Dalam keranjang bewarna biru yang sama seperti namanya penuh dengan perlengkapan rumah tangga. Hari ini adalah hari pertama Biru resmi tinggal di apartemen, sendiri.
Selain lebih dekat dengan sekolah, ia lebih senang tinggal sendiri di apartemen dibandingkan tinggal sendiri di rumah yang luasnya tidak jauh berbeda dengan ukuran lapangan sepak bola di stadion.
Orang tua Biru sering berpindah-pindah dan kini sedang menetap di luar negeri. Biru adalah anak tunggal dan saat ini sedang dalam fase move on sebab diputuskan secara sepihak oleh kekasihnya.
Tak ada yang tahu alasan pasti mengapa perempuan itu memutuskan Biru. Ia hanya berkata jika Biru terlalu baik dan ia tidak suka.
"Totalnya 285 ribu." Suara bariton dari penjaga kasih membuat Biru tersadar dari lamunan.
"Iya," sahut Biru seraya merogoh saku, mencari dompet, tapi tak dapat. Laki-laki itu lalu mengobrak-abrik isi ransel, tetapi nihil.
Pintu kaca swalayan terbuka keras, terlihat seorang perempuan berambut pendek masuk dengan napas menggebu-gebu seolah baru berlari jauh.
Biru dan penjaga kasir melihat dengan alis menekuk. Perempuan itu berseragam sama seperti Biru, dan name tag di bagian dada bertuliskan Cindy Putri Katarina.
Biru baru sadar jika perempuan itu adalah Cindy, perempuan yang duduk dengan anak baru di depannya.
"Ini dompetmu," ucap Cindy menyodorkan dompet kulit bewarna hitam setelah menetralkan deru napas.
Pupil mata Biru melebar. Itu benar dompetnya yang sedari tadi ia cari-cari.
"Tadi jatuh di kelas, aku gak sengaja ketemu waktu lagi nyapu di mejamu," jelas Cindy.
Senyum tipis terulas di bibir Biru seraya menerima dompetnya. "Terima kasih. Kamu mau minum? Aku traktir."
Lanjut ke karya karsa : bileikha
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Novela JuvenilApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
