Chapter-40 : Selamat Berulang Tahun

176 24 2
                                        

Bagi beberapa orang, hari kelahiran adalah hari yang paling dinanti. Di mana orang-orang terdekat akan memberi ucapan, hadiah atau hanya sekedar doa yang tulus dari dalam hati.

Namun, bagi sebagian lain termasuk Sesya salah satunya, hari kelahiran bukanlah hari istimewa yang harus dinanti kedatangannya. Sama halnya seperti hari-hari biasa.

Bel istirahat berbunyi, guru yang mengajar melangkah keluar bersamaan dengan suara helaan napas berat yang lolos dari mulut Sesya. Jicko yang duduk di sebelah, melihatnya dengan dahi mengerut.

"Kenapa? Sakit lagi kau?" tanya Jicko.

Sesya menggeleng seolah baik-baik saja. Meski di dalam hati merutuki Jicko-yang dianggap sebagai teman dekat-yang tak memberi ucapan selamat. Ah, lebih tepatnya lelaki itu tidak tahu jika hari ini Sesya sedang berulang tahun.

"Jadi kenapa juga? Datang bulan kau?" tanya Jicko lagi guna berjaga-jaga. Sebab tak mau menjadi korban amukan singa betina yang datang bulan.

"Ish, bukan gitu tahu!" bantah Sesya sambil memajukan bibir bawah.

"Bah, terus apa juga? Salah semua yang kutanya." Kesabaran Jicko yang setipis tisu hampir habis dibuatnya.

Sesya terdiam sejenak sembari mencoba menimbang-nimbang untuk memberi tahu Jicko perihal hari ulang tahunnya atau tidak.

"Gak apa-apa." Keputusan Sesya memilih untuk tidak memberi tahu sebab merasa malu. Lagipula sejak kecil tidak ada temannya yang memberi ucapan ulang tahun. "Aku gak apa-apa, kok."

"Gak kenapa-napa, tapi mukamu kusut kali kayak baju yang baru keluar dari mesin cuci," ledek Jicko.

Kepalan tangan Sesya mendarat kuat di lengan Jicko. "Ish, nyebelin banget!"

"Sakit, woi!" Jicko meringis seraya mengusap tangannya yang menjadi korban amukan Sesya.

"Biarin!" Sesya menjulurkan lidah. "Makanya jadi orang jangan ngeselin. Udah, ah aku mau ke atap aja."

"Bah, suka gak sadar diri." Kepala Jicko menggeleng-geleng seraya memperhatikan punggung Sesya yang semakin menjauh lalu menghilang di balik pintu. "Baru sembuh bukannya sehat, malah jadi gak waras."

Sepasang tungkai jangkung milik Sesya berjalan menyusuri koridor lalu menaiki satu per satu anak tangga. Hingga kakinya berhenti tepat di depan pintu besi menuju atap. Tangan gadis itu meraih kenop pintu kemudian membukanya.

Embusan angin langsung menyambut kedatangan Sesya. Ia terdiam di ambang pintu seraya menikmati belaian udara sejuk di kulit. Perasaan tenang dan sedih bercampur aduk ketika kilas peristiwa bersama Filo tiba-tiba terputar di memori.

Sesya mengembus napas pelan sembari berjalan menuju bibir atap. Duduk beralas lantai, melihat Dana yang sedang bertanding basket dari atas sana. Aktivitas yang sering ia lakukan sebelum Filo datang menyapa dan menemani kesehariannya.

"Aneh gak, sih tiba-tiba aku kangen sama kamu, Filo," lirih Sesya, "Padahal ada diri kamu di masa ini yang gantiin kamu, tapi aku masih merasa asing dengan Edo."

"Kalau kamu ada di sini, apa kamu akan ingat hari ulang tahunku?" Bibir bawah Sesya maju. "Aku sedih, hari ini aku ulang tahun, tapi gak ada yang tahu. Cuma ayah, bunda dan keluargaku aja yang tahu."

"Waktu kamu datang, aku kira tahun ini akan menjadi ulang tahun yang menyenangkan karena ada kamu." Sesya mengembuskan napas berat. "Tapi kamu udah kembali ke masa depan. Sekarang aku sendirian lagi."

***

Pulang sekolah, Sesya langsung mengurung diri di dalam kamar. Bersama dengan sekotak kue dari dalam kulkas yang dibeli semalam bersama Hanna dan Adam. Serta sebuah buket bunga hyacinth bewarna ungu yang baru pertama kali Sesya lihat secara nyata.

Sebagai pecinta bunga, buket tanpa nama pengirim yang tergeletak di teras rumah mencuri perhatian Sesya. Alih-alih mengucap doa dan meniup lilin, tangannya justru beralih mengambil bunga itu.

Seulas garis merekah lebar di bibir ranum begitu aroma hyacinth ungu masuk ke dalam indera pembau. "Wanginya seger banget!"

Kini atensi Sesya beralih ke secarik kerta bewarna biru langit yang terselip di sela-sela bunga. Gadis itu sudah penasaran setengah mati, ia langsung mengambil kertas itu dan membaca guratan pena di atasnya.

Happy Birthday, Sesya Ornella

"Eh, ternyata beneran untuk aku," monolog Sesya sedikit merasa terkejut.

Ini adalah bunga pertamanya. Namun, dari siapa? Dan mengapa harus hyancinth bewarna ungu? Manik mata Sesya kembali membaca deretan kata di atas kertas itu.

Ini aku, Filo.

Pupil mata Sesya melebar kala membaca baris kedua di secarik kertas itu. "Fi ... lo?"

Semoga bunga ini dikirim tepat waktu di saat kamu berulang tahun. Maaf, aku tidak ada di sebelahmu saat kamu berulang tahun. Aku harap kamu suka dengan hadiahku, hyacinth ungu. Bunga ini belum ada di halaman rumahmu, kan?

Tapi bukan itu alasan kenapa aku memilih hyacinth ungu sebagai hadiah. Ada alasan lain yang kamu sendiri tahu itu apa.

Dahi Sesya mengernyit bingung. "Hyacinth ungu? Hyacinth ungu artinya ... minta maaf?"

Iya, ini bentuk permintaan maafku padamu karena sudah membohongimu, tapi percayalah kalau aku punya alasan. Dan ini ... demi kebaikanmu sendiri.

"Kebaikan apa yang kamu maksud?" lirih Sesya.

Pertanyaan yang ditinggalkan Filo sama sekali tidak terjawab. Justru membuat Sesya semakin diselimuti berbagai pertanyaan baru.

Aku tahu ada banyak pertanyaan di kepalamu tentang aku. Aku berharap aku punya keberanian untuk menjawab secara langsung, tapi aku terlalu pengecut. Aku gak punya keberanian untuk melakukan itu.

Aku bahkan terlalu pengecut sampai tidak bisa meminta maaf secara langsung padamu. Minta maaf tentang kebohonganku, dan tentang Arel yang mengusik kehidupanmu. Mungkin kalau aku tidak datang menemuimu dan mencoba mengubah takdir Tuhan, hal itu tidak akan terjadi.

Dahi Sesya mengernyit kala membaca bait terakhir itu. Apa maksudnya mengubah takdir Tuhan?

Aku gak bisa tulis semua jawaban atas rasa penasaranmu di sini. Aku udah siapkan semua jawaban di rumahku. Find the key and you'll know anything about me.

Sekali lagi happy birthday! Selamat berulang tahun, Sesya Ornella. Di mana pun aku berada, aku selalu mendoakan agar kamu dipenuhi kebahagiaan selalu. U're the stronger woman i've met and please don't be sad though im not beside you ....

Terakhir, terima kasih sudah menyayangiku seperti anakmu sendiri. Terima kasih sudah menyadarkan aku kalau aku salah telah mencoba takdir Tuhan. Sampai berjumpa lagi, Sesya.

Filo Renaldo

Pertahanan Sesya runtuh. Bulir bening yang sejak tadi tertahan di pelupuk mata gadis itu akhirnya tumpah, mengalir menyusuri pipi lalu jatuh membasahi surat pemberian Filo.

Kedua telapak tangan menutupi wajah berlinang air mata. Haru, sedih, marah dan kecewa kini bercampur-aduk menjadi suatu perasaan yang tak bisa didefinisikan dengan kata-kata.

Terima kasih, aku juga akan selalu mendoakanmu, Filo. Sekali lagi terima kasih.

-To Be Continued-

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang