Keadaan lutut Sesya sudah membaik setelah diobati Filo kemarin malam. Pagi-pagi buta gadis bertubuh semampai itu sudah bergelut dengan aneka perbumbuan. Hari ini ia sudah berjanji akan memasakkan Filo nasi goreng yang sebelumnya Sesya berikan pada Dana.
Suara derit dari kursi makan yang ditarik mengalihkan atensinya dari sosis yang sedang ia potong. Helaan napas lega lolos dari bibir ranum gadis itu begitu melihat Hanna duduk di kursi dengan wajah setengah basah.
"Astaga, Bundaa. Bikin kaget ajaa," ucap Sesya seraya mengelus dada. "Sesya kirain tadi siapa pagi-pagi udah bangun."
"Harusnya bunda yang bilang gitu. Coba lihat jam berapa," balas Hanna.
Mata Sesya melirik jarum jam dinding yang tergantung di sebelah lemari piring, baru menunjukkan pukul setengah enam pagi. Biasa gadis itu bangun ketika mentari sudah muncul.
Sesya menyengir lebar. "Hehehe Sesya mau masak nasi goreng buat bekal nanti, Bunda."
"Tumben banget." Hanna beranjak bangun lalu mengintip berbagai bumbu yang disiapkan putri tunggalnya itu. "Biasanya juga minta masakin ke bunda."
"Ish, kali ini spesial, Bundaa. Makanya Sesya rela bangun pagi-pagi," jelas Sesya.
Wanita berambut panjang sepunggung menyunggingkan senyum menggoda. "Untuk Dana yang kemarin datang ke rumah, ya?"
"Ish, bukaaan!" bantah Sesya. Meski memang bukan untuk Dana, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan semburat merah yang muncul di pipi.
"Aduh, anak bunda sudah besar," goda Hanna sembari mencolek dagu anak gadisnya. "Mau bunda bantuin gak?"
"Gak usah, Bunda. Udah Bunda duduk manis aja di sana, sarapan hari ini biar Sesya yang siapin," ucap Sesya sera mendorong punggung Hanna untuk kembali duduk di kursi makan.
Hanna menurut, dia duduk seraya menompang kepala dengan tangan, memperhatikan punggung Sesya yang sedang fokus memasak.
"Ah, bunda jadi ingat masa muda dulu. Bunda waktu itu juga seperti kamu, dari yang gak bisa masak jadi suka masak karena makanan favori ayah masakan rumahan," cerita Hanna bernostalgia.
Sesya tersenyum kecil membayangkannya. "Terus, Bun? Reaksi nenek gimana, Bun?"
"Aduh, nenek kamu sampai bawa bunda ke pemuka agama karena dikira bunda kerasukan." Hanna tertawa kecil mengingat momen puluhan tahun lalu. "Dulu bunda persis banget seperti kamu, tiba-tiba bangun pagi terus masakin ayah nasi goreng. Padahal waktu itu ayah sama bunda belum jadian."
"Eh, jadi yang suka duluan bukan ayah?" tanya Sesya sembari menumis keluarga bawang dalam wajan.
Hanna menggeleng kecil. "Bunda sama ayah beda sekolah. Dulu bunda sering jajan di warung milik keluarga ayah, dan saat pertama kali lihat ayah di meja kasir, bunda jadi suka. Sejak saat itu, bunda makin sering belanja dan cari perhatian sama ayah. Aduh, malu-maluin banget kalau bunda ingatnya."
"Enggak juga, Bun." Sesya tersenyum kecil. "Sesya justru iri karena percintaan Bunda berjalan lancar kayak jalanan tol."
"Itu kan yang kamu lihat dan kamu dengar, Sayang. Aslinya ayah sama bunda juga ngelewati masa-masa sulit," jelas Hanna.
"Masa, sih, Bun?"
Hanna tersenyum lembut. "Namanya hubungan wajar jika terjadi masalah, karena kita memiliki sifat dan jalan pemikiran berbeda. Justru harus khawatir kalau dalam hubungan gak ada hal yang diributkan."
"Terus kalau berantem gimana, Bun? Masa harus putus hubungan," tanya Sesya lagi.
"Komunikasi, karena komunikasi adalah pilar dalam hubungan dan kalau itu gak berjalan baik maka hubungan menjadi goyah," jawab Hanna membuat Sesya terdiam.
***
Berbeda dengan hari biasa, kali ini Sesya tidak menghabiskan waktu istirahatnya di atas atap. Dia dan Filo duduk di belakang gedung sekolah yang jarang dilewati seraya menikmati nasi goreng hasil racikan tangan Sesya.
Selain karena kaki Sesya masih terluka dan tidak bisa naik tangga. Gadis itu masih trauma atas kejadian kemarin dan tidak berani melewati kelas Arel. Dia takut kalau nanti bertemu dengan gadis itu dan dua dayang-dayangnya.
"Gimana nasi gorengnya? Enak gak?" Mata Sesya berbinar menanti komentar Filo. "Aku sengaja bangun pagi-pagi, lho buat masakin kamu."
Filo tersenyum kecil seraya mengunyah nasi goreng yang baru masuk ke dalam mulut. "Um ... ini enak, tapi Mama lupa masukin garam, ya?"
"Eh, masa sih?" Dahi Sesya mengerut lalu memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut. "Enak, kok. Aku ada masukin garam."
"Oh iya, Mama kan gak suka makanan asin," ucap Filo lalu terkekeh kecil. "Masak telur aja gak ditambahin garam, karena takut keasinan. Pasti nasi goreng ini, garamnya dikit banget, kan?"
Tebakan Filo 1000% benar. Sesya bukan penikmat makanan asin, dan dia selalu takut jika masakan buatannya keasinan. Itulah mengapa dia hanya menambahkan secuil garam ke dalam nasi goreng.
"Eh, jadi ini hambar banget, yaa?" Muka Sesya menekuk.
Dengan berat hati Filo mengangguk. "Tapi enak kok, Ma. Aku suka."
"Bukan itu, kemarin aku juga kasih nasi goreng ke kak Dana. Pasti hambar juga kayak nasi goreng ini, malah kemarin aku lupa masukin garam," cerita Sesya dengan wajah hampir menangis. "Malu tahuu! Kak Dana juga malah bilang enak-enak aja lagi."
Kalau itu bukan ibunya sudah pasti tawa Filo pecah. Namun, dia tidak mau dikutuk jadi batu jadi lelaki itu berkata, "it's okay, Ma. Better hambar daripada keasinan."
"Iya sih, tapi tetap aja aku malu." Sesya memajukan bibir bawahnya.
"Hm, gimana kalau nanti aku ajarin masak nasi goreng? Orang tua Mama pulang jam 9, kan?" tanya Filo.
"Iya sih, tapi ...." Sesya sengaja menggantungkan kalimatnya.
Kedua alis Filo naik, menanti Sesya melanjutkan kalimatnya yang menggantung. "Tapi apa, Ma?"
"Itu ... sebenarnya nanti malam aku mau pergi," jawab Sesya ragu-ragu.
"Sama orang tua Mama?" tanya Filo lagi.
Sesya menggeleng. "Bukan, tapi sama ... sama ... Biru." Suaranya semakin mengecil ketika mengucapkan nama Biru.
Raut wajah Filo seketika berubah ketika mendengar nama Biru. Rahangnya mengeras seolah tidak suka mendapati fakta jika Sesya akan pergi ke luar dengan Biru.
"Kamu mau ke mana sama Biru?"
"K-kamu?" Sontak Sesya melayangkan pukulan ke tangan Filo. "Gak sopan! Mama, panggil aku mama bukannya kamu. Siapa yang ajarin, sih."
Filo mengelus tangannya yang perih. Meski perempuan, tenaga Sesya tidak main-main. "Iya, iya. Jawab pertanyaanku, Ma."
"Gak mau, ah nanti kamu ikutin lagi," tolak Sesya seraya memotong telur dadar di dalam kotak bekal. "Lagian ini urusan remaja, orang dewasa kayak kamu gak boleh tahu."
"Tetap aja, aku ini anak Mama," tegas Filo bersikeras.
Sesya memajukan bibir bawah dan menggulir bola mata malas. "Gak nyambung tahu! Ya udah deh kalau kamu penasaran banget aku bakalan kasih tahu. Jadi ... nanti malam aku mau pergi sama Biru untuk ketemu ... Edo."
-To Be Continued-
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Fiksi RemajaApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
