31; bersikap semestinya

737 85 0
                                        

"Udahlah, maklumin aja. Kenapa, sih?"

Jafar masih memberengut, padahal sudah ia selipkan rokok di belahan bibirnya, lantas mendecih pada ungkapan Sasta barusan, "Gue bisa beli lagi emang, tapi itu bocah udah lancang, Sas. Ngga bener, mana dibelain Mama. Anjing emang."

"Ya namanya kepo, lagian mental dia emang bermasalah."

Kali ini, Jafar reflek menoleh, "Jadi, menurut lo wajar aja? Jadi, menurut lo harus didiemin?"

"Terus, lo ngga mau ngalah? Lo maunya apa?"

"Ngga tau," Jafar mengedik, "Gue pengennya dia ngga ada di rumah ini. Lo bantu cari cara buat ngusir dia, deh. Kayanya kita perlu bikin Mama benci sama itu anak."

Sasta jadi spontan tertawa, "Kocak bener. Mana bisa gitu? Lo tau sendiri gimana Mama ke Vian, udah kaya anak bungsunya. Ya susah lah."

"Makanya," Jafar mengesah, "Kita bikin itu anak ngga betah, terus dia minta pindah rumah, beres, kan?"

"Terus, lo mau Nyokap lo ikutan pindah?"

"Duh," Jafar merutuk sambil menepuk keningnya, "Kalo gitu, apa mending laporan ke Oma, ya?"

"Najis, dasar tukang ngadu, tukang cepu."

Jafar pun berdecak, lalu berdiri dari ayunan yang mereka duduki berdua, "Males gue, Sas. Semua rencana gue lo patahin semua."

Alhasil, tanpa pikir panjang, Sasta pun menuruti Jafar, ia tekan speed dial nomor tiga di ponselnya, nomor Helma.

"Halo, Oma? Lagi apa, Oma?"

Kini, Jafar kembali duduk mensejajari Sasta, tidak menyangka kembarannya mau menuruti pintanya dalam sedetik. Lalu, ia dengar balasan dari seberang sana karena mode panggilan diubah loudspeaker.

["Oma lagi siram-siram taneman aja, Sas. Tumben kamu nelpon, kenapa? Ada masalah, ya? Sehat-sehat, kan?"]

Sasta melirik Jafar sebentar sebelum membalas, "Oma, soal terakhir kali itu, Mama belom minta maaf ke Oma, ya?" Seketika itu, Jafar menyikut rusuknya dan ia bisa baca gerak bibir saudaranya tersebut—"ngapain bahas itu, sih?" Tentu saja, ia abaikan.

["Oma ngga terlalu ambil pusing, Sas. Mama kamu udah nelpon Oma, kok. Terus, kalian baik-baik aja, kan?"]

Mereka sama-sama tahu bahwa pertanyaan Helma barusan merujuk pada bagaimana Lazuar memperlakukan keluarga ini. Karena pria itu memang tidak menimbulkan masalah apa-apa, jadi si kembar pun menjawab jujur.

"Mm, okay aja, Oma. Sebenernya, yang ganggu kita itu, anak bawaannya Om ini."

Sasta buru-buru menjauhkan ponselnya saat Jafar seenak jidat menyambar demikian. Namun, secepat kilat, Jafar malah merebut paksa ponsel Sasta agar berada dalam genggamannya.

"Mm, gimana, ya? Oma, masa action figure-ku dirusakin semua sama anak itu."

Sasta menggeleng beberapa kali, baru bisa menyusul Jafar yang berdiri menghadap kolam renang.

["Nakal banget. Tuh, dibilang juga apa? Anak itu pasti bisanya ngerepotin aja, terbukti, kan?"]

Ketika Sasta berdecak, Jafar membentuk seringainya.

"Mama belain anak itu dibanding anaknya sendiri, makanya Oma ke sini, dong."

***

Malam semakin larut, tapi Zavian tetap meghadap meja belajarnya, padahal semua PR sudah selesai, semua materi sudah dibaca ulang, tapi dia masih berkutat dengan berlembar-lembar kertas penuh coretan pena ini. Beberapa kali, ia melamun, mendadak mengulang setiap momennya saat Sarona masih ada.

Mimosa [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang