Chapter-13 : Diskusi di Pinggir Jalan

838 124 82
                                        

Bumi Rafflesia hari ini terlihat cerah dengan langit biru tanpa awan. Angin sepoi-sepoi berembus, menerbangkan anak-anak rambut Sesya yang lepas dari ikatan. Dua kotak bekal kosong terletak di sebelah ia duduk.

Sesya memejamkan mata, menikmati angin yang menerpa wajah. Nyaman, sangat nyaman di saat kepalanya sedang dipenuhi masalah.

Di sebelah, ada Filo yang duduk menjulurkan kedua kaki ke depan. Diam-diam mencuri pandang pada perempuan yang sedang memeluk lutut di sampingnya itu.

"Mama tahu kenapa aku jadikan rooftop sebagai tempat pertemuan kita?" Filo membuka percakapan.

Mata Sesya terbuka, ia melirik Filo lalu menggeleng. "Kenapa?"

"Karena Mama menulis di buku diary kalau rooftop jadi tempat ternyaman selama di sekolah. Sepi, sedikit panas, tapi angin sangat terasa di sini jadi Mama merasa nyaman," jelas Filo.

"Benar." Sesya terkekeh kecil sambil mengangguk-angguk. "Sekarang alasannya udah nambah."

"Apa?"

"Kamu, karena ada kamu di sini aku jadi makin merasa nyaman dan senang," jawab Sesya.

Muka Filo memerah mendengar jawaban tak terduga yang keluar dari mulut Sesya itu. Lelaki itu kemudian merebahkan badan dan menjadikan tangan sebagai bantal.

"Ish, enak banget bisa rebahan. Aku juga mau, tapi takut rok aku terbang-terbang kebawa angin," protes Sesya dengan bibir bawah menjulur ke depan.

Filo kembali duduk.

"Eh, kok balik duduk?" tanya Sesya mengernyit bingung.

"Biar Mama gak iri." Filo menjulurkan lidah. "By the way, kapan siap terima misi ketiga?"

"Nanti-nanti aja, deh. Misi kedua aja belum 100% selesai, soalnya kak Dana perpanjang masa pinjam," jawab Sesya.

"Itu gak masalah, misi ketiga bisa dijalankan walaupun misi kedua belum full selesai," jelas Filo.

Bukan Sesya namanya, jika tidak keras kepala. Ia menggeleng kuat. "Nanti aja, aku mau ngerjain misi ketiga kalau misi kedua udah 100% selesai."

"Kenapa? Bukannya Mama mau cepat-cepat jadian sama ayah?" Pertanyaan Filo membuat Sesya bungkam 1001 bahasa.

Tidak ada kata yang keluar dari mulut Sesya selama beberapat detik. Suasana hening menyelimuti mereka berdua hingga terdengar suara helaan napas dari mulut Sesya.

"Aku lagi banyak tugas," jawab Sesya sembari menyeka hidung. "Aku takut nanti malah gak fokus karena kebagi-bagi gini. Gak apa, kan?"

Kalau begitu jawabannya Filo tidak mungkin memaksa. "It's okay, bilang saja kapan pun Mama siap."

"Gitu, dong. Itu baru namanya Filo anakku!" seru Sesya sembari menyengir lebar. "Eh, sebenarnya ada sesuatu hal yang mengganjal di pikiranku."

"Apa itu?" tanya Filo.

"Soal Arel dan kak Dana," jawab Sesya singkat.

Dahi Filo mengernyit. "Kenapa tiba-tiba tanya soal mereka?"

"Enggak! Bukan gitu!" seru Sesya heboh tanpa sebab. "Aku cuma memastikan, karena ada banyak gosip kalau katanya ... katanya mereka berdua pacaran."

Tawa Filo menggelegar. "Ma, Arel adalah tipe perempuan yang dibenci ayah. Mustahil kalau mereka sampai jadian."

"Oh begitu." Sesya manggut-manggut paham. "Ternyata kamu tahu banyak juga, ya tentang Arel."

"I-iya, Ma. Tentu saja," sahut Filo salah tingkah.

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang