“Vian udah tidur, Laz?” tanya Lucy setelah melempar tasnya ke sofa, tapi Lazuar belum juga memberi jawaban, “Laz? Vian ngga papa, kan?”
Lazuar, yang masih sibuk melepas jaket, hanya mengangguk sekilas, “Kamu baru dateng udah mikirin Vian. Kalo Sasta sama Jafar denger, gimana perasaan mereka coba? Aku kan jadi ngga enak, Lucy. Maksudku, jadi serba salah gitu.”
“Sasta sama Jafar udah pada gede, mana normal lagi. Harusnya mereka bisa belajar dewasa dengan cara kaya gini, ngga semua hal harus tentang mereka. Aku ngajarin berbagi—”
“—berbagi gimana?” sambar Lazuar, mendadak sengit, “Jelas-jelas kamu berat ke Vian. Ibu aja tadi ngomong ke aku.”
“Mami bilang apa aja?” Alhasil, Lucy mendekat, sedikt banyak dia merasa kasihan telah membebani Lazuar dan Zavian dengan perubahan yang terjadi di hidup mereka; semacam konsekuensi yang tidak bisa ditolak, seperti resiko yang terus mengejar. Lantas, dia memijit bahu tegang suaminya, “Mami bandingin kamu sama mendiang suami aku? Mami ngatain Vian sumber masalah? Aku udah hafal, Laz. Kamu sabar-sabar aja, ya? Semua ini pasti berlalu, kok. Terus, yang penting, kamu jangan nimpain semuanya ke Vian, dia ngga tau apa-apa.”
“Tapi, hasilnya bakal beda kalo aku ngga punya anak autis kaya Vian—”
“—mulai,” Lucy pun berhenti, seketika melengos, “Aku ngecek Vian dulu, deh.”
Lazuar memandangi kepergian Lucy yang berjalan menuju kamar Zavian, lagi-lagi meninggalkannya bersama rasa tidak pantas yang makin mendera; persoalan tentang Zavian, masa lalu tentang Sarona, dan kenyataan baru yang dia hadapi sekarang—semua itu menuntutnya terus menerus.
Sementara itu, Lucy sampai di lantai dua dan segera mengetuk pintu kamar Zavian.
“Vian? Tante boleh masuk, ya?”
Karena tidak ada sahutan, Lucy pun memutuskan untuk mendorong pintu kamar yang kuncinya sengaja dia simpan—ya, supaya Zavian tidak berpikiran untuk mengurung dirinya, persetan dengan privasi memang. Namun, kamar ini gelap gulita, tidak ada siluet Zavian sejauh matanya memandang. Lucy jadi panik, dia lebih panik saat dengar suara isakan campur sedu sedan dari salah satu sudut.
Di sana, di bawah tirai sana. Maka, Lucy segera menekan saklar dan cahaya lampu menerangi seisi kamar—menunjukkan di mana tepatnya Zavian menangis sendirian.
Lucy segera menghampiri anak tirinya, ia tidak sadar sudah berlari untuk berjongkok di hadapan Zavian yang memeluk lutut sambil membenamkan wajah itu.
“Vian. Vian Sayang. Vian kenapa?”
Tutur kata lembut itu malah memanaskan dada Zavian—dia tidak suka wanita ini berpura-pura menyamakan diri seperti ibunya. Karena ada anggapan seperti itu, Zavian pun melampiaskan kekesalannya dengan menunjukkan seberapa rapuh dirinya sekarang, seberapa sembab matanya, dan seberapa sakit hatinya—kepada Lucy.
“Hidup Vian ngga guna. Vian ngga ada gunanya hidup.”
Lucy membolakan sepasang matanya begitu Zavian mendesis demikian; ada penekanan dalam suara itu, ada pesakitan dalam nada itu, yang dia tak sangka akan terlontar dari bibir berbentuk hatinya.
“Siapa yang bilang gitu?” Lucy berinisiatif memeluk Zavian, tapi yang dia dapat justru tampikan kasar, “Vian. Kenapa?”
“Gara-gara kamu! Gara-gara kamu, Papa bisa bilang gitu ke Vian! Coba kalo Papa ngga nikah lagi, Vian ngga akan denger omongan jahat Papa! Coba kalo Vian ngga pindah ke sini, Papa ngga akan malu di depan Omanya Kak Sasta sama Kak Jafar! Vian kan ngga tega liat Papa direndahin gitu! Vian mau hidup Vian yang dulu!”
Tantrum. Zavian mulai susah dikendalikan. Dia berdiri, menghentak kaki-kakinya dan mondar-mandir lagi. Lucy sudah pernah mendapati situasi seperti ini sebelumnya, dia juga bisa mengatasi itu, sendirian. Namun, malam ini, tidak bisa. Kekacauan yang Zavian timbulkan mungkin akibat luka-luka yang sudah lama ia pendam. Sekarang, Lucy biarkan saja apapun yang anak itu lakukan di kamar ini, ia hanya akan diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mimosa [✓]
Fiction GénéraleJUDUL SEBELUMNYA [SORROWFUL MISERY] Zavian tidak bisa memilih dia akan terlahir di keluarga siapa dan dalam keadaan bagaimana, tapi takdir Tuhan ternyata suka sekali bermain dengannya. Ia dibenci semua orang hanya karena dia tidak beruntung. Di usia...
![Mimosa [✓]](https://img.wattpad.com/cover/324505555-64-k578858.jpg)