Chapter-14 : Biru Buka Suara

684 111 85
                                        

Embun pagi terlihat di atas dedaunan hijau di pinggir jalan. Angin pagi berembus terasa sangat menyejukkan. Mentari masih malu-malu menunjukkan eksistensinya dan bersembunyi di balik awan.

Batu kerikil berbunyi saat diinjak oleh seorang lelaki bertubuh tidak terlalu tinggi. Rambutnya diatur rapi, serapi seragam putih abu-abu yang membalut tubuh.

Di tangan kanan terdapat kantung plastik bewarna hitam, berisi makanan kucing. Sebelum masuk gerbang sekolah, lelaki itu membelokkan tubuh ke gang kecil yang berada tepat di sebelah sekolah.

"Meow! Meow!" Beberapa ekor kucing langsung mendekat ketika Biru sampai.

Lelaki itu jongkok lalu membuka plastik hitam itu lebar agar para kucing dapat memakannya dengan nyaman. "Makanlah yang banyak."

Benar kata Jicko jika Biru lebih menyukai kucing daripada manusia. Buktinya hanya di depan kucing, lelaki berbibir tipi situ bisa menyunggingkan senyumnya yang langka.

Usai memberi makan kucing liar seperti biasa, Biru baru masuk ke gedung sekolah. Berjalan menyusuri koridor, menuju kelasnya yang berada di ujung koridor.

Pintu kelas terbuka lebar. Ada yang tiba lebih dulu daripada Biru. Namun,sudah biasa. Kalau bukan Biru yang tiba lebih dulu maka Cindy-lah penghuni pertama.

Suasana canggung menyelimuti ketika Biru menjatuhkan bokong ke atas kursi-dulunya kursi Sesya-. Cindy mau keluar juga tidak bisa, sebab dia duduk di dekat dinding. Jika mau keluar harus melewati Biru lebih dulu.

"Kau yang coret meja Sesya, kan?" Biru angkat suara.

Cindy melirik dari ekor mata. "Sok tau!"

"Hari waktu meja Sesya dicoret, kau orang yang pertama datang dan saat aku datang mejanya udah kecoret," jelas Biru dengan tatapan lurus ke depan.

"Dari aku datang, mejanya udah kecoret. Jadi jangan sok tau!" balas Cindy membela diri.

"Lalu kenapa diam saja waktu Sesya tanya?" tanya Biru tak mau kalah.

Cindy memutar bola mata malas. "Suka-suka aku mau jawab atau enggak, itu hak-ku. Sama seperti sekarang, aku punya hak untuk jawab atau tidak pertanyaanmu yang gak penting itu."

Helaan napas berat lolos dari bibir Biru. Lelaki itu memilih menutup mulut dan tidak membalas apa-apa lagi. Sadar jika berbicara dengan Cindy adalah perbuatan sia-sia dan membuang waktu.

Lebih baik Biru memejamkan mata, memasuki alam mimpi dan mengisi energi. Membiarkan gadis itu untuk ikut menenangkan diri setelah berapi-api memarahi Biru.

Kalau boleh jujur, Biru sedikit terkejut saat dibentak oleh gadis pendiam seperti Cindy. Sebab sebelumnya tidak ada yang berani membentak Biru, Jicko sekali pun tak akan berani.

Berani juga dia, batin Biru takjub.

"Bilang aja kau sebenarnya suka sama Sesya, kan? Makanya sengaja cari masalah denganku," tuduh Cindy tak beralasan.

Biru diam saja, tak membalas.

"Aku betul, kan? Kalau bukan karena suka, gak mungkin kau segininya belain Sesya. Kita sekelas dari SMP dan aku tau betul gimana sifat seorang Albiru Kawakibi," lanjut Cindy sebab tak ada balasan dari Biru.

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang