Chapter-24 : Filo Balik ke Masa Depan

442 70 13
                                        

Misteri perihal kesamaan wajah dan hal lain antara Filo dan Edo, tetangga Biru membuat Sesya semalaman terjaga. Berulang kali mencoba memejamkan mata dan terlelap ke dunia mimpi, tetapi sulit.

Terlebih setelah Sesya pastikan dengan mata kepala sendiri jika kedua lelaki itu memang sangat mirip. Ia tak bisa mengelak hal itu.

Usai bel istirahat berbunyi, Sesya buru-buru naik ke atap. Ia mengabaikan panggilan Jicko, bahkan ia hampir melupakan kotak bekal yang telah disiapkan Hanna untuknya.

Tap! Tap! Tap!

Suara langkah kaki Sesya menandakan jika gadis itu sedang diselemuti amarah. Mukanya kusut seraya berjalan menghampiri Filo yang tengah berbaring di atap.

"Aku mau tanya sesuatu sama kamu dan kamu harus jawab pertanyaanku dengan jujur. Awas aja kalau bohong," ucap Sesya to the point. Tak ada waktu untuk basa-basi.

Nada suara yang terdengan serius, membuat kedua kelopak mata Filo terbuka. Kemudian ia duduk dan menepuk lantai kosong di sebelah kanannya, mengisyaratkan Sesya untuk mengisi tempat itu.

"Duduk dulu," balas Filo.

Kali ini tidak perlu drama, gadis itu langsung menjatuhkan bokong di sebelah Filo. Raut wajah Sesya tak jauh berbeda dengan baju yang belum disetrika.

"Mama mau tanya apa?" tanya Filo. Nada suaranya terdengar lemah. Tak seperti biasa.

"Eh, Filo." Raut wajah Sesya kini berubah khawatir. Kedua tangannya menangkup wajah Filo. "Muka kamu pucat banget. Kamu sakit?"

Dengan senyuman tipis, Filo menurunkan tangan Sesya dari wajahnya. "It's okay, aku gak apa-apa, Ma."

"Apanya gak apa? Tangan kamu juga dingin banget kayak es," bantah Sesya, "bukannya kamu yang bilang sendiri kalau emang lagi gak baik, jangan pura-pura baik dengan bilang gak apa."

Hening. Hanya terdengar suara embusan angin. Filo menunduk kepala seraya menghela napas berat. Sedangkan Sesya berusaha menetralkan emosi yang terus meledak-ledak.

"Sorry, Ma. Aku gak mau bikin Mama khawatir," jelas Filo.

"Walaupun aku masih 16 tahun, tapi kalau aku tahu anakku sakit aku pasti khawatir, Filo," tegas Sesya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu sakit pasti karena tinggal di luar gini. Nanti ikut aku pulang ke rumah, ya."

Filo menggeleng pelan. "Gak bisa, Ma. Kan ada orang tua Mama di rumah."

"Bisa," Sesya bersikeras, "kamu bisa tinggal di kamarku aja. Bunda gak pernah masuk ke kamarku, kok. Lagian di dalam kamar kan udah ada kamar mandi jadi kamu gak perlu takut."

Kepala menunduk, tak sanggup menatap wajah perempuan di sebelahnya itu. Filo menggeleng pelan lalu berkata, "sorry, Ma. Mungkin aku gak bisa selesaikan tugas aku."

"Tugas?" Dahi Sesya mengernyit.

"Iya, misi yang jadi tujuan aku datang ke masa ini dan menemui Mama di usia 16 tahun," jawab Filo membenarkan.

"Kenapa?" Wajah Sesya semakin menekuk sedih. "Kamu ... mau balik ke masa depan, ya?" lirihnya.

Meski berat bagi Filo, tetapi ia tetap menganggukkan kepala. "Sudah waktunya aku pulang ke masa depan, maaf aku gak bisa selesaikan tugasku, tapi aku janji akan selalu melindungi Mama."

"Kamu tinggalin aku sendiri lagi?" lirih Sesya.

Oh, Tuhan. Kalau bisa ia ingin menetap di sini selamanya untuk menemani Sesya. Memastikan jika kehidupan gadis itu selalu dipenuhi hal-hal yang menggembirakan.

Seulas garis tipis muncul di bibir Sesya. "Gak apa, aku udah punya Jicko dan Biru sekarang. Lagipula kamu kan juga seorang ayah dan suami, istri dan anakmu lebih membutuhkan kamu daripada aku."

Tanpa membuka mulut, Filo membawa Sesya dalam dekapan hangat. Ia memeluk erat gadis itu seolah tak ingin lepas. Andai Tuhan lebih berbaik hati padanya.

***

Dalam suasana hati yang sedang tidak baik-baik saja, Sesya tetap harus mengerjakan kewajibannya membersihkan kelas sebab hari ini adalah jadwal piket. Beruntung karena ia hanya perlu menghapus papan tulis dari goresan kapur.

Papan tulis berukuran besar itu tak bisa dihapus sendiri, jadi di sebelahnya ada Cindy yang ikut membantu. Namun, hubungan mereka berdua masih dalam masa tenggang.

Tak ada yang membuka suara, baik Sesya mau pun Cindy. Keduanya fokus pada tugas masing-masing agar cepat berpisah satu sama lain.

"Senang, ya bikin masalah terus yang kena orang lain dan dibelain ketua kelas," cibir Cindy dengan senyum sinis.

Tidak ada orang lain di sekitar mereka, sudah jelas jika hal itu ditujukan kepada Sesya. Namun, ia tak mau ambil pusing. Kepalanya sudah sangat lelah saat ini.

"Aku benar, kan? Padahal aku sama sekali gak berbuat jahat dengan kau," sambung Cindy memanasi.

"Apaan, sih? Aku lagi gak mau berantem. Mending kamu diam aja dan selesain kerjaanmu," balas Sesya mulai tersulut emosi.

Cindy tertawa renyah. "Harusnya aku yang bilang gitu. Harusnya kau fokus aja belajar, gak usah ngusik punya orang dan bikin orang lain kena getahnya."

"Kamu ngomong apa? Aku gak ngerti sama sekali," balas Sesya semakin membara.

"Pura-pura bodoh?" Cindy melipat tangan di depan dada. "Kau pikir satu sekolah gak tahu apa kalau kau lagi rebut kak Dana dari Arel. Dasar pelakor!"

Pelakor? Darah Sesya semakin mendidih mendengar hinaan yang terlontar dari gadis dengan tahi lalat di dekat bibir itu. Penghapus papan tulis yang terkepal di tangan kini dihempas kuat ke lantai, nyaris mengenai kaki Cindy. Kalau tidak, mungkin akan terjadi pertengkaran hebat di sana.

"Gila kau, ya!" Cindy yang semakin emosi juga ikut melempar penghapus di tangan dan hendak mendekati Sesya.

Namun, kedua tungkai miliknya terhenti saat sadar jika seluruh pandangan tertuju pada mereka berdua. Belum lagi melihat sosok ketua kelas, Biru yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas. Padahal tadi ia sudah pulang.

Suasana semakin hening ketika Biru melangkah masuk dan berjalan menuju mejanya. Lelaki itu mengambil sebuah buku dari dalam laci mejanya.

"Lanjut aja, aku awasi," ucap Biru kemudian menjatuhkan bokong di atas kursinya yang belum diangkat ke atas meja.

Cindy menghentakkan kaki kesal kemudian mengambil kembali penghapus yang telah ia buang ke lantai. Begitu juga dengan Sesya yang memungut di dekat kaki mantan teman sebangkunya itu.

Meski tersulut api amarah, tetapi Sesya jadi kepikiran juga dengan maksud ucapan Cindy tadi. Tidak, bukan mengenai Sesya yang mengusik punya orang lain. Ia sangat paham hal itu, bahkan sebelum Cindy memberi penjelasan.

Sesya hanya tidak paham bagian, "dan bikin orang lain kena getahnya." Apa maksudnya itu? Dahinya mengerut keras, memaksa otak berpikir keras maksud dari ucapan Cindy.

Namun, nihil. Otak Sesya sedang dipenuhi dengan sosok Edo juga Filo yang sedang sakit. Terlebih lelaki itu akan meninggalkannya dan kembali ke rumahnya yang ada di masa depan.

-To Be Continued-

Halo, ges!
Akhirnya kita memasuki WGM alias waktu gratia menangis. Jujur ini bagian yang aku susah nulisnya karena aku juga harus galau😭 padahal aku dah join anti galau club😔

Btw, terima kasih sudah membaca, vote dan komen. Ayo, mutualan di


GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang