38; disalahkan

798 67 3
                                        

Pertemuan terakhir untuk tim cerdas cermat perwakilan SMAN 65 yang dianggotai Callice, Zavian, dan Kalia. Wilis hanya berpesan agar mereka cukup istirahat dan tidak perlu terbebani. Biar begitu, membawa nama baik sekolah tetap jadi prioritas mereka untuk menang nanti. Mungkin, yang berpikir demikian hanya Callice dan Kalia, sedangkan Zavian sudah masa bodoh sebab dia hanya senang selama bisa menjawab pertanyaan dan menyelesaikan soal hitungan.

Namun, setelah Kalia berpamitan, ternyata hanya Zavian dan Callice yang tertinggal di Perpustakaan sini. 

Karena Callice tidak betah membuat hubungan buruk dengan Zavian, dia berinisiatif untuk mendului dengan mendekat ke sana. Tapi, Zavian justru reflek berdiri sambil memeluk tasnya erat-erat.

“Ngapain? Jangan deket-deket Vian.”

Callice maklum, dia pandangi wajah Zavian yang sudah membaik setelah dilukai Liyas, lalu bergumam, “Gue cuman mau minta maaf. Sori, Vian. Gue juga mau bilang, kalo sebenernya lo ngga salah. Liyas juga bilang sori. Lo mau maafin kita berdua, kan?”

Zavian mengerjap, dia memang diam, tapi matanya bergerak liar ke mana-mana.

Callice akhirnya mengesah, tidak bermaksud menyerah begitu saja, “Kalo kita kaya gini terus, ntar pas lomba besok ngga kompak, dong. Kita tetep bisa temenan, tapi Vian jaga jarak sama gue. Vian ngerti, kan?”

Zavian justru merasa tidak terima, padahal tak dipungkiri dia juga rindu berinteraksi dengan Callice, “Vian ngga mau dipukul lagi. Mending Callice yang jangan deketin Vian. Kata El, Vian ngga boleh deket-deket Callice,” Lantas, dia terus menerus menoleh ke ambang pintu, jaga-jaga bila Liyas tiba-tiba muncul dari sana.

“Vian tega jahat sama gue, ya?”

Zavian spontan mendelik, “Vian ngga jahat.”

“Vian tega diemin gue gini ternyata.”

Zavian menggeleng cepat, “Vian ngga diemin.”

Lantas, Callice tidak bisa menyembunyikan tawanya, “Masa, sih? Jahat, soalnya Vian ngga mau deket-deket gue lagi. Padahal gue sama Liyas udah minta maaf, kan kemaren Vian liat sendiri Liyas udah ngga marah-marah.”

“Ya kan kemaren karna ada Kalia.”

Callice memang tampak seperti sedang playing victim, tapi dia sanggup melakukan apa saja untuk merebut atensi Zavian lagi.

“Ya udah, deh. Semangat besok lombanya, ya!”

Zavian membasahi bibir, merasa gugup seketika saat Callice lewat tepat di depannya. Belum sempat dia memberi balasan, gadis itu berbalik lagi; ada senyum yang mendebarkan hatinya, ada kerlingan yang sempat dipujinya cantik, dan ada pipi gembil yang ingin dicubitnya gemas. Tapi, Zavian tahu diri untuk terus mengingat pesan Elvan, dia jadi mundur teratur.

“Kalo menang, gue traktir apa kemaren makanan kesukaan Vian—”

“—pao. Pao manis, yang isinya keju kalo ngga cokelat.”

“Nah, itu. Ye, padahal yang katanya mau nraktir kan Vian—”

“—Vian mau, tapi ngga mau kalo nanti dipukulin.”

Callice terkekeh, meski masih bersisa rasa bersalah yang menyusupinya, “Kan kalo gue ijin dulu, Liyas pasti ngga marah. Soalnya, yang kemaren itu, dia salah paham, salah sangka aja.”

“Oh,” Zavian pura-pura mengiyakan, “Kalo gitu, ngga seharusnya langsung main pukul, kan? Ada pasalnya, loh. Kan itu termasuk main hakim sendiri.”

Ketika Callice tertegun, Zavian sudah berlalu pergi.

***

“El dateng! El dateng! Yey!”

Mimosa [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang