Chapter-7 : Arel si Rambut Pirang

943 126 86
                                        

Seperti biasa, begitu jam istirahat berbunyi Sesya langsung buru-buru membereskan buku yang berserakan di atas meja lalu mengambil dua kotak bekal dari dalam tas dan bergegas naik ke atap. Untuk menaiki anak tangga, Sesya harus melewati deretan kelas IPS.

Biasanya tidak ada masalah, sebab SMA Bina Bangsa tidak memiliki siswa yang suka buat masalah baik anak IPA atau anak SMA. Jadi Sesya tidak perlu merasa takut, karena sekolahnya saat ini sangat berbeda dengan sekolahnya yang lama.

Namun, tampaknya Dewi Fortuna tidak berpihak pada gadis jangkung itu. Di tengah perjalanan, tiga orang perempuan keluar dari salah satu kelas IPS dan menghadang jalan Sesya.

Di sebelah kanan ada perempuan berisi dengan poni tebal dan rambut hitam pendek sebahu. Di sebelah kiri ada perempuan yang lebih kurus, berponi juga, tetapi memakai kacamata. Sedangkan di tengah ada perempuan yang lebih pendek dari Sesya, berambut pirang yang panjang sepunggung. Manik matanya menatap Sesya tajam dan membuat gadis itu menundukkan kepala secara otomatis.

"Kau Sesya, kan?" tanya gadis di tengah dengan name tag bertuliskan 'Arel Moretti'.

Dengan kepala masih menunduk, Sesya menganggukkan kepala. Meski suara Arel datar, tetapi entah mengapa rasanya sangat mengintimidasi.

"Oh ini bentukan perempuan yang mau nyaingin aku?" Arel melipat tangan di depan dada seraya menatap Sesya dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Dahi Sesya mengerut. Saingan dalam hal apa? Sesya saja baru hari ini melihat tiga gadis yang menghadang jalannya ini.

"Anak mana kau?" tanya Arel lagi.

"I-IPA satu," jawab Sesya terbata-bata.

"Dia anak pindahan, Rel," timpal gadis berisi dengan name tag 'Icha Naikara'.

Arel terdiam sesaat kemudian maju beberapa langkah ke depan, memangkas jarak antara dirinya dan Sesya. "Anak baru beraninya belagu, kau gak tahu Dana itu target aku!"

Mendengar nama 'Dana' disebut, sontak Sesya mendongakkan kepala. Target? Saingan? Dengan kapasitas memikir yang tidak cepat, sulit baginya untuk memahami.

"Tahu, tuh padahal satu sekolahan juga tahu kalau kak Dana tuh calon pacarnya Arel. Kau malah berani-beraninya dekatin calon orang. Dasar pelakor!" sahut si kacamata-dengan name tag Mina Siregar-mengompori.

Hati Sesya terbakar diberi cap sebagai pelakor. Padahal dialah yang akan menjadi pasangan Dana di masa depan ini. Kalau bukan karena takut dianggap halu, sudah Sesya katakan begitu di depan muka si kacamata. Lagipula baru calon pacar, belum sampai jadian.

"Gini aja, karena kau anak baru dan gak tahu apa-apa jadi hari ini kau aku maafkan, tapi ingat ..." Arel memajukan wajah dan semakin mendekat dengan Sesya, "kalau kau berani dekatin Dana lagi, aku jamin hidup kau sengsara!"

Setelah mengucapkan hal itu, Arel berlalu pergi sembari menabrakkan bahunya dengan bahu Sesya secara sengaja.

"Makanya jangan jadi pelakor," timpal Mina, si kacamata sambil mengekori Arel diikuti dengan Icha di belakangnya.

Namun, langkah Arel tiba-tiba berhenti. Ia memutar balik badan dan berjalan mendekati Sesya dan bertanya, "kau mau ke mana? Kantin bukan ke arah ini."

"M-mau ke atap," jawab Sesya dengan kepala kembali menunduk.

"Gak! Gak! Di atap ada Dana, balik kelas kau sekarang. Kami yang antar!" tegas Arel kemudian memberi kode pada kedua temannya untuk mengapir Sesya dan membawa gadis itu kembali ke kelas.

***

Jarum jam menunjukkan pukul tiga sore. Mentari masih bersinar dengan terik, ditemani dengan semilir angin yang berembus pelan. Sesya dan Filo baru turun dari bus, dan melangkahkan kaki berdampingan menuju rumah Sesya yang terletak tak begitu jauh dari halte bus tempat mereka turun.

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang