Chapter-4 : Misi untuk Mama

1.1K 147 80
                                        

Area kantin SMA Bina Bangsa di jam istirahat ini terlihat seperti lautan manusia dan itu menjadi alasan ketiga bagi Sesya mengapa ia lebih suka menghabiskan waktu di atas atap sekolah. Apalagi kini sudah ada sosok Filo yang menemani di sana, jadi Sesya tambah betah.

Mereka duduk berdampingan sembari menikmati semilir angin yang menerpa dan roti bakar cokelat buatan Sesya pagi tadi sebelum mereka berangkat ke sekolah.

"Masa depan itu gimana, sih? Aku penasaran banget," tanya Sesya kemudian menggigit roti bakar di tangannya.

"Sama saja seperti sekarang, bedanya di sana sudah lebih banyak teknologi canggih seperti alat teleportasi, mobil terbang dan robot-robot yang berkeliaran bebas di jalanan," cerita Filo.

Sesya manggut-manggut paham. "Gitu juga dengan mesin waktu?"

"Itu ... gak semua orang punya mesin waktu," jawab Filo.

"Eh, kenapa?" Sesya reflek menoleh ke arah Filo dengan dahi mengernyit. "Kok gak semua orang punya mesin waktu? Terus kok bisa kamu punya mesin waktu?"

Filo terkekeh kecil mendengar rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Sesya. "Ma, apa pun jawabannya gak penting. Yang penting aku datang ke sini buat satuin Mama dan ayah, jadi kita fokus bicara soal itu aja. Okay?"

"Ish, pelit banget! Padahal aku kan cuma pengen tahu keadaan masa depan tuh gimana." Sesya memajukan bibir bawahnya.

"Jadi gak mau tahu misi pertama Mama buat dekatin Ayah?" tanya Filo menggoda.

Kalau sudah digoda begini mana bisa Sesya menolak. Apalagi ini menyangkut soal Dana, crush-nya. "Mau! Mau! Apa misi pertamanya?"

"Besok, waktu jam istirahat Mama langsung pergi ke perpustakaan da-"

"Males! Rame orang di perpustakaan," potong Sesya.

"Mom." Filo memasang wajah serius.

Sesya menghela napas. "Iya, iya, terus ngapain?"

"Mama pilih kursi di dekat jendela yang menghadap lapangan dan jangan lupa bawa sandwich selai stoberi favorit ayah."

Dahi Sesya kembali mengernyit mendengarnya. "Buat apa?"

"Don't ask too many question, Ma. Just do it," ucap Filo seraya menoel pucuk hidung Sesya.

"Iya, iya aku gak nanya-nanya lagi. Aku bakal lakuin apa yang kamu bilang tadi biar kak Dana cepet-cepet jadi pacar aku," sahut Sesya tersenyum lebar.

"Mama segitu sukanya sama ayah?" tanya Filo dengan tatapan yang tak teralihkan dari Sesya.

Tanpa berpikir panjang, Sesya langsung mengangguk-anggukkan kepala. "Suka bangeeet! Kamu percaya cinta pandang pertama gak?"

Filo menggeleng. Ia terlalu realistis untuk percaya tentang cinta pada pandangan pertama.

"Ish, itu nyata tahu! Dan aku korbannya. Waktu pertama kali pindah ke sini, dan ketemu kak Dana aku langsung jatuh cinta sama dia. Aku gak bohong, sih kalau pertama aku jatuh cinta karena dia yang ganteng banget terus punya lesung pipi kayak aku, nih." Sesya tersenyum simpul dan menunjukkan lesung pipi di kedua sisi. "Tapi lama-kelamaan, aku jatuh cinta sama pribadi kak Dana yang baiiiiik banget, udah gitu sopan, pinter, jago main basket, sama jadi kesayangan guru."

"Kalau mi-"

"Beda banget sama aku, makanya kadang aku ngerasa minder dan gak layak jadi pacar kak Dana padahal aku pengeeen banget." Sesya mengembuskan napas kuat. "Tapi untung aja kamu datang ke sini, jadi setidaknya aku bisa hidup dengan tenang karena yang jadi jodoh aku di masa depan nanti tuh kak Dana."

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang