Suasana di pinggir lapangan hari ini cukup ramai, banyak murid yang duduk menyantap jajanan sembari menonton pertandingan basket hari ini. Salah satunya adalah Sesya yang duduk di sebuah bangku panjang sembari memangku novel klasik berjudul 'The Little Prince'.
"Misi kedua, besok waktu jam istirahat Mama duduk di pinggir lapangan basket dan jangan lupa bawa novel The Little Prince," perintah Filo sembari mengaduk sup kimlo yang tersaji di depannya.
"Eh, pinggir lapangan basket? Ish, gak mau. Nanti aku kehantam bola basket lagi," tolak Sesya sembari memegang kepalanya.
Filo terkekeh kecil. "Enggak, kali ini aku jamin Mama gak akan kena bola basket lagi."
Meski sempat menolak, tetapi akhirnya Sesya menuruti demi masa depan yang lebih baik bersama Dana. Kali ini Sesya juga lebih berhati-hati, dia terus memperhatikan bola oranye itu agar tidak hinggap di kepalanya lagi.
Hingga waktu terus berlalu, pertandingan basket sudah selesai dan murid-murid yang sejak tadi duduk di pinggir lapangan, satu per satu bangkit dan menuju kelas masing-masing.
Sedangkan Sesya masih duduk di sana, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebab Filo tidak mengatakan apa-apa tentang misi kedua ini.
Gak kejadian apa-apa, tuh, batin Sesya lalu melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Sisa lima menit lagi bel masuk akan berbunyi.
Kelas selanjutnya adalah kelas biologi dan Sesya tidak boleh telat masuk. Setelah dilanda perasaan galau, akhirnya ia memutuskan untuk beranjak bangun dan hendak kembali ke kelas. Tiba-tiba ...
"Sesya?"
Suara bariton yang sangat familiar terdengar dari belakang. Secara otomatis Sesya membalikkan tubuh ke belakang. "Kak Dana?"
"Kamu dari mana?" tanya Dana sembari berjalan mendekati Sesya.
Sesya yang salah tingkah otomatis mundur beberapa langkah kecil ke belakang. "Eh, i-itu aku dari sini."
"Dari sini?" Dana menaikkan sebelah alisnya. "Oh, kamu nonton basket tadi?"
Sesya menganggukkan kepala. "I-iya, Kak karena ramai yang nonton jadi aku penasaran. Ternyata pertandingannya seru banget," sahut Sesya. Padahal ia sama sekali tidak menikmati pertandingan dan fokus menatap bola basket agar tidak menghantap kepalanya lagi.
"Oh, kamu baru pinjam novel dari perpustakaan, ya?" tanya Dana saat manik cokelat muda miliknya menangkap novel bersampul putih di tangan Sesya. "Aku lupa di halaman berapa, tapi ada bagian yang robek besar dan susah untuk dibaca."
Otak Sesya sudah bisa mencerna maksud dari misi kedua ini. "Kak Dana suka baca novel ini juga?"
"Suka, aku suka baca hampir semua novel klasik. Cuma sayang yang di perpustakaan rusak parah," jawab Dana sambil menggeleng-geleng. "Oh, iya kamu juga suka novel klasik?"
"Suka banget, Kak soalnya ayah punya banyak koleksi novel. Jadi dari kecil aku bacanya novel klasik dan novel ini ... aku bawa dari rumah, bukan punya perpustakaan," jelas Sesya.
Mata Dana berbinar mendengar cerita Sesya. "Keren! Aku juga bercita-cita punya perpustakaan di rumah yang isinya novel-novel klasik, tapi sekarang belum bisa. Karena harganya mahal, dan tahun depan aku masuk kuliah."
"Um ... kalau Kak Dana mau, aku bisa pinjamin Kak Dana novel punya ayah," tawar Sesya.
"Termasuk buku itu? Yah, karena aku masih penasaran sama bagian yang robek."
Tanpa pikir panjang Sesya langsung menganggukkan kepala. "Boleh, Kak."
"Thanks, Sesya, tapi kamu udah selesai baca? Kalau belum, aku bisa nunggu," tanya Dana memastikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Ficção AdolescenteApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
