Bel istirahat berbunyi, murid-murid berhamburan keluar kelas menuju kantin dan lapangan. Berbeda dengan hari biasa, bintang sekolah yang jarang ke kantin kini menunjukkan eksistensinya.
Sebab bergadang, lelaki itu terlambat bangun dan tidak sempat sarapan. Soto ayam menjadi pilihan untuk mengisi perutnya yang kosong seraya membaca novel karya penulis favoritnya yang ia pinjam dari Sesya.
Dana duduk sendiri di pojok kantin, sementara temannya sudah bersiap-siap di lapangan untuk latihan. Ada alasan mengapa lelaki itu tidak suka ke kantin, dan satu sekolah juga tahu jika Dana jarang menginjakkan kaki di sana.
"Halo, Kakak sayang!"
Kepala Dana mendongak, menatap perempuan berambut pirang yang menjadi alasan ia malas menghabiskan waktu istirahat di kantin. Siapa lagi jika bukan Arel. Raut wajah Dana berubah kecut seketika.
Tanpa permisi, Arel menjatuhkan bokong di kursi kosong di depan Dana. Sedangkan kedua teman-temannya duduk di meja yang berbeda.
"Kakak lagi makan apa?" tanya Arel seraya menompang wajah dengan dua tangannya.
"Pakai matamu!" balas Dana dingin.
Arel tersenyum kikuk lalu menyibak rambut ke belakang telinga. Itu tidak mampu memundurkan semangatnya. "Basa-basi dulu, Kakak. Lagian masih aja sensi sama aku. Aku salah apa memangnya?"
"Kalau gak biasa diam, silakan pergi!" usir Dana tegas.
Kali ini nyali Arel menciut sedikit. Meski sering kali Dana bersikap acuh bahkan cenderung kasar, tetapi tidak membuat gadis itu putus asa dan menyerah mendapat hati Dana.
Justru semangat Arel semakin membara. Ia semakin tertantang untuk mendapatkan Dana. Terkadang Dana heran, terbuat dari apa hati gadis itu.
Time Traveller? batin Arel membaca judul buku yang sedang dibaca Dana.
"Kakak suka baca novel tentang mesin waktu?" tanya Arel seraya mencondongkan badan ke depan.
Dana tak menyahut, pura-pura tidak mendengar pertanyaan Arel dan menutupi wajah dengan buku itu.
"Kakak tau kan kalau ayahku profesor besar di Bengkulu?" tanya Arel.
Kali ini ada kemajuan. Lelaki di depannya itu menjawab dengan dehaman.
"Tahun ini ayahku lagi mengerjakan projek besar, projek mesin waktu yang sempat viral kemarin beritanya," cerita Arel penuh semangat. Meski nyatanya ia sama sekali tidak tertarik dengan penemuan ayahnya. Apa pun itu.
Dana tertawa renyah, alih-alih merasa takjub. "Aku bukan anak kecil yang bisa dibohongi, Rel. Aku tahu kalau projek itu ditangani Profesor Lee dan ayahmu bukan Profesor Lee."
"Memang bukan." Arel melipat tangan di depan dada. Raut wajahnya masih angkuh seperti biasa. "Mereka bekerja sama mengerjakan projek itu, karena Profesor Lee itu pamanku."
Dana menurunkan buku hingga batang hidungnya terlihat lagi. "Jangan berbohong! Dosamu udah banyak."
"Apa aku harus bawa foto keluargaku di sini? Atau aku harus bawa kartu keluarga nenekku dulu biar Kakak percaya?" Arel memutar bola mata malas. "Jangan lihat aku seperti orang jahat, Kak. Aku gak sejahat apa yang orang bicarakan."
"Aku memastikan aja," sahut Dana santai lalu kembali menyembunyikan wajahnya di balik buku.
Senyum sumringah merekah lagi di bibir tipis Arel. "Enggak dong, Kakak sayang. Aku gak bisa marah dengan Kakak. By the way, Kakak kok tahu kalau projek itu dipegang sama paman Lee?"
"Aku tertarik dengan mesin waktu," sahut Dana singkat.
Satu fakta tentang Dana yang tidak banyak orang tahu, lelaki itu tidak suka bertemu bahkan berbicara dengan perempuan bernama Arel. Bahkan topik favoritnya sekali pun. Ia tahu betul daftar siswi yang telah didepak dari sekolah karena ulah gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Teen FictionApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
