padahal Bengkulu pagi ini sangat cerah seperti hari biasa.
Tap! Tap! Tap!
Sesya berjalan pelan dengan kepala menunduk, tak berani mengangkat wajah karena atensi seisi kelas tertuju padanya. Kenapa, sih? Padahal hari ini aku gak pakai yang aneh-aneh, batinnya bertanya-tanya.
Pikiran Sesya semakin liar, mencoba-coba tuk mencari jawaban dari pertanyaannya. Hingga ia sampai di depan meja yang berada di barisan tengah di sisi kanan. Sesya baru tahu jawabannya apa.
Meja putih yang putih bersih kini berisi sumpah serapah dan caci-maki. Namun, Sesya tak mau ambil pusing. Ia sudah terbiasa dengan hal ini.
Tanpa bertanya pada Cindy, teman sebangkunya yang mendadak dingin hari ini Sesya langsung mengeluarkan tisu basah dari dalam tas kemudian mencoba menghapus coretan itu. Beruntung tidak ditulis dengan spidol permanent jadi tidak begitu menyulitkannya.
"Kasihan, masih jadi anak baru malah kena bully," komentar seorang lelaki berwajah oval dengan name tag bertuliskan Jicko Pratama.
Lelaki dengan rambut model curtain hair yang duduk di samping Jicko mengangguk setuju. Namun, pandangannya terus menatap Sesya di depan.
"Kau bantulah sana," perintah Jicko sambil mendorong bahu Biru, lengkapnya Albiru Kawakibi. "Kau kan keturunan Kesatria Baja Hitam."
"Anj-"
"Eitss! Eitts! Gak boleh ngomong kasar, Bapak ketua kelas," potong Jicko dengan nada menyebalkan.
Daripada kewarasannya hilang karena lama-lama berada di dekat Jicko, Biru beranjak bangun dan melangkahkan kedua tungkai mendekati Sesya.
"Sini aku bantu," pinta Biru dengan nada datar.
"Eh, gak apa. Aku bisa bersihin sendiri, kok," tolak Sesya. Tak ingin ada orang lain yang ikut kena imbas karena menolongnya.
Sebab saat di sekolahan dulu, teman sebangku Sesya jadi korban berikutnya karena membela dirinya. Beruntung gadis itu juga ikut pindah setelah Sesya pindah sekolah.
Jika ditanya apa penyebab dia dirudung oleh teman sekelasnya, Sesya juga tidak tahu jawabannya apa. Namun, untuk kali ini sepertinya ia tahu siapa pelaku yang mencoreti mejanya.
"Sini," paksa Biru.
Melihat raut wajah Biru yang kusut, membuat Sesya tak berani membantah dan memberikan beberapa lembar tisu basah pada Biru. "I-ini."
Coretan di meja kini sudah bersih, Sesya buru-buru mengekori Biru yang lebih dulu berjalan ke luar.
"Albiru Kawa-kibi," gumam Sesya sembari membaca name tag yang terpasang di bagian kanan dada seragam sekolah Biru.
"Kenapa?" tanya Biru dapat mendengar suara Sesya.
"Eh, enggak. Aku baca nama kamu. Terima kasih, ya, Albiru," ucap Sesya sembari mengulurkan tangan.
Alih-alih menjawab, Biru malah berlalu pergi meninggalkan Sesya yang masih berdiri di depan tempat sampah. Kemudian berhenti saat di ambang pintu. "Cukup Biru."
"Eh, iya. Terima kasih, Biru."
***
"Perasaan ibu lagi baik, karena hari ini anak ibu lagi ulang tahun jadi ibu akan kasih dua pilihan untuk kalian. Pertama, kita ulangan sekarangan dan kedua ibu berikan tugas kelompok," ucap Sri, guru Biologi yang terkenal suka membuat ulangan mendadak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Teen FictionApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
