Chapter-50 : Hari Bintang Utama

421 24 13
                                        

Sesya duduk di depan meja rias sejak tiga puluh menit yang lalu seraya menatap pantulan diri dari cermin. Setelah lamaran tak resmi di kafe beberapa waktu lalu, ia jadi tak bisa tidur dengan baik. Untung saja kantung mata dapat disamarkan dengan bantuan concealer.

Pikiran Sesya kembali memutar kilas peristiwa saat ia dan Edo sedang menghabiskan waktu di kafe.

Empat tahun berlalu dengan cepat. Edo dan Sesya baru saja wisuda kemarin. Sekarang waktunya kencan, untuk mengobati rasa rindu yang terbentuk saat sibuk dengan urusan masing-masing.

"Ngelihatin apa, sih?" tanya Edo sembari memotong cheese cake milik Sesya. "Cowo ganteng di depan malah dianggurin."

Sesya terkekeh kecil. "Itu bunga di seberang sana bagus banget."

"Oh, kamu suka bunga?"

Pertanyaan Edo membuat raut wajah Sesya berubah datar. "Kita udah pacaran empat tahun dan kamu baru tahu sekarang kalau aku suka bunga?"

"Bukan! Bukan!"

"Terus?" tanya Sesya ketus.

"Aku memastikan aja," elak Edo.

"Ish, nyebelin banget tahu!"

"Jangan ngambek, dong!" Edo menoel pucuk hidung Sesya. "Kamu mau aku beliin apa biar happy lagi? Bunga? Coklat?"

Bibir bawah Sesya maju ke depan. "Coklat bikin gendut, bunga udah banyak di rumah."

"Oh ya?"

"Ish, masa kamu gak perhatiin, sih?" protes Sesya.

"Ya kamu selalu buru-buru kalau aku jemput atau antar, mana sempat aku perhatiin rumah kamu," balas Edo membela diri.

Sesya diam saja tak mau menanggapi, sebab kali ini Edo benar. Namun, sebagai kaum perempuan yang punya gengsi selangit ia memilih diam.

"Iya, nanti aku main ke rumah kalau ayah ada waktu," lanjut Edo.

Dahi Sesya mengernyit. "Loh, ngapain ayah ajak kamu?"

Alih-alih menjawab pertanyaan Sesya, Edo justru mengulas senyum penuh arti lalu menyesap watermelon lemonade di depannya.

"Ish, ditanyain kok malah senyam-senyum, sih."

"Hehehe iyaa, soalnya sekalian aku mau mempersunting kamu untuk aku."

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu berhasil menyadarkan Sesya dari lamunan. Daun pintu bewarna putih gading itu terbuka lebar, menampakkan Hanna berdiri di ambang pintu dengan baju kebaya bewarna navy dipadukan rok batik yang membalut tubuh.

"Sudah siap, Sayang?"

Sesya mengangguk kecil. "Tapi Sesya gugup, Bun. Nih, tangan Sesya aja sampai keringatan." Ia menunjukkan kedua telapak tangan yang basah.

"Sekarang tarik napas dalam-dalam lalu buang perlahan. Diulang-ulang sampai kamu merasa lega, ya," nasihat Hanna.

Sesya menuruti perintah Hanna. Gadis itu menarik napas dalam lalu mengembuskan secara perlahan, berulang kali hingga perasaan kalut yang melanda sedikit demi sedikit surut.

"Gugup itu wajar, Sayang. Bunda juga begitu waktu ayah datang lamar bunda," cerita Hanna. 

Sesya mengulas senyum tipis. "Makasih, ya, Bun. Sesya udah mendingan sekarang."

"Sama-sama, Sayang." Hanna mengusap pelan puncak kepala Sesya." Sekarang udah siap ketemu sama calon suami?"

"Ih, Bunda!" rengek Sesya malu. Pipinya yang sudah merah karena blush on kini bertambah merah setelah mendengar godaan Hanna.

