Hari ini adalah hari kamis, berarti sudah tiga hari Sesya tidak masuk sekolah. Bahkan ia tidak keluar kamar sekali, karena flu melanda dan tak kunjung sembuh padahal sudah meminum obat.
Sejak kecil Sesya tidak memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Kena hujan atau angin dingin saja ia bisa jatuh sakit. Setidaknya sehari hingga tiga hari harus berbaring dan beristirahat penuh.
Saat sedang memandang bunga-bunga di balik jendela, tiba-tiba terdengar suara derit pintu terbuka. Manik mata Sesya melirik ke sumber suara, melihat Hanna masuk seraya membawa nampan berisi makan siang dan obat kapsul penurun demam.
"Anak bunda mikirin apa? Dari kemarin kerjaannya melamun aja," tanya Hanna sembari menutup pintu dengan tubuhnya.
Sesya menyengir lebar. "Enggak, kok, Bun. Sesya merasa bosan aja di kamar terus."
"Ya udah bunda temenin, ya biar kamu gak bosan," tawar Hanna.
"Boleh, Bun," sahut Sesya, "Tapi Sesya lebih suka sekolah daripada sakit begini."
"Itu tandanya Tuhan mau kamu istirahat, Sayang. Apalagi bunda perhatiin belakangan ini kamu kayak orang yang banyak pikiran," nasihat Hanna.
Tak bisa mengelak, Sesya mengulas senyum canggung.
Hanna menghela napas dalam lalu menjatuhkan bokong di atas kasur. "Kalau ada sesuatu yang mengganjal, cerita dong sama bunda. Barang kali bunda punya solusi."
Sesya terdiam sejenak sembari menatap langit-langit kamar kemudian mengembuskan napas berat. "Bunda, Sesya boleh tanya sesuatu?
"Boleh dong, tapi sambil makan, ya? Bunda suapin," sahut Hanna.
"Iya, Bun." Sesya memainkan jari-jemari seraya mengatur kata. "Um ... kalau misalnya Bunda dibohongi sama seseorang yang Bunda sayangi, Bunda bakalan marah gak?
Hanna menyuapkan sesendok nasi beserta lauk ke mulut Sesya lalu menjawab, "Tergantung, kalau alasannya baik mungkin bunda bisa maafkan."
"Kalau alasannya gak baik?" tanya Sesya lagi.
"Bunda tetap maafkan, tapi bunda akan menjaga jarak dengannya," sahut Hanna.
"Kalau Bunda gak tahu alasannya apa?"
Hanna terdiam sesaat, mencoba menimbang-nimbang jawaban. "Um ... bunda akan coba memaafkan. Mungkin niatnya baik, tapi sulit memberi tahu alasan kenapa ia berbohong. Atau mungkin dia takut untuk beri tahu."
"Jadi Sesya harus maafin dia, ya, Bun?" tanya Sesya seraya memajukan bibir bawah.
"Iya, Sayang." Hanna kembali menyuapkan nasi pada Sesya. "Gak harus langsung memaafkan saat itu juga. Gak apa-apa kalau Sesya butuh waktu untuk belajar ikhlas dan memaafkan."
Bahu Sesya merosot lalu berkata, "Sesya masih sakit hati, Bun."
"Bunda tahu, Sayang. Dibohongi itu sakit, apalagi kalau dibohongi dengan orang yang disayang dan gak diberi tahu apa alasannya. Tiga kali lipat lebih sakit rasanya," sahut Hanna.
"Bunda pernah juga dibohongi gitu?" tanya Sesya tak bisa menutupi rasa penasaran.
Hanna terkekeh kecil. "Pernah, dong. Bunda pernah dibohongi beberapa kali, tapi bunda coba ikhlas dan memaafkan. Karena kalau bunda gak bisa memaafkan orang itu, hati bunda akan diliputi rasa benci dan hal itu gak akan bisa buat bunda merasa bahagia."
Hati Sesya merasa tertohok saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Hanna, seolah ada benda tajam yang menusuk ulu hati paling dalam.
"Coba cerita siapa yang bohongi anak bunda," pinta Hanna, "Bukan Dana, kan?"
Sesya terkekeh kecil lalu menggeleng. "Bukan, Bunda. Kak Dana orang yang baik."
"Syukurlah kalau begitu. Bunda senang kalau anak bunda dikelilingi orang-orang baik," ungkap Hanna lalu menyuapkan gigitan terakhir. "Meski berat, bunda harap Sesya bisa ikhlas."
