Bagi beberapa orang, keluarga adalah rumah. Namun, untuk sebagian lain keluarga bukanlah rumah, tempat di mana mereka pulang dan melepaskan penat. Salah satunya adalah Edo yang masih berkelana.
Rumah besar di pinggir hutan pinus penuh dengan memori saat ibunya masih hidup. Namun, Edo memilih pergi dan tinggal sendiri di sebuah apartemen sederhana di pusat kota.
Hari ini Edo akan kembali ke tempat yang mereka sebut sebagai rumah. Untuk menghadiri pertemuan keluarga besar yang rutin diadakan tiap sebulan sekali.
Kaki Edo menginjak lantai lobi. Kedua netranya menangkap sosok gadis yang tampak tak asing tengah duduk di sofa. Rambut hitam tergerai dan dress bewarna putih membalut tubuh rampingnya.
Sebuah senyum manis merekah di bibir Edo. Ia segera berjalan mendekati gadis itu. "Halo, Cantik!"
Gadis itu menoleh. Tubuh Edo membeku, terpukau melihat penampilan Sesya hari ini. Pipinya merona merah karena make up. Senada dengan polesan lipstick di bibir ranumnya.
"Ish, jangan dilihatin gitu! Aku malu tahu!" larang Sesya seraya menyembunyikan wajah di balik telapak tangan.
Edo kembali ke dunia nyata. "Ini pertama kali aku lihat kamu pakai dress dan make up. It's so amazing."
Pujian Edo membuat pipi Sesya semakin merona merah. Ia tak merasa sia-sia memakai baju yang jarang dipakai dan meminjam riasan wajah milik Hanna.
"M-makasih," ujar Sesya pelan. Nyaris tak terdengar.
"Aku yakin yang lain pasti iri lihat kecantikanmu," puji Edo. Masih belum terbiasa melihat penampilan Sesya hari ini.
"Ish, kebanyakan becanda kamu!" seru Sesya.
Edo menggeleng. Rahangnya mengeras. "Aku lagi gak becanda, Sya. Kali ini aku serius."
"Iya, iya terserah kamu aja, deh," sahut Sesya cepat. Tidak aman bagi jantungnya jika terus menghadapi Edo.
"Just kidding!" Edo tertawa kecil. Berbanding terbalik dengan wajah Sesya yang berubah kusut. "Sorry, habisnya kamu lucu banget pas lagi malu-malu."
Kepalan tangan Sesya mendarat kuat di lengan Edo. "Ish, nyebelin banget tahu!"
Edo tertawa sembari mengelus lengannya. "Sorry, Sya. Tapi aku serius kalau kamu hari ini bener-bener cantik."
"Ya aku kan gak mau bikin kamu malu, makanya aku dandan dikit," ucap Sesya. Bibir bawahnya maju ke depan.
"Kamu pakai celana jeans sama kaos putih aja, aku gak akan malu bawa kamu. Karena penampilan itu gak penting," ujar Edo.
"Eh, siapa bilang penampilan itu gak penting?" balas Sesya tak terima.
"Aku." Edo menunjuk dirinya sendiri. "Because it's your heart that matters."
***
Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari setengah jam, akhirnya Sesya dan Edo tiba di sebuah rumah besar di dekat pepohonan pinus. Mata Sesya terpukau melihat desain interior khas Cina itu.
"Ini rumah kamu?" tanya Sesya begitu kaki yang dilapisi flat shoes bewarna putih menginjak halaman rumah Edo.
Edo mengangguk seraya tersenyum. "Lebih tepatnya rumah masa kecilku. Tempat yang penuh dengan kenangan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gratia
Teen FictionApa yang akan kamu lakukan jika ada seorang lelaki datang dan mengaku jika dia adalah anakmu dari masa depan? Awalnya Sesya tidak percaya, tetapi setelah Filo menunjukkan bukti yang telah ia siapkan perlahan membuat Sesya percaya mengatakan dan lulu...
