Jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Artinya bel akan berbunyi lima belas menit lagi dan Sesya masih berada di jalanan bersama sang ayah, Adam. Tidak biasanya gadis itu terlambat seperti ini.
Biasanya Sesya selalu bangun awal sebab harus naik bus pertama agar tidak terlambat ke sekolah. Namun, karena hari ini akan diantar oleh Adam dengan mobil jadi gadis jangkung itu tidak langsung bangun ketika alarm berbunyi.
Kedua tungkai jenjang Sesya menginjakkan kaki di halaman sekolah tepat pada pukul tujuh lewat sepuluh menit. Ia semakin mempercepat langkah menyusuri koridor, menuju kelas yang berada di ujung koridor.
Napas Sesya tersenggal-senggal, dadanya naik turun begitu tiba di ambang pintu. Saking takutnya ia tidak melihat ke sekitar, padahal masih ada beberapa murid yang berada di luar kelas.
"Wah, anak baru telat, ya."
Pupil mata Sesya mendengar suara itu. Ia hafal betul sejak pertemuan pertama mereka. Perlahan diputar kepala ke sumber suara, ke bangku barisan paling belakang tempat di mana Sesya duduk.
"A-rel?" Tubuh Sesya membeku di tempat. Mengapa perempuan itu ada di kelasnya?
Perempuan berambut pirang itu duduk di bangku Sesya, punggung bersandar, kaki menjulur lurus dan disilangkan di atas meja. Sedangkan kedua dayang-dayangnya duduk di bangku dan meja milik Jicko.
"Ah, dari awal aku udah peringatkan kau. Jangan usik punyaku, tapi telinga kau kurasa ada masalah. Bahkan terror coretan meja pun gak bikin kau nyerah dekatin cowokku, ya," ucap Arel sembari melipat tangan di depan dada.
Setelah Arel mengucapkan kata-kata itu, secara serempak tatapan seisi kelas tertuju pada Sesya yang masih terpaku di ambang pintu.
Lari. Sesya mau lari, tak sanggung menunjukkan muka di kelas ini lagi. Ia malu. Namun, tak bisa. Kedua tungkainya tidak bisa diajak kerja sama saat ini.
"Ah, Sesya." Arel meregangkan otot lehernya. "Apa kau kekurangan cowok di sini? Sampai kau rebut juga cowokku."
Tidak. Sesya tidak merebut, itu memang miliknya. Ingin ia mengatakkan itu dengan keras. Namun, apa daya? Bibirnya terkunci rapat. Terlalu takut bersuara. Hanya bulir bening yang keluar menetes ke pipi.
Alih-alih merasa kasihan, Arel justru makin bersemangat. "Perempuan sialan, kau kira jual air mata bisa bikin orang lain simpati? Enggak, anj*ng!" Ia menendang kuat meja Sesya hingga mengenai orang yang duduk tepat di depannya.
Suasana di kelas semakin memanas kala Arel sudah menggunakan fisik. Mereka semua tahu dan kenal betul bagaimana sikap gadis itu jika sedang menggila.
"Woi, Sya!" Suara Jicko terdengar jauh di belakang.
Lelaki itu berjalan berdampingan bersama Biru dari arah kantin. Dahi mereka mengerut melihat Sesya yang berdiri membeku di ambang pintu.
"Kena-"Kalimat Jicko terpotong ketika melihat Arel dan kedua temannya duduk di mejanya dan Sesya. Ia buru-buru mendekati Biru yang berdiri di belakang Sesya. "Anjir, ada nenek sihir."
"Siapa?" Dahi Biru semakin mengerut.
"Arel-laah. Siapa lagi? Mantan kau itu," sahut Jicko gemas.
"Usir," perintah Biru santai.
Pupil mata Jicko melebar. "Bah, gilak kau! Mana berani aku. Gak ingat kau dulu aku pernah dilabrak gegara terlalu dekat sama kau. Cowok loh aku padahal, bukan cewek."
Biru mendesah berat. Mau bagaimana lagi? Toh, dia adalah ketua kelas dan bertanggung jawab atas kedamaian penghuni kelas.
Lelaki itu lalu menggeser tubuh Sesya ke belakang dengan lembut. Kemudian berjalan mendekati Arel dengan raut wajah datar serta kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Teen FictionApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
