Chapter-15 : Gelang Takdir

741 106 42
                                        

Langit mulai menggelap dan malam akan datang menyapa Bumi Rafflesia ini. Pekerjaan kelompok baru saja selesai dan seperti biasa Jicko menjadi supir lalu mengantar Sesya pulang dengan sepeda motor bebek miliknya.

"Kau sibuk gak?" tanya Jicko sebelum memasang helm.

Sesya mengernyit, seolah sedang berpikir keras kemudian menggeleng. "Gak ada, sih. Memangnya kenapa?"

"Aku mau minta kau kawanin aku beli kado. Besok adik kembar aku ulang tahun," jelas Jicko.

"Wah, asik bangeet!!" seru Sesya riang dan iri di saat yang bersamaan. Pasti rumah Jicko ramai dengan adik kembarnya. Ia juga mau, tapi sayang ... jangankan dua, satu pun tak ada. "Eh, tapi kamu mau beli apa?"

"Nah, itu dia aku gak tahu." Jicko tertawa renyah.

Sesya menepuk jidatnya. "Katanya abang yang baik, tapi mau ngasih kado aja gak tahu apa."

"Aku kan gak tahu selera cewek gimana. Makanya kuajak kau," balas Jicko membela diri.

"Iya, iya aku percaya." Meski raut wajah Sesya mengatakan sebaliknya. "Eh, di dekat rumahku ada toko aksesoris yang harganya murah. Mau beli di situ aja gak?"

Jicko langsung memasang helm dan memberi kode dengan kedipan mata agar Sesya naik ke atas motor. "Kalau harganya murah ayo gas!!"

Motor Jicko lalu berjalan menyusuri jalanan kota Bengkulu yang lumayan ramai. Setelah lima belas menit, ia dan Sesya berhenti di depan sebuah toko aksesoris berukuran minimalis dan didominasi warna merah muda serta bunga-bunga palsu sebagai hiasan.

"Eh, adikmu suka apa?" tanya Sesya sembari berjalan masuk ke dalam toko.

Toko ini memang kecil, tetapi unik dan tertata rapi. Ada banyak koleksi lucu yang dipajang di etalase toko. Kaum perempuan di sini pasti akan senang. Terbukti dengan pengunjung toko yang selalu ramai. Namun, jumlah pengunjung yang boleh masuk ke dalam dibatasi sehingga tak terlalu sesak rasanya.

Jicko mengendikkan bahu. "Gak tahu, kan udah kubilang aku ngajak kau karena gak tahu apa-apa."

"Kayaknya kamu harus tes DNA, deh," celetuk Sesya seraya memajukan bibir bawahnya.

"Enak aja! Dia gak pernah cerita apa-apa, ya mana aku tahu," balas Jicko tak terima terus disalahkan.

"Iya, iya percaya. Adikmu umur berapa?" tanya Sesya sambil melihat-lihat.

"Kayaknya lima atau enam," jawab Jicko tak yakin.

Sesya menatap Jicko sambil menggeleng-geleng kecil. "Kalau aku dapat kabar kalau kamu anak pungut, aku gak akan kaget, deh kayaknya."

"Si-"

"Eh, ini bagus gak?" Sesya mengangkat satu set aksesoris mainan bewarna pink yang tampak mewah. "Kalau dia suka warna pink, kayaknya dia bakal suka banget."

"Bagus, ini ajalah," sahut Jicko cepat tanpa berpikir panjang.

"Cepet banget! Ntar kalau adikmu gak suka pink gimana?" tanya Sesya.

Jicko menyengir lebar. "Namanya juga kado, gak boleh protes. Lagian biar cepat. Sini, biar aku bayar dulu."

Sembari menunggu Jicko membayar, Sesya memilih untuk berkeliling sendiri. Langkah membawanya ke koleksi bracelet hingga manik cokelat miliknya terpana kala melihat seutas rantai gelang dengan liontin batu kecil bewarna biru langit dan kepingan besi bertulis huruf 'F'.

F? Untuk ... Filo? Ini sebuah kebetulan atau takdir?

"Mau beli? Ambil aja. Ntar kubayarin, hitung-hitung makasih karena udah bantu aku," ucap Jicko yang entah kapan sudah berada di belakang Sesya.

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang