Sebuah bus berhenti di halte dekat sebuah perumahan. Seorang perempuan dan diikuti seorang lelaki di belakang turun kemudian berjalan berdampingan tanpa percakapan seolah tak saling mengenal.
Embusan angin sore menemani perjalanan mereka berdua menyusuri jalanan menuju area taman komplek. Gadis itu yang sengaja meminta mampir di sana sebelum pulang ke rumah.
Wajah mungil itu masih pucat, tampak masih terkejut dengan kejadian di sekolah tadi. Bahkan ia tak masuk jam pelajaran terakhir.
"Kamu kenapa masih ada di sini?" tanya Sesya membuka suara.
"Aku belum pulang, karena aku khawatir dengan Mama," jawab Filo.
Langkah mereka berhenti di depan ayunan dengan dua tempat duduk. Sesya duduk lebih dulu, lalu Filo menjatuhkan bokong di ayunan satu lagi.
"Sakit kamu gimana? Mukamu masih pucat," tanya Sesya seraya melihat wajah Filo yang tak kalah pucat
"Ayo, pulang! Nanti aku kasih obat biar cepat sembuh," ajak Sesya seraya menarik pergelangan tangan Filo.
Lelaki itu melepaskan pergelangan tangan Sesya dengan lembut alih-alih menerima tawarannya. "Its okay, aku ... pulang ke masa depan sebentar lagi. Aku akan minum obat di sana."
Bola mata bak kucing itu terpaku dengan bulir bening terbendung di ujung kelopak mata. Ia mendongak ke atas, seolah ingin mengembalikan air mata ke sumbernya.
"Jadi kita gak akan ketemu lagi?" lirih Sesya dengan nada tercekat.
Filo mengusap punggung Sesya, berusaha menenangkan gadis itu. "Kita akan bertemu lagi, aku janji. Kita akan terus bersama."
"Kamu gak bisa tinggal di sini lebih lama? Aku butuh kamu di sini," pinta Sesya dengan kepala menunduk.
Suara helaan napas berat lolos dari mulut Filo. Lelaki itu lalu beranjak bangun, berjalan beberapa langkah lalu berjongkok di depan Sesya. Tangannya meraih tangan gadis itu dan mengenggamnya erat.
"Aku juga mau begitu, tapi aku ... punya keluarga di masa depan. Aku janji suatu saat aku akan datang menemui Mama di masa lalu lagi," ujar Filo menenangkan.
Kepala Sesya diangkat sedikit lalu dia menggeleng. "Jangan janji, aku takut karena di drama orang yang punya janji pasti berakhir dengan ... kematian."
"Kalau begitu aku gak janji," Filo terkekeh kecil, "lalu kapan Mama cerita tentang hubungan Mama dengan Arel?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
Kini giliran Sesya yang tersenyum canggung merespon pertanyaan yang terlontar dari mulut Filo. Ia sudah menebak hal itu.
"Aku harus jawab dengan jujur?" Sesya malah bertanya balik.
Filo hanya menganggukkan kepala.
Sesya menghela napas berat. "Sebenarnya aku di-bully, karena dekatin kak Dana. Sebelumnya dia beri peringatan dulu padaku, tapi ... aku abaikan. Begitu terus sampai hari ini terjadi. Itu salahku."
"Itu bukan salah Mama," ralat Filo seraya menggeleng. "Itu salah Arel yang punya sifat jahat, tapi yang penting sekarang Mama gak perlu takut lagi. Dia gak akan ganggu Mama lagi."
"Kenapa? Kenapa dia takut sama kamu? Apa karena mukamu kayak bapak-bapak?" tanya Sesya mengundang tawa.
"Aku gak setua itu, Ma," Filo terkekeh kecil, "itu karena aku punya kunci dan suatu saat nanti Mama pasti tahu maksud dari kunci itu. Sekarang gak perlu khawatir lagi dan kejar cinta ayah dengan cara Mama sendiri."
Sesya menggeleng. "Aku gak bisa."
"Kenapa?" tanya Filo dengan dahi mengernyit.
"Karena dia gak suka denganku, aku sudah kalah sebelum memulai."
***
Tak ada yang tak tahu jika rumah di pinggir kota Bengkulu lebih tepatnya di dekat pepohonan pinus adalah milik Profesor Lee. Seorang profesor besar keturunan Cina yang sering menghabiskan waktu di luar kota, terutama setelah sang istri tercinta meninggal dunia.
Pria paruh baya itu memiliki seorang anak laki-laki, tetapi tak terlalu akur. Anak lelaki itu bernama Edo, dia tinggal di sebuah apartemen yang tidak jauh dari sekolahnya dan sesekali pulang ke rumah untuk bebersih.
Hari ini adalah jadwal lelaki penyuka biru langit itu pulang ke rumah. Tak ada yang berbeda dari rumah megah itu, kecuali debu tebal yang tak terlihat seolah ada yang membersihkannya.
Kedua alis Edo mengernyit heran, sebab setiap pulang pasti banyak debu berterbangan. "Ayah perasaan belum balik dari Jakarta, siapa yang bersihin?"
Manik mata cokelat tua miliknya menyisiri tiap ruangan. Bersih dan rapi, memang ada orang lain yang datang sebelum Edo. Namun, siapa? Jika itu maling, mereka tidak mungkin berbaik hati membersihkan rumah yang akan dijarah.
"Shit! Bikin pusing, mungkin si tua Bangka itu hiring pembantu kali. Dikira aku gak akan pulang ke rumah," monolog Edo mencoba untuk tetap berpikir positif meski hati terus menjerit sebaliknya.
Langkah kaki itu mendekat ke rak tv, tangannya menjulur, meraih sebuah bingkai foto kecil yang terpajang di sana. Foto wanita bersurai hitam sepunggung, itu ibunya.
"Kalau bukan karena kangen mama, males juga sebenarnya aku ke sini," ucap Edo seraya mengusap foto wanita yang telah meninggalkan dia sejak lelaki itu baru hadir di dunia ini lima tahun. Usia yang terlalu dini untuk merasakan pahitnya perpisahan.
Sejak saat itu pula, Edo bukan hanya kehilangan sosok ibu, tetapi juga sosok ayah. Pria itu semakin gila kerja dan menghabiskan sepanjang hari untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki Edo terdengar saat dia menaiki anak tangga, menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Saking sukanya dengan warna biru langit, seluruh interior kamarnya didominasi oleh biru langit.
Edo merebahkan tubuh jangkungnya di atas kasur seraya menatap langit-langit kamar. Namun, punggungnya merasakan sesuatu yang mengganjal. Terpaksa lelaki itu kembali bangun lalu menyibak selimut untuk melihat apa yang berada di baliknya.
Kedua alis Edo kembali tertaut ketika melihat seutas gelang rantai dengan liontin batu biru langit dan kepingan besi berukir inisial huruf F.
"Punya siapa ini? Perasaan aku gak pernah beli gelang modelan gini," tanya Edo seraya mengamati gelang itu. "Tapi bagus, sih. Warnanya juga bagus."
Lelaki itu lalu memasangkan ke pergelangan tangan kiri dan menjadi teman baru bagi dua gelang lain. Meski tidak tahu ini punya siapa dan datang dari mana. Toh, ini adalah kamar Edo maka apa pun yang berada di dalam kamar ini akan menjadi miliknya.
Tubuh Edo kembali berbaring, kedua matanya tidak bisa lepas dari gelang baru itu. Kepala masih bertanya-tanya atas segala keanehan yang terjadi di rumah ini. Mulai dari keadaan rumah yang terlalu bersih tanpa debu, hingga gelang ini.
Pupil mata lelaki itu tiba-tiba membulat lebar seolah sadar akan sesuatu. "Apa jangan-jangan rumah ini berhantu gara-gara lama kosong?" Ia langsung menggeleng. "Hantu gak akan kasih gelang, lebih masuk akal kalau si tua Bangka itu pulang ke rumah. Ya ... dia yang pulang."
-To Be Continued-
Halo, ges!
Aku tauu kalian pinter jadi ayo komen apa keanehan di bab ini😃 kemarin ada yang ngeh tentang filo yang kenal sama arel dan tenang ajaa jawabannya bakal ada di next bab😛
Btw, terima kasih sudah baca, vote dan komen. Ayo, mutualan di

KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Ficção AdolescenteApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