***
Semilir angin menerpa wajah, menerbangkan rambut Sesya yang masih basah. Ia baru selesai membasuh tubuh lalu duduk di pinggir jendela, menikmati mentari sore.
Kedua kelopak mata dipejam, menikmati embusan angin yang malu-malu menyapa. Rasanya sangat segar setelah tiga hari hanya berbaring di atas kasur tanpa kegiatan.
Gadis itu bahkan tak sadar kala daun pintu kamarnya terbuka. Dua orang lelaki berseragam putih abu-abu muncul dari balik pintu.
"Galau, Bu?"
Sontak Sesya menoleh ke sumber suara, melihat penyusup yang masuk ke kamar tanpa izin si empunya kamar.
"Jicko?" Senyum Sesya merekah lebar. "Eh, ada Biru juga. Kalian ngapain di sini?"
"Jenguk orang sakitlah. Apa lagi?" sahut Jicko kemudian duduk di atas kasur Sesya tanpa permisi. "Kulihat dah sehatnya kau."
Perasaan gelisah dan bosan menguap begitu saja kala melihat Jicko dan Biru datang menjenguk. Ini kali pertama bagi Sesya dan ia tidak bisa menutupi rasa bahagia yang membuncah.
"Udah mendingan, kok. Kata bunda mungkin besok aku udah bisa balik sekolah," sahut Sesya.
"Baguslah, kangen aku gak ada kawan gosip," ungkap Jicko tak tahu malu.
Biru menendang tulang kering Jicko. "Kebiasaan."
"Sakit, woi!" Jicko meringis seraya mengusap-usap kakinya yang kesakitan.
Melihat pemandangan itu, Sesya terkekeh kecil. Baru tiga hari tak sekolah, tetapi rasanya seperti tiga bulan. "Eh, mau minum apa? Biar aku ambilin."
"Gak usah, ada tamu lain yang bantuin bunda kau siapin minum," larang Jicko dengan muka masam.
Dahi Sesya mengernyit. Tamu lain? Apa mungkin Dana atau Edo? Sebab selain mereka berdua, tidak ada nama lain yang muncul di kepalanya.
"Siapa tamu lain?" tanya Sesya.
"Adalah, kau lihat aja sendiri. Si Biru yang ngajakin dia ke sini," jawab Jicko.
Pandangan Sesya beralih pada Biru yang duduk di sebelah Jicko. Berharap jika lelaki itu akan memberi jawaban, tetapi nihil.
"Dia temanmu," sahut Biru sama sekali tak menjawab.
Tak lama seseorang muncul dari ambang pintu yang tak tertutup sembari membawa nampan. Pupil mata Sesya membulat lebar. Ia sama sekali tidak menyangka jika tamu lain yang datang adalah ....
"Cindy?"
Perempuan berambut pendek itu meletakkan nampan berisi teh dan beberapa potong brownies kering ke atas meja belajar Sesya.
Ketika dua pasang mata itu tak sengaja bertemu pandang, Cindy buru-buru mengalihkan pandang ke arah lain lalu berjalan ke dekat Biru.
"Si Biru yang ngajak," adu Jicko pada Sesya.
"Eh, i-iya," sahut Sesya merasa canggung. Suasana hangat yang dinanti-nanti kembali dingin begitu Cindy masuk.
"Gak sopan kalau dua laki-laki masuk ke kamar perempuan, makanya aku ajak Cindy," jelas Biru.
"Iya, iya," sahut Jicko. Mukanya masih masam. "Jadi kau besok masuk sekolah, kan?"
"Eh, i-iya," sahut Sesya.
"Aku jemput, ya," tawar Jicko.
"Tapi arah rumah kita kan berlawanan," peringat Sesya.
"Bah, amannya itu!" sahut Jicko.
Sesya dan Jicko larut dalam percakapan, sampai lupa jika ada dua orang lain di sana. Sedangkan Biru dan Cindy hanya duduk tak bersuara.
Cindy menghela napas lalu berbisik ke arah Biru, "Udah aku bilang kan, kedatanganku cuma bikin rusak suasana."
"Minta maaf makanya," sahut Biru berbisik.
"Aku gak ma-"
"Kalau kau minta maaf, aku buat Arel minta maaf padamu," potong Biru dengan nada rendah, nyaris tak terdengar.
-To Be Continued-
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Teen FictionApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
