Bengkulu, 2029 ....
Mencoba mengubah skenario Tuhan adalah hal mustahil dan salah satu perbuatan tergila yang pernah Filo lakukan sepanjang umur. Beruntung Sang Pencipta berbaik hati, tidak meninggalkannya di lorong hitam panjang penghubung antar waktu.
Mesin waktu ini sudah tidak ada gunanya lagi. Daripada muncul Filo baru yang mencoba melakukan perjalanan antar dimensi, lebih baik dimusnahkan saja.
"Ayaah!" Kepala mungil timbul dari balik celah pintu gudang.
Filo menoleh lalu menarik dua sudut bibirnya. "Sini masuk!"
Sepasang kaki mungil yang dibalut celana piyama serta rambut khusus seperti baru bangun tidur berjalan mendekat. Gadis itu lalu menyandarkan tubuh ke kaki Filo.
"Ayah lagi ngapain?" tanya Peony. Tangan kirinya memeluk boneka rajut kelinci bewarna pink. "Itu apa, Ayah?" Jari kecil molek itu menunjuk sebuah kotak besi seperti lift yang berada di tengah-tengah ruangan.
"Itu namanya time machine buatan kakek Peony, tapi sayangnya sebelum dia sempat menyelesaikan projek ini, kakek lebih dulu meninggal. Jadi ayah yang bantu menyelesaikan projek ini," cerita Filo.
Peony manggut-manggut paham. Meski Filo sendiri tak yakin jika anaknya benar-benar mengerti.
"Nanti kalau ayah meninggal, Peony juga mau kayak ayah," celetuk Peony.
Raut wajah Filo berubah terkejut. "Peony, kamu tahu arti meninggal itu apa?"
"Tahuu." Kepalanya mengangguk. "Kata bunda, meninggal itu pergi yang jauuuuuh. Eh-berarti kemarin ayah meninggal, ya?"
Filo meringis mendengarnya. "Bukan begitu maksud bunda, Peony."
"Peony salah, ya, Ayah?" Pupil mata hitam legam itu membulat, sama seperti pipinya.
"Meninggal itu artinya pergi ke surga dan gak kembali lagi ke bumi. Seperti kakek yang sudah ke surga, dan gak kembali lagi menemui kita di sini," jelas Filo memakai kata-kata sederhana agar lebih mudah dipahami.
Sontak Peony langsung memeluk erat kaki Filo. "Gak mau! Peony gak mau Ayah meninggal."
"Enggak, Peony." Filo terkekeh lalu berjongkok, menyamakan tinggi dengan putri kecilnya. "Tapi Peony harus tahu, setiap manusia pasti meninggal."
Bibir bawah Peony maju ke depan. Mata bulatnya berkaca-kaca mendengar ucapan sang ayah. "Jadi Ayah pasti meninggal?"
Filo mengangguk, mengiyakan pertanyaan Peony.
"Kapan Ayah meninggal?" tanya Peony lagi.
Alih-alih marah, Filo justru terkekeh kecil mendengar pertanyaan polos yang keluar dari mulut Peony. "Itu rahasia Tuhan, Sayang. Gimana kalau kita lihat-lihat mesin waktu aja?"
Niat Filo ingin mengalihkan perhatian Peony, tetapi gadis itu mirip dengan ibunya, sama-sama keras kepala. Sembari mengekori langkah Filo, ia terus bertanya-tanya mengapa setiap manusia harus meninggal.
"Peony gak mau Ayah meninggal," ucap Peony untuk sekian kali.
Filo menganggukkan kepala. "Ayah gak akan meninggal sebelum Peony siap kehilangan ayah."
"Ayah janji?" Peony mengulurkan jari kelingking mungil dan disambut oleh milik ayahnya. "Ayah janji, ya?"
"Iya, ayah janji," sahut Filo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Teen FictionApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
