Chapter-42 : Tumbuh Lebih Dewasa

187 21 1
                                        

Tahun telah berganti, tetapi jiwa Sesya tersangkut di masa lalu. Sulit untuk melupakan setiap momen ajaib yang terjadi. Terlebih ada teka-teki tertinggal yang belum mendapat jawaban.

Lagi-lagi atap sekolah menjadi tempat persinggahan. Berharap lelaki berkepala dua itu mengirimkan jawaban melalui angin yang berembus.

Namun, angan hanyalah angan. Realitanya Filo tidak akan kembali lagi dan meminta Sesya untuk mencari sisa kepingan puzzle melalui secarik kertas di balik buket bunga hyacinth ungu.

Roti bakar selai cokelat di tangan sudah tak lagi hangat. Rasa manis berubah hambar kala tiba di pengecap. Rindu memang menyiksa.

Krieet!
Suara derit pintu yang terbuka mengalihkan Sesya dari bayang-bayang Filo. Kepalanya menoleh ke belakang, melihat pemilik sepasang sepatu hitam yang sedang berjalan mendekat.

Seulas garis merekah di bibir tipis, dilengkapi dengan dua buah lesung pipi yang sempat menarik Sesya jatuh dalam perangkap pesonanya.

"Hai, Sya!" sapa Dana.

Tanpa permisi menjatuhkan bokong di sebelah Sesya. Ini pertemuan pertama mereka usai libur semester berakhir. Rasa canggung sedikit terasa sebab lama tak berjumpa.

"H-hai, Kak Dana!" balas Sesya. Roti bakar hambar di tangan telah kembali ke tempat semula.

"Lama gak jumpa. Kamu apa kabar?" tanya Dana membuka percakapan.

Sesya mengangguk. "Baik, Kak. Kak Dana apa kabarnya?"

"Aku juga baik, tapi harus lebih giat belajar. Sekarang sudah masuk ke semester dua, jadi aku gak bisa main basket atau baca novel lagi," jawab Dana seraya mengungkap isi hati. "Ini juga baru selesai latihan soal UN."

"Pasti berat, ya," komentar Sesya.

"Mau gimana lagi? Namanya hidup, pasti ada ujian. Masa saat Tuhan ingin menguji," sahut Dana lalu terkekeh kecil. "Kamu sendiri gimana, Sya?"

Dahi Sesya mengerut. "Apanya gimana, Kak?"

"Aku dengar dari anak-anak ternyata Arel sempat bully kamu karena dekat denganku. Itu benar?" tanya Dana.

Mulut Sesya tak langsung membuka dan memberi balasan. Sekian detik ia terdiam, mencoba tuk mencari-cari jawaban yang tepat. Sebab hal itu sudah berlalu lama meski menyisakan trauma.

"Gak apa-apa, kok, Kak. Arel udah janji gak akan gangguin aku lagi," sahut Sesya. Senyumnya merekah, seolah memberi arti jika saat ini ia baik-baik saja.

Dana mengulum bibir. "Aku minta maaf, karena aku baru tahu sekarang dan gak bisa membantumu padahal itu semua terjadi karena aku."

"Gak apa-apa, Kak. Kayak Kak Dana bilang, namanya juga hidup pasti ada ujian yang datang dari Tuhan," balas Sesya mencoba menetralkan suasana.

"Time flies so fast, ya." Dana terkekeh kecil. "Aku merasa kamu jauh lebih dewasa sekarang, Sya."

"Masa, sih?" Sesya terkekeh kecil.

"Beneran, Sya. Dulu waktu kamu marah denganku tentang pe-"

"Ish, jangan dibahas lagi! Aku malu!" potong Sesya seraya menyembunyikan wajah di balik telapak tangan.

Dana terkekeh kecil. "Oke, oke aku gak bahas soal itu hahaha tapi aku serius, Sya. Dulu kamu langsung lakuin silent treatment ketika marah, tapi sekarang kamu seperti ... bisa berdamai."

"Karena kata bunda, kalau ingin bahagia aku harus bisa ikhlas dan memaafkan orang-orang yang menyakiti hatiku," ucap Sesya seraya mengulum senyum tipis, "Dan kata Biru, komunikasi adalah kunci dari hubungan yang sehat."

"Aku senang kamu tumbuh sejauh ini, Sya," ucap Dana. Tangannya mengulur lalu menepuk-nepuk pelan puncak kepala Sesya.

Awalnya Sesya merasa terkejut. Namun, lambat laun ia menikmati tepukan itu. Dan ini juga karena Filo yang memberiku pengalaman menjadi seorang ibu, lanjutnya dalam hati.

***

Si empu apartemen memasang wajah datar begitu melihat seorang gadis berambut pirang tengah berdiri di depan pintu. Helaan napas berat lolos dari bibir Edo ketika Arel melempar senyum.

"Lama banget! Aku banjir keringat gara-gara kepanasan," protes Arel.

"Siapa suruh main gak bilang-bilang," balas Edo tak terima disalahkan.

Arel menggulir bola mata. "Dih, main ke apartemen sepupu sendiri ngapain bilang-bilang."

Edo tak menyanggah lagi. Mereka sudah mengenal sejak masih bayi dan ia hafal betul bagaimana kerasnya kepala Arel.

"Ayo, masuk ke rumah hamba yang sederhana ini, Tuan Putri!" ajak Edo. Ia membungkuk di ambang pintu, mempersilakan Arel masuk lebih dulu ke apartemennya.

Mata Edo menyipit ketika melihat celana jeans pendek sepaha serta kaos hitam oversize yang membalut tubuh Arel.

"Bolos lagi?" terka Edo sembari menuang air dingin ke dalam gelas.

Arel mengangguk dan menjatuhkan bokong ke atas sofa ruang tamu. "Aku malas ke sekolah hari ini. Gak ada yang seru."

"Lah, gebetanmu mana?" tanya Edo.

Muka Arel semakin kusut usai mendengar pertanyaan Edo. Alih-alih menjawab, ia justru menaikkan volume televisi sampai memekakkan daun telinga.

"Kecilin, Rel! Kamu mau diprotes sama Biru?" ancam Edo. Meski pun bukan warga Bina Bangsa, tetapi ia tahu jika Arel pernah menjalin hubungan dengan tetangganya.

Arel adalah satu-satunya sepupu Edo yang seumuran. Sifat yang saling bertolak belakang tak lantas membuat hubungan mereka jauh. Arel sesekali datang menemui Edo untuk sekedar bertukar cerita.

"Udah!" ucap Arel ketus lalu membanting remote televisi ke atas meja.

Sebagai lelaki yang selalu menjadi sasaran kekesalan Arel, Edo hanya bisa mengelus dada. Remote rusak masih bisa diperbaiki, tetapi jika tulangnya patah?

"Sekarang kenapa? Ditolak lagi? Kan udah biasa?" tanya Edo seraya menyindir.

"Aku udah nyerah," sahut Arel lalu menghempaskan diri ke sandaran sofa.

"Minum dulu," ucap Edo seraya memberi segelas air dingin pada Arel. "Kenapa malah nyerah sama yang ini? Udah capek?"

Arel menggeleng. "Gak ada kata capek dalam kamus kehidupan Arel Moretti. Aku cuma bingung kenapa aku gak pernah merasa bahagia."

"Mau jawaban jujur atau enggak?" tawar Edo.

"Jujur aja," jawab Arel malas.

Edo menarik napas panjang seraya mengatur kata agar tidak menyakitkan hati Arel terlalu dalam. Sebab mau bagaimana pun, Arel adalah bagian dari keluarganya.

"Aku terima semua omelanmu, karena aku mau bahagia," tambah Arel.

"Being a good person. I know kebaikanmu selama ini gak pernah diapresiasi oleh paman dan bibi, tapi orang lain di luar sana pasti bisa mengapresiasi kebaikanmu. Contoh nyata ada di depanmu," ujar Edo mencoba membuka mata hati Arel.

"Kau bilang begitu supaya aku gak jahatin Sesya lagi, kan?" tuduh Arel.

Edo mengembus napas kasar. "Ini gak ada hubungannya dengan Sesya. Aku bicara gini demi kebaikan kamu sendiri, cause you're my sister."

"Tetap aja aku gak cocok jadi orang baik," balas Arel tak mau kalah.

Kesabaran Edo yang tipis semakin menipis menghadapi Arel. Alih-alih menerima saran agar hidupnya bahagia, ia malah membantah.

"I give you a challenge, dan kalau kamu berhasil I'll give you anything," ucap Edo.

Mata Arel berbinar. "Beneran? Walaupun itu barang mahal?"

"Iya, tapi kamu harus berhasil lakuin challenge dari aku," sahut Edo.

"Oke, gampang. Apa tantangannya?" tanya Arel menantang.

Edo menarik sebelah sudut bibir ke atas. "Minta maaf sama semua orang yang pernah kamu jahatin dan bersikap baik selama seminggu."

"What?"

­-To Be Continued-

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang