Chapter-45 : Kotak dari Masa Depan

186 16 1
                                        

Mata Sesya terpana melihat kamar Edo yang besar, seluas rumah tamu di tumahnya. Nuansa biru langit menghiasi sebagian besar isi kamar. Membuat siapa saja yang masuk ke dalam, merasa lebih tenang.

Jika dipikir-pikir Edo sering memakai pakaian bewarna biru, terutama biru langit. Sama seperti Filo. Bahkan surat yang datang bersama buket bunga pun bewarna biru langit.

Ada banyak kesamaan antara mereka berdua. Harusnya Sesya lebih cepat sadar agar dapat menanyakan langsung pada Filo. Namun, waktu sudah berlalu dan Filo lebih dulu kabur ke masa depan.

Sesya menjatuhkan bokong ke atas kasur milik Edo. Tepat di sebelah si empunya yang lebih dulu duduk.

"Sorry, ya. Ayah memang suka begitu, tapi aku gak expect kalau omongannya sesakit itu," ucap Edo mewakili Lee. Perasaan bersalah dan kesal kini bercampur aduk.

Sesya mengulas senyum lebar, meyakini Edo jika dia baik-baik saja. "Ish, gak apa-apa tahu. Kamu gak perlu minta maaf sama aku."

"Tetap aja, aku gak enak," balas Edo.

"Gak apa-apa, kok. Aku gak merasa sakit hati," ujar Sesya seraya mengulas senyum lebar hingga lesung pipinya terlihat.

Edo tersenyum tipis. "Aku baru sadar kamu punya lesung pipi."

"Ish, padahal udah temenan lama, tapi masa baru sadar sekarang kalau aku punya lesung pipi," protes Sesya. Bibir bawahnya maju ke depan.

"Aneh banget!" Edo terkekeh. "Dikatain sama ayah, kamu gak marah. Giliran aku baru sadar sama lesung pipi kamu malah ngambek."

"Biarin!" Sesya menjulurkan lidah.

"Sebentar!" Perlahan Edo memajukan wajah, memangkas jarak antara dirinya dan Sesya. Gadis itu otomatis mundur ke belakang.

"Apaan, sih? Kamu mau apa dekat-dekat? Awas aja kalau berani macam-macam!" ancam Sesya mengambil ancang-ancang.

Tangan Edo menjulur ke depan, meraih wajah Sesya. Secara otomatis kedua kelopak mata itu menutup dengan erat bersamaan dengan detak jantung yang berdetak tak seirama.

"Nah, dapat!" seru Edo.

Bola mata Sesya kembali terbuka. Edo tengah tersenyum meledek sembari menunjukkan sehelai bulu mata yang ia ambil dari pipi Sesya.

"Kalau ada bulu mata jatuh, artinya ada yang kangen sama kamu," ucap Edo. Sepertinya tak sadar jika perbuatannya tadi berdampak buruk atas kesehatan jantung Sesya.

"Tahu!" balas Sesya ketus.

Dahi Edo mengernyit. "Kenapa ngamuk? Kamu lapar?"

"Enggak!" sahut Sesya.

"Oh atau kamu ngambek because I didn't kiss you?" tanya Edo menggoda. Kedua alisnya naik turun.

Pupil mata Sesya membulat lebar. Secara spontan melayangkan pukulan ke tubuh Edo. "Ish, enggak, yaa! Siapa juga yang mau dicium sama kamu!"

"Who knows." Edo mengedikkan bahu. "Kalau kamu mau pun, I would never do that."

"Kenapa?" tanya Sesya.

"Memangnya kamu mau aku cium?" Edo malah bertanya balik.

"Ya enggaklah! Gak mau!" seru Sesya lantang.

"Makanya jangan tanya-tanya kenapa," ucap Edo.

Bibir bawah Sesya maju ke depan. Edo jauh lebih menyebalkan daripada Filo. Lagian Filo kan udah dewasa, mungkin udah diospek sama istrinya makanya gak semenyebalkan Edo, batin Sesya.

"Just kidding!" celetuk Edo kemudian terkekeh kecil. "Aku gak mau aja cium-cium perempuan sembarangan. Kata ibuku gak baik, dan aku juga gak mau memperburuk stigma anak band yang sering di-cap sebagai buaya."

Sesya tertawa kecil. "Ternyata kamu anak mama banget, ya."

"Aku lebih sayang ibuku daripada ayah." Edo lalu membaringkan tubuh dan menatap langit-langit. "Kalau projek mesin waktu ayah berhasil, aku pengen curi terus aku pakai untuk datang ke masa lalu."

Hati Sesya tersentil mendengarnya.

"Aku mau datang menemui mama, dan menghabiskan waktu lebih banyak dengannya." Edo kemudian beralih menatap Sesya. "Mungkin aku pakai juga untuk menemui kamu, supaya kita bisa berteman lebih awal."

***

Sekarang Sesya dan Edo berpindah tempat ke sofa kecil di dekat jendela. Edo sengaja membuka bingkai kayu itu, membiarkan udara sejuk masuk dan Sesya dapat menikmati pemandangan hijau yang tersaji di depan mata.

"Sorry, ya acara pertemuan keluargaku gak asik. Kamu malah aku ajak duduk di kamar gini," ucap Edo. Perasaan bersalah masih menyelimuti diri.

Sesya menggeleng. "Ish, enggak tahu. Aku malah senang bisa lihat pemandangan indah gini dari kamar. Aku juga senang karena bisa ketemu orang sekeren profesor Lee."

"Kamu benar-benar suka dengan ayahku? Aku kira bohong supaya aku terhibur," tanya Edo lalu terkekeh kecil.

"Um ... itu sebenarnya karena kakak kelasku, sih. Dia suka banget dengan mesin waktu. Bahkan dia sampai mau jadi kelinci percobaan," cerita Sesya.

"Hah!" Edo membuang napas kasar. "Aku jamin kalau dia tahu sifat asli ayahku, dia gak bakal sesuka itu. Sampai pengen jadi kelinci percobaan segala."

Sesya mengedikkan bahu. "Tapi aku rasa dia pengen jadi kelinci percobaan bukan karena sesuka itu dengan profesor Lee."

"Terus apa alasannya?" tanya Edo.

"Itu ... mungkin sama seperti kamu. Pengen memperbaiki sesuatu yang terjadi di masa lalu," jawab Sesya.

Edo manggut-manggut paham. "Bisa jadi."

"Mungkin juga profesor Lee ciptain mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, dan memperbaiki suatu kesalahan yang pernah dia lakukan," celetuk Sesya. Membuat Edo tertawa keras.

"Gak mungkin-lah! Dia bikin mesin waktu demi dirinya sendiri," ralat Edo lalu beranjak bangun. "Aku keluar dulu ambil makan dan minum. Kamu di sini aja. Nanti malah diomongin lagi sama bapak tua itu."

Selepas Edo pergi, manik mata Sesya kembali menjelajahi isi kamar. Pandangannya berhenti kala melihat sebuah kotak bewarna biru langit berukuran kecil yang berada di bawah meja.

Seolah ada magnet yang menarik Sesya untuk mendekat dan memperhatikannya dari dekat. Pupil mata Sesya membulat lebar ketika melihat sebuat sticky note bertuliskan Untuk Sesya, tertempel di atasnya.

Eh? Untukku? Dahi Sesya mengernyit. Apa mungkin ini jawaban yang telah dipersiapkan Filo untuknya? Sesuai dengan petunjuk di surat yang datang bersama bunga hyacinth ungu.

Suara derap langkah kaki yang datang mendekat membuat Sesya buru-buru menyembunyikan kotak itu di dalam tas selempangnya. Kemudian duduk di tempat semula seolah tak terjadi apa-apa.

Daun pintu kamar Edo terbuka. Lelaki itu masuk sembari membawa nampan berisi dua piring nasi beserta lauk dan dua gelas jus semangka favoritnya.

"Ayo, makan!" ajak Edo.

Sesya tersenyum tipis lalu mengangguk. "Um ... tapi gak apa-apa kita makan di kamar gini? Aku merasa gak enak tahu."

"It's okay. Arel malah pengen gabung tadi, tapi aku gak izinin," cerita Edo.

"Eh, kenapa?" tanya Sesya lagi.

"Karena aku gak mau kamu merasa gak nyaman. Apa lagi dia belum minta maaf secara tulus sama kamu, kan," sahut Edo.

Dahi Sesya mengernyit. "Minta maaf?"

"Ayo, makan!" ajak Edo mengalihkan topik pembicaraan.

-To Be Continued-

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang