18; memendam iri

929 88 3
                                        

"Bapak gimana, sih?"

Daru tidak menyalahkan bila Elvan muncul di depannya sambil berkacak pinggang begini, jadi dia hanya meringis tak enak hati, "Tadi Vian udah Bapak titipin ke Pak Idwan. Terus, tadi Bapak juga udah laporan ke pengelola wisata biar manggilin Vian pake pengeras suara—"

"—udah tau Vian ngga normal, suka tiba-tiba belok ngga peduli apapun kalo ada yang narik perhatiannya, mana iya-iya aja kalo diajakin orang asing karna dia udah asik sama dunianya sendiri," Elvan frustasi, sudah lebih dari tigapuluh menit mereka semua belum menemukan Zavian di areal seluas ini, "Terus, gimana sekarang?"

Daru menghela napas, memang seharusnya dia tidak meninggalkan Zavian tadi sehingga kini dia jadi begitu menyesal, "Kita keliling lagi. Masih ada satu jam sebelum tempatnya tutup, kok. Pasti Vian juga ngga jauh dari sini, pasti dia cuman lagi menyendiri di suatu tempat gitu—"

"—tau dari mana?" sengit Elvan, sudah lupa bahwa pria berumur di hadapannya ini adalah seorang guru, "Ya udah, deh. Aku cari dulu ke pelosok-pelosok sana."

Kemudian, Elvan tinggalkan Daru, sementara dia memisahkan diri dari beberapa teman-temannya yang bersedia meneriakkan nama Zavian, padahal sebagian besar dari mereka lebih tak peduli dan malah merutuk kesal. Elvan memungkiri bahwa ia khawatir terhadap Zavian, dia hanya tahu resiko apa yang harus dia hadapi jika Zavian tak kembali ke rumah hari ini dan parahnya benar-benar hilang di sini. Kalau sesuatu terjadi pada anak kedua bundanya itu, dia yang bisa disalahkan mati-matian.

Alhasil, Elvan sampai di belakang pelataran Candi Borobudur, ia menghindari keramaian seolah tahu isi pikiran Zavian, ia menjauhi hal-hal monoton seakan tahu apa keinginan Zavian—dia yakin seribu persen bahwa ada sesuatu yang menarik Zavian tadi.

"VIAN! LO DI MANA, SIH, ANJING?!"

Seusai berteriak demikian, Elvan pun menurunkan kedua tangan yang tadi ia bentuk serupa corong, nyatanya tak begitu mempengaruhi produksi suaranya. Ia hampir menyerah sebelum mendapati dua punggung yang mengenakan rompi sekolahnya ada di ujung sana. Mereka melangkah menuju pedesaan dengan sawah di samping kanan kiri, entah menuju ke mana jalan setapak itu.

Demi apapun, Elvan yakin pemuda yang sedang dirangkul itu adalah Zavian.

"Liyas?"

Elvan menggeleng sejenak saat kaki-kakinya bergerak semakin maju hingga memudahkannya untuk mendapati sosok Liyas di sebelah Zavian. Ia pun berlari menyusul mereka, sesekali tersandung, beberapa kali hampir terjatuh, tapi dia berhasil sampai di belakang mereka.

"Mau ke mana?"

Seketika, Zavian dan Liyas menghentikan langkah mereka. Jika Zavian tampak girang saat menemukan Elvan, maka Liyas justru terang-terangan menunjukkan raut kecewanya begitu mendapati Elvan.

"El!" Zavian memekik, saking senangnya, lantas dia buru-buru memindah diri agar bersanding dengan Elvan, "Udah mau pulang?"

Elvan mengangguk sekali, "Semua orang nyariin lo. Bentar lagi kita balik Jakarta, tau."

"El," Zavian melirih, begitu pelan hingga tak mampu didengar Liyas, "Tadi Vian mau diajakin liat danau. Itu beneran apa boongan?"

Elvan melirik Zavian, baru mengernyit saat Liyas mencebik sambil mengedik—spontan mendeklarasikan bila ia tak tahu apa-apa. Jadi, Elvan mencari kejelasan di sini, "Lo mau nyasarin Vian, ya?"

"Ngga," Liyas membalas tegas, "Gue emang mau ngajakin dia liat-liat doang."

"Urusan kita kan selese semalem, Yas," Elvan merujuk pada insiden di mana mereka bersenang-senang menjahili Zavian di kamarnya, "Setelah itu, anak ini ada dalam pengawasan gue seutuhnya."

Mimosa [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang