Mentari bersinar terang di minggu terakhir bulan mei. Silir angin berembus ditemani burung-burung gereja yang berkicauan di langit biru sungguh sangat sayang jika dilewatkan.
Sebuah motor yang tak asing berhenti di depan gerbang rumah Sesya. Si empunya rumah sudah menunggu lama sejak dua puluh menit lalu. Sesya buru-buru berjalan ke luar gerbang.
"Ish, lama kali," gerutu Sesya sembari menerima helm pemberian Jicko.
Jicko menyengir lebar. "Sebenarnya aku cepat bangun tadi, tapi adik kembarku lagi aktif-aktifnya jadi aku harus bantu ngurusin mereka."
"Bukan karena telat bangun?" Mata Sesya memicing curiga.
"Bah, curigaan terus kau samaku," protes Jicko tak terima.
"Kan nanya ajaa." Sesya menyengir lebar lalu naik ke motor Jicko.
Tujuan mereka berdua adalah apartemen Biru. Tidak ada pesta atau alasan penting, hanya ingin bermain. Kata Jicko supaya Sesya dapat merasakan indahnya bersosialisasi, meski yang mereka datangi adalah Biru, si ansos.
Motor Jicko melaju cepat membelah jalanan yang mulai ramai di akhir pekan. Setelah lima belas menit berlalu, mereka pun tiba di apartemen Biru, tempat yang telah memberi tahu Sesya perihal kebenaran Edo dan Filo.
Ketiga kucing milik Biru langsung menyambut ketika daun pintu terbuka dan Jicko berjalan masuk. Sedangkan tuan rumah langsung melangkah kembali ke sofa dengan pandangan fokus ke layar televisi yang menyala.
"Aku boleh pinjam dapur gak?" tanya Sesya sembari melepas sepatu.
Biru mengangguk mengiyakan tanpa menoleh.
"Bah, kau jago masak?" tanya Jicko seraya mengelus-elus bulu Cika yang sedang bergelendot manja di kaki Jicko.
"Enggak, sih." Sesya menyengir lebar. "Sebenarnya kemarin donga Hasan kasih bonus siomay dan batagor karena Biru bikin dagangannya laku keras. Jadi aku bawa aja, deh ke sini buat kita makan sama-sama."
Jicko menepuk tangan senang. "Selamat memasak, Tuan Putri Sesya Ornella. Hamba mau mengurus para majikan dulu."
Sembari Sesya sibuk berkutat di dapur Biru, kedua lelaki itu duduk di atas sofa sembari menonton pertandingan sepak bola yang sedang ditonton Biru.
"Kau gak takut Sesya diambil orang?" tanya Jicko pelan. Takut kedengaran Sesya sebab jarak dapur serta ruang tamu tidak jauh dan tanpa sekat.
Dahi Biru mengernyit.
"Kulihat-lihat kayaknya si Edo naksir juga sama Sesya. Gak lucu kalau ketikung tetangga sendiri," lanjut Jicko.
"Aku gak suka," respon Biru.
"Aku pun gak suka kalau si Edo dekat-dekat sama Sesya. Gak cocok sama sekali. Sesya cocok sama kau, sama-sama ansos, sama-sama galak, sa-" Mulut Jicko langsung bungkam ketika Biru melayangkan tatapan tajam. "Maksudku sama-sama good looking dan good rekening."
"Aku gak suka Sesya," aku Biru.
Dahi Jicko mengerut keras kemudian menggeleng. "Gak mungkinlah, dari pengamatanku kelihatan jelas kalau kau naksir sama si Sesya."
"Sok tahu! Kau kan gak bisa lihat isi hatiku," balas Biru lalu menepuk puncak kepala Jicko.
Jicko meringis sembari mengelus kepalanya. "Bah, jadi kau suka siapa juga? Masa si Cindy."
"Aku suka sama siapa itu bukan urusanmu!"
***
Di belahan lain kota Bengkulu, tepatnya di sebuah rumah megah dekat pepohonan pinus sedang mengadakan pertemuan keluarga. Mobil puluhan milyar terparkir rapi di halaman yang luas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Teen FictionApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
