Setelah melewati para tamu yang hanya menyapa Sasta dan Jafar—karena Zavian tentu tidak seterkenal mereka berdua untuk mendapat sambutan dari bawahan-bawahan Lucy itu—mereka bertiga pun sampai di toilet khusus laki-laki.
"Kamu bisa sendiri, kan?"
"Dih, kamu," Jafar mengejek Sasta, lantas terpingkal geli sendiri, "Kalo ngga bisa, mau lo bantuin?"
"Bacot bener lo, Far."
Zavian tidak menggubris mereka, dia malah begitu saja berlalu ke salah satu bilik.
"Percuma lo baik-baikin bocah autis gitu, mana ngerti dia?" Jafar kini bersedekap, ia sengaja memperkeras suaranya, "Tuh, buktinya, lo ngga dianggep."
"Ya udah, sih. Namanya juga nyoba, lumayan nambah ilmu," Sasta akhirnya mencuci tangan di wastafel, baru bercermin sebentar, "Padahal muka gue ngga serem, kan, ya?"
Zavian dengar semua ocehan saudara-saudara tirinya itu, tapi dia berusaha tidak peduli. Dia tahu mereka membicarakannya, jika Lazuar tahu ia bersikap begini—mungkin dia bisa babak-belur lagi. Zavian berusaha mencerna nada suara kakak kembarnya itu, memang hanya didominasi ketidaksukaan.
"Lo katanya kebelet."
"Kaga," Jafar berdeham sambil merapikan tuksedonya, ikut berdiri berdampingan dengan Sasta di depan cermin yang memantulkan sosok mereka, "Jadi, lo cuman pura-pura?"
"Lo bisa kecilin suara lo ngga?"
Maksud Sasta, sebodoh-bodohnya Zavian sebagai anak autis, dia pasti bisa mensinyalir ketidakberesan di obrolannya dengan Jafar.
"Biasanya anak gitu tau mana yang tulus mana yang kedok, doang."
"Ssh, kenceng amat, ntar kedengeran," desis Sasta, sambil melirik pintu bilik tempat Zavian buang air kecil, "Urusan gue itu. Pokoknya, sekarang gue ngga ada masalah sama dia."
"Serah, deh. Gue ngga ikutan, ye."
Menurut Jafar, dengan menunjukkan apa yang dia ingin tunjukkan jauh lebih baik dari pada memasang topeng seperti Sasta, kan?
Sekian menit berlalu, Sasta dan Jafar hampir kesemutan sambil menggerutu—apa yang membuat Zavian begitu lama di dalam sana. Zavian sudah selesai dari tadi, dia hanya tidak punya keberanian untuk menghadapi orang-orang yang sudah jelas membenci keberadaannya. Namun, sebelum dia mendapat ketukan dan malah memperkeruh keadaan, ia putuskan untuk keluar.
"Lama bener, dah. Lo pipis apa berak?"
Sasta terburu menyikut rusuk Jafar, lantas dia sendiri mendekat pada Zavian, "Udah? Yuk, balik. Ditungguin yang lain, soalnya."
"Iye, ntar dikira kita ngapa-ngapain lo lagi."
Zavian memang tidak tahu mereka membisikkan apa saja tadi, tapi aura keduanya tampak tak jauh beda, sehingga ia jadi kikuk sekarang.
"Heh, Far! Kok lo nyelonong duluan, sih?"
Jafar akhirnya berhenti melangkah, lalu berseru acuh, "Ya abis lama amat, kaya adegan slow motion aja. Buru, deh. Gue laper."
"Tungguin, dong. Kan Vian masih malu ama kita."
Zavian sempat menghela napas sebelum berjalan mendului Sasta dan Jafar, ia masih bungkam.
"See? Adek lo, tuh, Sas."
"Berisik. Nyesel gue nungguin."
"Well, kalo mau ngatain di sini aja, Sas, jangan di sana."
Kemudian, keduanya berlalu menyusul Zavian dengan pikiran masing-masing—satu, terang-terangan antipati, satu lagi, masih berupaya menyabarkan diri.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Mimosa [✓]
General FictionJUDUL SEBELUMNYA [SORROWFUL MISERY] Zavian tidak bisa memilih dia akan terlahir di keluarga siapa dan dalam keadaan bagaimana, tapi takdir Tuhan ternyata suka sekali bermain dengannya. Ia dibenci semua orang hanya karena dia tidak beruntung. Di usia...
![Mimosa [✓]](https://img.wattpad.com/cover/324505555-64-k578858.jpg)