Di meja makan, Zavian duduk sambil membuka satu persatu rantang dari Bu Nire, lalu memindahkan kuah gulai sekalian mengambil potongan ayam untuk dia taruh di piringnya bersama sedikit nasi hangat.
"Yah, nasinya hampir kaya bubur. Ma, Vian belom bisa bikin nasi yang bener kaya punya Mama ternyata."
Namun, selepas monolognya, Zavian segera melahap suapan demi suapan supaya perutnya berhenti bergemuruh. Ia benar-benar menikmati makan malamnya hari ini, meskipun dia tidak lagi duduk bersama Sarona, biarpun dia tidak lagi bercerita soal apa saja dengan Sarona, sekarang semuanya sudah serba sendiri.
"Ma, masakan Bu Nire ternyata lebih enak dari masakan Mama," Vian bicara lagi, padahal mulutnya masih dipenuhi makanan, "Tapi, Vian tetep kangen masakan Mama."
Di sela kunyahannya, Zavian sempat terlonjak saat Lazuar tiba-tiba menarik kasar dirinya hingga dia kepayahan berdiri.
"Papa. Vi—Vian masih makan—"
"—ngga peduli!" Lazuar berteriak, mendadak Vian jadi gemetar, "Bisa-bisanya kamu makan setelah kelakuan ngga sopanmu itu?! Gimana kalo mereka semua mikir kamu ngga diasuh dengan baik di sini?! Hah?! Mau kamu keluar dari rumah ini, terus jeblosin Papamu sendiri ke penjara?! Seneng kamu bisa bebas?!"
"Papa. Vi—Vian kan cuman makan—"
"—ngebantah terus!" Lazuar pun kini mencengkeram salah satu lengan Vian kuat-kuat, ia biarkan anak itu meringis kesakitan, "Emang sepele, tapi bisa aja bikin orang-orang mikir yang engga-engga!"
Sayangnya, Zavian masih tidak mengerti maksud Lazuar memarahi dirinya hanya karena dia kabur ke ruang makan setelah Bu Nire berpamitan tadi.
Apakah sesalah itu?
"Kamu itu udah tujuhbelas tahun, masih aja kaya bocah tujuh tahun!"
Zavian diam, tapi dia masih berusaha melonggarkan cekalan Lazuar dari lengan kurusnya, ia sudah meronta ke sana kemari, tetap saja tenaganya tak sebanding. Maka, dia hanya bisa mencicit, "Mama—Mama, Papa ja—jahat."
"Jangan manggil Mamamu terus! Mamamu itu udah ngga ada!"
Seketika itu, Zavian mendelik—dia tidak pernah percaya orang-orang yang mengatakan kalau ibunya sudah tiada, walaupun dia ingat sekali dua minggu lalu dia menaburkan bunga di atas gundukan tanah bernisan 'Sarona Amartana'.
"Papa bohongin Vian, kan? Tiap malem, Mama tidur di kamar Vian—"
"—Anak Setan!"
Hardikan Lazuar barusan turut menyentak Zavian, dia masih berada di ambang keraguan tentang kenyataan pahit ini; yang enggan ia percayai, yang sukar ia terima. Namun, saat Zavian sibuk mengenang ibunya, dia justru didorong ke lantai, sekarang dia hanya bisa menatap wajah murka Lazuar dari bawah sini.
"Bisa-bisanya kamu lupa?! Oh, atau kamu pura-pura lupa? Kamu mau akting biar dikasihani orang-orang? Hah? Iya?!" Lantas, Lazuar berjongkok, secepat kilat juga ia menyatukan rahang Zavian menggunakan tangan besarnya, "Denger, ya. Udah cukup kamu nyusahin dengan keterbelakangan mentalmu ini, jangan sampe kamu juga jadi gila!"
Zavian terengah saat Lazuar membanting wajahnya. Kemudian, dia buru-buru beringsut mundur saat tongkat baseball itu muncul dari balik punggung Lazuar. Zavian panik sebab dia sudah hafal setiap kali ada benda tumpul ini, maka punggung, dada, perut, tangan, dan kakinya akan berakhir dalam pesakitan.
"Papa," Zavian memanggil dengan nada sarat memohon belas kasih, "Vian minta maaf, Pa, Vian minta maaf."
Namun, Lazuar justru semakin emosi hanya dengan melihat tatapan memelas anaknya, hingga dia mengayunkan tongkat baseball sekeras-kerasnya menuju bahu kanan Zavian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mimosa [✓]
General FictionJUDUL SEBELUMNYA [SORROWFUL MISERY] Zavian tidak bisa memilih dia akan terlahir di keluarga siapa dan dalam keadaan bagaimana, tapi takdir Tuhan ternyata suka sekali bermain dengannya. Ia dibenci semua orang hanya karena dia tidak beruntung. Di usia...
![Mimosa [✓]](https://img.wattpad.com/cover/324505555-64-k578858.jpg)