Sebuah panggung berukuran lebar berdiri tegap di lapangan sepak bola SMA Bina Bangsa. Kegiatan belajar-mengajar sedang diliburkan demi memeriahkan hari kelulusan murid-murid kelas dua belas.
Tema kelulusan tahun ini adalah 70's party dance. Desain interior disulap sebisa mungkin seperti di era 70-an. Murid-murid kelas dua belas memakai pakaian jadul. Sama seperti Sesya yang membalut tubuh dengan gaun merah selutut dengan corak polkadot bewarna putih tulang.
Sesya mengembuskan napas berat. Hari ini adalah hari terakhir Sesya menginjakkan kaki di SMA Bina Bangsa sebagai seorang murid. Ada banyak suka duka yang terukir di gedung sekolah ini.
Terutama atap, di mana jadi tempat mengadu, tempat ia hampir kehilangan nyawa dan tempat di mana ia pertama kali bertemu dengan Filo. Sesya tidak akan pernah melupakan hal itu.
"Masih pagi, jangan melamun."
Sesya menoleh ke belakang, mendapati Biru berdiri di belakang. Senyum Sesya mengembang ketika melihat tubuh Biru yang dibalut kemeja bewarna hijau lumut dan celana cutbray bewarna biru terang.
"Jangan ketawa. Ini pilihan Jicko," larang Biru seolah dapat membaca pikiran Sesya.
"Eh, iya-iya." Sesya terkekeh kecil. Tak bisa menahan tawa. "Oh iya Jicko mana? Cindy juga ke mana? Kok gak bareng kamu."
"Aku suruh beliin air, biar mereka berdua akrab," sahut Biru. Lelaki itu ikut berdiri di sebelah Sesya, memasukkan kedua tangan di dalam saku celana sembari menatap ke atap sekolah.
"Jicko masih belum akrab sama Cindy, ya?" terka Sesya.
Biru mengangguk.
"Aneh banget. Padahal aku yang di-bully, tapi malah Jicko yang susah memaafkan," celetuk Sesya.
"Dia setia kawan, dan gak bisa memaafkan orang-orang yang udah sakiti kawannya." Biru lalu menoleh ke arah Sesya yang juga tengah melihat ke arahnya. "Dia juga yang belain aku waktu aku di-bully pas SMP. Itu alasan kenapa aku mau berkawan dengannya."
"Eh, kamu pernah di-"
"Iya, pernah," potong Biru cepat. "Omong-omong mau lanjut kuliah ke mana?"
"Rencananya, sih UI. Doain, yaa biar lulus soalnya saingan masuk UI berat bangeeet. Mana kemampuan otakku pas-pasan lagi," sahut Sesya seraya memijit pelipis. Baru membayangkan saja sudah bikin sakit kepala.
"Sama kayak Edo?"
Sesya mengangguk malu. "Iya hehehe."
"Udah pacaran?"
"Eh?" Bola mata Sesya membulat lebar. "Kamu kok tahu aku udah pacaran sama Edo? Edo yang kasih tahu, ya? Ish, padahal aku udah bilang rahasiain dulu dari siapa pun."
Biru terkekeh kecil.
Dahi Sesya mengernyit bingung. "Kok malah ketawa? Serius tahu."
"Aku nebak aja, kentara kali."
Sesya memajukan bibir bawah. Namun, tak lama langsung mengulas senyum. Senang Biru lebih bisa mengekspresikan emosi.
"Ayo, foto. Jicko dan Cindy udah balik," ajak Biru.
Jicko dan Cindy berjalan mendekati mereka. Sesya menatap lekat wajah Cindy, Biru dan Jicko satu per satu lalu tersenyum tipis.
Jika Filo tidak datang menemuinya dari masa depan, mungkin masa SMA Sesya akan monoton dan tidak seindah ini. Jika tidak ada Filo, mungkin ia tidak akan seakrab ini dengan Jicko dan Biru.
Ada banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan Sesya karena kedatangan Filo. Beberapa takdir kecil ikut terganti, tetapi ada satu takdir yang tidak akan berubah. Takdir bahwa ujung benang merah Filo akan selalu terikat di jari Sesya.
Terima kasih, Filo. Pilihanmu datang menemuiku ... bukan pilihan yang salah. Sekali lagi, terima kasih ....
***
Bengkulu, 2030 ....
Sebuah rumah megah yang berdiri di pinggir hutan pinus. Bangunan dua lantai, tempat di mana Filo dan keluarganya tinggal. Sejak sang ayah meninggal, lelaki itu memutuskan untuk menghuni rumah itu.
Setiap sabtu sore, usai bermain golf di lapangan dekat rumah Filo selalu duduk di teras sembari menikmati semburat merah yang terbentang di ufuk barat.
Ditemani dengan segelas watermelon lemonade dan brownies kering buatan Sesya, istrinya.
"Habis ngemil bantuin aku masak, dong. Peony request sup kimlo buat menu makan malam nanti," pinta Sesya dari ambang pintu.
Seulas garis tipis muncul di bibir Filo ketika melihat Sesya berdiri di ambang pintu. Wanita itu mengenakan celemek yang mulai usang, di tangan kanan memegang spatula dan tangan kiri menompang pinggang.
"Ish, dimintaiin bantuan malah senyam-senyum sendiri," gerutu Sesya. Bibir bawahnya maju ke depan.
"I-uhuuk ... uhuuk ...." Filo kembali batuk-batuk lagi. Belakangan ini lelaki itu sering kali batuk dan badannya sedingin es.
"Kan batuk lagi. Ayo, dong kita ke rumah sakit aja," ajak Sesya sambil mengusap punggung Filo.
Sudut bibir Filo yang pucat naik ke atas, membentuk senyum paksa. "Marah-marah mulu. Sini duduk dulu, udah lama kita gak quality time bareng, kan. Mumpung Peony lagi dibawa jalan nenek kakek."
"Tapi nanti kita ke rumah sakit, yaa?"
"Iya."
Barulah Sesya bergerak dari tempatnya. Berjalan lalu mendaratkan bokong di atas kursi kayu jati kosong di sebelah Filo.
"Aku kangen quality time sama kamu," ungkap Filo.
"Apaan, sih?" respon Sesya tak bisa menyembunyikan rona merah jambu di pipi. "Kamu kenapa, sih tiba-tiba manja gini. Biasanya lebih suka bareng Peony daripada aku."
"Emangnya gak boleh sama istri sendiri-uhuuk ... uhuuk ...."
Sesya segera memberikan segelas air minum pada Filo lalu mengusap punggung lelaki itu. "Ish, malam nanti pokonya ke rumah sakit, ya. Kalau gak mau biar aku telpon Tristan buat datang ke rumah."
"Gak perlu, Sayang. Besok Tristan juga bakal datang ke rumah."
"Mau ke mana sama dia? Kamu lagi sakit, loh," protes Sesya.
Filo terkekeh kecil. "Bukan, aku yang minta di datang ke rumah. Soalnya aku males cium bau rumah sakit."
"Filo, kamu sayang gak sebenarnya sama aku?"
"Kenapa tiba-tiba banget?" Edo tertawa canggung.
Sesya menggeleng pelan. "Aku ngerasa kita makin jauh sejak kamu pergi sebulan lebih kemarin. Aku ... gak suka kita jauh gini."
"Maaf, ya."
"Enggak." Sesya menggeleng lalu menghela napas berat. "Jangan minta maaf, Filo. Aku bukan mau permintaan maaf dari kamu. Aku cuma mau kamu gak pergi ke mana-mana lagi dan dengarin aku."
Filo hanya diam mendengarkan Sesya berbicara dengan nada pelan.
"Waktu kamu pergi, aku dan Peony ngerasa kesepian banget. Hidup aku terasa hampa, Filo karena kamu sumber bahagia aku. Percaya atau gak, aku gak bisa hidup tanpa kamu," lanjut Sesya.
Lelaki itu sedikit tersentak kala mendengar kalimat Sesya. Perasaan menyesal datang menghampiri.
"Kamu janji, ya gak pergi-pergi lagi." Sesya mengacungkan jari kelingking.
"I can't, tapi aku bakal berusaha," sahut Filo lalu menautkan jari kelingkingnya di milik Sesya sembari berkata dalam hati, I am so sorry, Sya aku berharap Tuhan bisa memberiku waktu untuk menghapus kesalahanku yang memilih datang ke masa lalu dan mencoba mengubah takdir antara kita berdua.
-To Be Continued-
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Teen FictionApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