"Aduh, bunda gak menyangka ternyata anak gadis bunda sekarang sudah besar dan sebentar lagi jadi istri orang," ucap Hanna penuh haru.

Seulas garis tipis kembali terulas di bibir Sesya. "Waktu cepat banget berlalu, ya, Bun? Tapi Bunda harus tahu, apa pun status Sesya nanti ... Sesya akan tetap jadi satu-satunya anak gadis Bunda."

Hanna tidak bisa menahan haru. Wanita itu menarik Sesya dalam pelukan dan mendekapnya pelan. "Terima kasih, ya, Nak sudah menjadi bagian dari hidup bunda dan ayah."

***

Dari balik tirai pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga, Sesya muncul sembari digandeng oleh Hanna. Adam, Edo dan keluarganya serempak berdiri kala melihat Sesya.

Barang sedetik pun Edo tak bisa alihkan pandang dari gadis berkebaya biru navy itu. Hari ini Sesya terlihat sangat cantik. Sulit bagi Edo untuk mendeskripsikannya.

"Baiklah, karena pemeran utama sudah tiba jadi langsung saja kami utarakan maksud kedatangan kami ke sini," ucap Lee ketika Sesya duduk dijepit oleh kedua orang tuanya.

Diam-diam Edo mencuri pandang sembari melemparkan pujian melalui gerakan bibir. "Kamu cantik banget."

Sontak Sesya mengalihkan pandang sambil tersenyum, tanda jika dia paham ucapan Edo tadi.

"Baik, silakan," sahut Adam, ayah Sesya.

"Jadi maksud kedatangan kami ke sini adalah ingin mempersunting anak Bapak dan Ibu, yaitu Sesya Ornella untuk anak lelaki kami, Filo Renaldo," ungkap Lee, mewakili putranya.

Debaran jantung Sesya berdetak cukup kencang. Tangannya basah sebab salah tingkah. Ia bahkan tak berani mengangkat wajah dan melihat Edo yang duduk tepat di depannya.

"Selanjutnya saya serahkan kepada Bapak selaku wali dari Sesya," lanjut Lee.

"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Edo sekeluarga, tapi sebagai seorang ayah yang menomor satukan kebahagiaan anak saya. Saya akan serahkan semua keputusan ini kepada anak saya, karena saya dan ibu Sesya akan setuju dan mendukung selalu keputusan anak kami," balas Adam.

Sesuai dengan alur acara yang sudah dibicarakan sebelumnya, Sesya memberanikan diri mengangkat kepala dan melihat wajah-wajah yang menanti jawaban dari mulut sang bintang utama.

Perlahan Sesya melihat wajah Hanna dan Adam kemudian mengangguk pelan. "Iya, saya menerima lamaran Edo."

Raut wajah lega bercampur bahagia tercetak jelas di wajah Edo dan semua yang berhadir di sana. Jawaban yang terlontar dari mulut Sesya berhasil menguapkan rasa gugup yang membalur tubuh lelaki itu.

Sesya tersenyum simpul melihat pakaian Edo, Aku masih ingat Fi, itu baju yang kamu pakai di pertemuan pertama kita di atap sekolah. Pertemuan yang begitu absurd, tapi akan selalu terkenang di hati hehe terima kasih sudah datang di kehidupanku, saat aku masih berusia enam belas tahun.

-The End-

hi, everyone! sedih banget salah nulis the end jadi tbc): padahal cerita ini udah tamat dari tahun lalu but its okay karena aku bakalan ngasih 2 chapter tambahan as extra chapter tapi pelan-pelan yaa karena aku baru nulis lagi):

but thank you so much sudah membaca gratia sampai sini, terima kasih sudah mencintai anakku dan aku gak akan bikin gratia sampai di sini saja. hehe jangan keluarin gratia dari library kalian karena aku punya kejutan untuk kita semua.

sekali lagi terima kasih dan papai~

with love,

bileikha

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang