Chapter-9 : Hai, Cindy!

782 126 49
                                        

Ibu mana yang tidak panik saat anaknya tidak pulang ke rumah tanpa memberi kabar apa pun. Begitu juga Sesya yang langsung menuju atap saat bel istirahat berbunyi. Ia bahkan sampai lupa membawa kotak bekal yang sudah disiapkan pagi tadi.

Napas Sesya memburu begitu sepasang kaki jangkungnya menginjakkan lantai atap. Filo yang sedang berbaring lantas berubah duduk sembari menatap Sesya dengan dahi mengernyit.

Tap! Tap! Tap!

Suara langkah Sesya serta kedua alis yang menekuk tajam membuat Filo menelan ludah samar. Paham kalau saat ini ibunya sedang berkamuflase menjadi singa betina.

"M-ma, kenapa?" tanya Filo menyungging senyum canggung.

"Ish, nanya lagi kenapa. Kamu tuh kenapa? Ke mana aja semalaman gak pulang ke rumah? Aku tuh khawatir banget, tahu!" ucap Sesya berapi-api.

Alih-alih menjawab, Filo malah terkekeh kecil sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku ada keperluan semalaman. Jadi aku balik ke masa depan."

"Eh?" Amarah Sesya luntur seketika. "Kamu semalam balik ke masa depan?"

"Iya, aku balik ke masa depan," jawab Filo sembari menganggukkan kepala.

"Ish, kok gak ajak-ajak aku, sih? Aku kan juga mau jalan-jalan ke masa depan," protes Sesya.

Filo tertawa renyah. "Maunya gitu, tapi gak bisa. Perjalanan lintas waktu butuh energi yang besar dan bikin Mama kehabisan energi. Sedangkan hari ini Mama harus sekolah."

Bibir bawah Sesya otomatis maju ke depan usai mendengar jawaban Filo. Sirna sudah harapan jalan-jalan ke masa depan dan melihat keluarganya di sana.

"Gimana progress misi kedua? Mama ke sini mau ngasih tahu progress-nya, kan?" terka Filo yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Sesya.

"Bukan, aku datang ke sini, karena mau cariin kamu dan tanya kamu ke mana semalam," jelas Sesya kemudian menjatuhkan bokong di sebelah Filo.

Kedua sudut bibir Filo naik ke atas setelah mendengarnya. "Thanks udah khawatir sama aku."

"Aneh! Buat apa bilang makasih karena aku khawatir? Harusnya minta maaf karena bikin aku khawatir." Sesya mencebikkan bibir.

"Oke, oke," Filo terkekeh kecil, "sorry bikin Mama khawatir. Jadi gimana misi kedua?"

Sesya menghela napas. "Ya belum ada progress apa-apa. Membaca kan butuh waktu, mungkin kak Dana juga butuh waktu lebih buat baca novel itu."

"Iya, benar," Filo mengangguk setuju, "ayah memang pembaca yang super lambat. Beda banget sama Mama yang bisa baca buku super tebal dalam beberapa jam saja."

Filo benar, saking sukanya membaca novel Sesya jadi terbiasa membaca dalam waktu yang cepat. Bahkan novel ratusan halaman bisa habis dalam setengah hari. Namun, soal Dana ...

"Aku baru tahu tentang itu, kamu kok bisa tahu tentang kak Dana segitu banyaknya, sih?" tanya Sesya.

"Karena aku anak-"

"Iya, aku tahu kamu tuh anaknya kak Dana dan hm ... aku, tapiiii kok bisa tahu sebegitu banyaknya? Aku aja gak tahu banyak soal ayahku," potong Sesya.

Adam, ayah Sesya lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah demi mencari uang untuk memberi kehidupan layak bagi keluarga kecilnya. Sehingga hubungan Sesya dan ayahnya tidak seakrab itu.

"Itu karena aku akrab dengan ayah," jawab Filo.

"Aku iri." Sesya mendesah berat. "Aku sama ayah gak akrab, karena dia rajin banget kerja. Katanya demi aku, padahal aku lebih suka kalau ayah kerja secukupnya dan habiskan waktu lebih banyak bersama aku dan bunda."

GratiaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang