Chapter-16 : Teori Konspirasi Mesin Waktu

660 101 70
                                        

Suara kicauan burung terdengar riuh mengitari langit pagi. Mentari bersinar terik di minggu pagi ini. Di halaman depan, seperti biasa Sesya ditemani Hanna sedang merawat berbagai macam bunga yang tertanam. Kebetulan hari ini kedua orang tuanya tidak memiliki pekerjaan ke luar.

"Gimana sekolah barunya, Sayang?" tanya Hanna-ibu Sesya-sembari menanam bibit baru ke dalam pot.

Sesya tersenyum simpul. Sudah dua bulan lebih bersekolah, tetapi baru hari ini ibunya bertanya. Namun, mau bagaimana lagi?

"Baik, kok, Bun. Teman Sesya baik-baik semuanya, gak ada yang galak," jawab Sesya. Walaupun yang dia maksud hanya Jicko, Biru, Filo dan Dana.

"Bagus kalau begitu, bunda senang kalau kamu cepat beradaptasi di sekolah baru kamu," ucap Hanna.

Sesya hanya menyengir mendengarnya. Andai saja tidak ada Arel, mungkin misi Filo akan berjalan lancar dan masa SMA-nya akan seindah apa kata orang.

"Kemarin malam siapa yang antar kamu pulang? Bunda baru ingat kamu kemarin diantar laki-laki," tanya Hanna.

"Itu namanya Jicko, Bun. Nanti kalau dia antar Sesya lagi, bakalan Sesya kenalin ke Bunda," sahut Sesya.

"Pacar kamu?"

Perut Sesya seketika mulas mendengarnya. "Enggaklah, Bun. Dia tuh temen Sesya, lagian orangnya bukan tipe Sesya banget."

"Jadi tipe anak bunda yang gimana?" tanya Hanna menggoda.

Semburat merah muncul di wajah Sesya. Ia jadi tersipu malu usai mendengar pertanyaan ibunya. "Um ... itu Sesya suka sama cowok yang tinggi, putih, rambutnya rapi warna hitam terus ada lesung pipinya kayak Sesya."

"Oh ... kayak yang di depan pagar itu?"

"Ha?" Sontak Sesya menoleh ke arah jari telunjuk Hanna menunjuk.

Pupil mata Sesya membulat lebar ketika melihat Dana berdiri di depan pagar. Gadis itu lalu menepuk dahi dengan telapak tangan. Dia benar-benar lupa kalau sudah ada janji dengan Dana.

Tanpa berkata apa-apa, Sesya berlari kecil tuk membukakan pintu pagar. Laki-laki itu menyungging senyum lebar saat melihat si empu rumah.

Oh, Tuhan demi apa pun lelaki itu terlihat sangat tampan hari ini. Tubuh atletisnya dibalut dengan kaus garis-garis dan jaket denim sebagai outer.

Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan, Sesya? batin Sesya menelan ludah samar.

"Selamat pagi, Sesya," sapa Dana dengan lesung pipi yang dapat membuat para gadis terserang diabetes.

"S-selamat pagi, Kak Dana. Ayo, masuk, Kak," balas Sesya sembari mempersilakan lelaki itu masuk ke halaman rumah.

Setelah Sesya menutup kembali pintu pagar, Dana memberikan gadis itu sebuah kotak dari salah satu toko kue ternama di Bengkulu.

"Eh, Kak Dana kenapa repot-repot?"

Dana tersenyum kecil. "Gak apa-apa, Sesya. Itu namanya bolu koja, kue kesukaan aku."

"Eh, makasih banyak, Kak Dana," sahut Sesya.

"Oh iya, itu ibu kamu?" tanya Dana saat mereka berjalan ke pintu masuk.

Sesya menganggukkan kepala. "Mau disapa, Kak?"

"Boleh?"

"Bolehlah, Kak," Sesya terkekeh geli mendengar respon Dana yang terkesan polos, "masa gak boleh, sih. Ayo, Kak kita sapa bunda."

Lelaki itu lalu mengekori Sesya yang lebih dulu berjalan menuju Hanna yang sedang menyirami bunga-bunga yang baru ia tanam tadi.

"Selamat pagi, Bu," sapa Dana ramah sembari menyalami tangan Hanna.

GratiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang