Gerbang sekolah sudah dipenuhi siswa-siswi yang berhamburan untuk segera sampai di rumah. Beberapa saling merangkul, beberapa lagi saling melambai, sampai akhirnya mereka memisahkan diri.
"Sampe besok di Perpus lagi, Vian!"
Zavian hanya menunduk begitu Callice berseru lantang, dia lebih memilih memandangi ujung sepatunya. Ada tiga detik jeda baru Zavian berani mendongak, ia malah menemukan Liyas ternyata berdiri di samping Callice. Entah mengapa, Zavian merasa tidak nyaman padahal dia hanya tak sengaja tersenyum pada ungkapan Callice barusan.
"Wah! Yas, liat ngga Vian senyumin aku?"
Liyas memutar bola matanya, tapi dia tetap tersenyum, "Kalah sama senyum aku?"
"Yah, aku ngga maksud bandingin senyum kalian, tau."
Lantas, Zavian buru-buru memalingkan wajah saat Liyas terang-terangan mendekatkan badan Callice kepada dirinya sendiri. Demi apapun, dia hafal tatapan itu—tatapan yang dijuruskan ketika kehadirannya tidak disukai.
"Lo dijemput?"
Zavian mengerjap saat Elvan tiba-tiba berdiri di sebelahnya. Dia sudah lupa terkait persitegangan mereka di kelas tadi, entah bagaimana dengan Elvan yang masih merasakan sesal sudah bicara seenak jidat.
"Lo budek, ya?"
Zavian akhirnya menyahut, meski harus tergagap, "I—iya. El mau pulang bareng Vian?"
Sebelum Elvan membalas, Liyas berdeham lebih dulu, sorot matanya masih mengunci gerak-gerik Zavian yang kelimpungan bersikap, "Gue sama Callice duluan, ya," Kemudian, dia gamit jemari Callice, sejenak menyadari ada kernyitan heran dari wajah Elvan, "Yuk, Cal. Kita ke parkiran."
Callice menurut, tapi langkah-langkah Liyas bertempo cepat sehingga dia tidak sempat mengatakan apa-apa lagi pada Elvan dan Zavian sebelum menghilang dari sana.
"Kan udah gue bilang, ngga usah lah lo deket-deket Callice."
Zavian pun bergumam serupa cicitan, "Vi—Vian ngga deketin Callice. Callice yang mau temenan sama Vian."
"Percuma juga, lo pasti ngga bakal ngerti apa itu aturan-aturan sosial kalo lagi kasmaran."
Kali ini, Zavian memiringkan kepalanya, "Maksud El apa? Vian ngga paham."
"Lo pernah suka cewe?"
Zavian tahu kini kedua pipinya pasti berpias karena malu, lalu dia menggeleng, "Ngga tau."
"Lo pernah ngga suka liat seorang cewe deketan sama seorang cowo selain lo?"
"Ngga tau," Zavian lagi-lagi menggeleng, sekarang dibarengi dengan kedikan bahu, "Vian ngga tau, El."
Elvan jadi berkesimpulan, Zavian memang belum pernah melalui itu semua. Mau dia jelaskan seperti apapun, rasanya juga tidak akan sampai ke nalar mantan tetangganya ini. Mau dia jabarkan poin-poin detilnya pun, rasanya juga tidak akan mendapat atensi dari teman sekelasnya itu.
"Emangnya autis yang udah seumuran lo bisa ngerasain jatuh cinta—dih, apa banget bahasa gue? Awas, ya. Pokoknya, lo jangan sampe suka sama Callice."
Zavian mengedip beberapa kali, merasa bingung harus membalas apa sampai ada klakson mobil dibunyikan, rupanya Lucy ada di bangku kemudi sana. Wanita berparas menawan itu segera menurunkan kaca jendela, ia amati Elvan dan Zavian secara bergantian.
"Hai, El. Vian pasti kangen pulang pergi sekolah sama kamu, deh."
Elvan buru-buru mengubah dirinya ke mode manusia paling penuh sopan santun, senyumnya terkembang lebar, "Hai, Tante. Iya, kayanya. Mau jemput Vian, ya? Ya udah, kalo gitu aku juga mau ke parkiran, mau ambil motor, sekalian pulang juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mimosa [✓]
General FictionJUDUL SEBELUMNYA [SORROWFUL MISERY] Zavian tidak bisa memilih dia akan terlahir di keluarga siapa dan dalam keadaan bagaimana, tapi takdir Tuhan ternyata suka sekali bermain dengannya. Ia dibenci semua orang hanya karena dia tidak beruntung. Di usia...
![Mimosa [✓]](https://img.wattpad.com/cover/324505555-64-k578858.jpg)