Hidup tidak selalu tentang cinta. Sesya baru sadar saat merasakan kebahagiaan yang jauh lebih terasa saat bersama Filo, Jicko dan Biru. Ya walaupun lelaki bernama Biru itu masih bersikap dingin dan acuh tak acuh pada dirinya.
Misi-misi yang sudah menanti seolah tak menarik, karena berteman dengan Jicko membuat Sesya sejenak lupa. Namun, baru saja merasakan warna-warni kehidupan. Ia telah dihadapkan kembali dengan kenyataan yang menyesakkan.
Dada Sesya naik turun melihat meja yang kemarin putih bersih kini kembali kotor dengan kalimat jorok. Caci maki, sumpah serapah tertulis kembali. Sang pelaku seolah belajar dari kesalahan, kali ini ia menulis dengan spidol permanent. Jelas tidak bisa dihapus bersih, berapa kali pun Sesya mencoba tidak akan bisa.
"Kamu pasti tahu, kan siapa yang coret mejaku?" tanya Sesya pada Cindy. Berusaha keras meredam emosi yang kian bergejolak.
Gadis berambut pendek itu diam, menulikan telinga seolah tidak ada suara yang masuk ke indera pendengarnya.
"Kamu ta-" Saat nada suara meninggi, kalimat Sesya terpotong dengan Biru yang datang melerai perdebatan yang bahkan belum dimulai.
"Duduk sama Jicko, biar aku yang duduk di sini," ucap Biru.
Cindy mendelik tak suka mendengar ucapan Biru. Ia membuang muka angkuh. Sejujurnya Sesya tidak paham akan perubahan sifat gadis itu.
Meski belum lama berteman dengan Cindy, tapi dia tahu kalau gadis itu adalah gadis yang baik, manis, berbakat dan pintar, karena itu Cindy berhasil masuk ke SMA ini dengan beasiswa.
"Ta-"
"Aku gak suka keributan," potong Biru.
Kepala Sesya menunduk, kemudian menyeret langkah menuju kursi Jicko yang berada di barisan belakang. Ah, kenapa dunia kejam sekali?
"Sudah, gak usah diambil pusing. Namanya hidup, pasti ada aja yang gak suka sama kita," nasihat Jicko sambil menepuk-nepuk bahu Sesya.
Bahu Sesya merosot. Ia juga tahu soal itu, tetapi rasa benci tidak harus selalu diperlihatkan bukan?
"Tapi baru kali ini aku lihat si Biru belain korban bully sampe rela tukar bangku kayak gini. Padahal dia mana bisa duduk sama orang lain, selain Jicko si cowok paling ganteng se-Bina Bangsa," celetuk Jicko.
Sesya diam saja tak mau merespon. Isi kepalanya saat ini sedang dipenuhi tanda tanya. Tidak ada ruang untuk memikirkan ucapan Jicko.
"Menurut kamu kenapa Cindy ngelakuinnya?" tanya Sesya membuka suara.
Jicko mengendikkan bahu. "Mana kutahu, yang temannya kan kau, yang ada masalahnya kan kau, tapi aneh. Setahu aku dia anaknya baik-baik aja, gak ada catatan masalah malah."
Kali ini Sesya setuju. Kalau begitu apa mungkin ...
"Gak mungkin Arel," Jicko tertawa renyah, "kau sama Arel kan gak saling kenal. Gak mungkin-lah dia bully kau."
Tidak. Sesya yakin sekali jika pelakunya Arel, karena ... Sesya tidak mendengar ancamannya. Namun, ia tidak menyangka jika gadis itu akan berbuat sejauh ini. Apalagi jika sampai memperalat seorang gadis pintar seperti Cindy.
"Balik ke Biru, menurutmu dia suka sama kau gak, sih?"
***
Puk! Puk! Puk!
Sesya mengintip dari sela lipatan tangan saat ada tangan besar yang menepuk-nepuk bahunya. Wajah mirip tupai terlihat di depan mata.
"Aku sama Biru mau ke kantin, mau ikut? Atau kau mau nitip?" tawar Jicko.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Novela JuvenilApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
