43; kincir angin

830 66 8
                                        

Setelah kereta sampai di tujuan, Zavian terburu berlari keluar mendului Yusril tanpa mengucapkan apa-apa. Karena badan renta dan gerak terbatas Yusril yang sudah di bilangan tujuhpuluh sekian, ia jadi sulit mengejar Zavian. Di antara desakan penumpang di gerbong sini, jejak Zavian benar-benar sudah luput dari pengawasannya.

“Ya ampun, apa ngga papa dia, ya?”

Namun, Zavian berhasil sampai di luar stasiun, dia luar biasa kecewa begitu mendapati hujan deras memenuhi pandangannya. Jadi, dia berteduh di bawah kanopi, di dekat para pedagang kaki lima, dan obrolan mereka yang sebagian besar didominasi kata-kata kasar. 

“Dingin,” gumam Zavian sambil merapatkan jaketnya, “Anginnya kenceng.”

Setiap suhu udara menurun drastis, Zavian selalu pilek. Sekelebat memori tentang bagaimana Sarona selalu melarangnya keluar rumah saat ada hujan atau angin adalah karena dia begitu rentan terhadap cuaca dingin. Ketika peristiwa menyakitkan itu terjadi, Zavian ingat seberapa bersikerasnya dia melarikan diri dari Sarona—yang terus menerus menyuruhnya berhenti memacu langkah di tengah hembusan angin dan guyuran hujan. Sesalnya bermuara sampai hari ini sebab dia tak sekalipun menoleh ke belakang.

“Dingin,” gumam Zavian, lagi, kini matanya mengarah ke ujung sepatunya, “Ujan deres.”

“Aku ini suami kamu, Sar! Aku bilang berapa kali, anak ini cuma bisa nyusahin dan ngerepotin kita! Harusnya, dari dia telat ngomong dulu aja, kita ngga perlu mertahanin dia! Aku mana tega liat kamu terus-terusan disiksa sama dia? Aku mana sanggup liat kamu selalu nurutin mau dia?”

Sarona menggeleng berulang pada penekanan Lazuar barusan, “Mas, ngurusin ABK emang sesusah ini, aku tau konsekuensinya, aku tau resikonya, dan aku emang mau nge-keep Vian apapun yang terjadi. Jadi, kalo Mas pake alesan ngga tega dan ngga sanggup liat aku—yang menurut Mas, dicaci maki dan diinjek-injek Vian—biar aku sama Vian yang keluar dari rumah ini aja!” Ia pun berakhir meloloskan emosinya, “Vian masih anak-anak, Mas. Masih sepuluh tahun. Biarpun dulu dia telat bicara dibanding batita seumuran dia lainnya, tapi di umur segini dia udah menang banyak lomba, kok. Dia buktiin dia bisa. Terus, aku juga rutinin dia terapi. Aku harap, nanti kalo aku udah ngga ada, Mas tetep lanjutin terapinya Vian—”

“—ngga ada gimana?!” Lazuar menyambar, di sela amarahnya jelas masih terkandung rasa iba sebab dia tak pernah mampu membentak istrinya. Jika bukan karena Zavian, dia yakin tidak akan ada pertengkaran seperti ini di antara dia dan Sarona. Jadi, dia berbalik sebentar sambil mengusap wajahnya sekali, “Kamu tetep di sini, biar anak itu yang pergi!”

“MAS!”

Zavian, yang sejak tadi mengintip dari lantai atas, mengerjap bingung. Tapi, dia tetap bersimpuh di lantai, diam tak melakukan apa-apa selain memandangi kipas angin yang terus berputar itu—dia suka semua benda yang berputar.

“Terus, Mas mau aku taroh Vian di panti asuhan gitu? Oh, atau Mas mau aku tinggalin Vian di jalanan? Kalo aku kaya gitu, aku bukan seorang Ibu, namanya. Aku ngga pantes dipanggil Mama.”

“Sar,” Akhirnya, Lazuar melunak, ia raih kedua tangan Sarona dengan menunjukkan wajah memelasnya, “Aku mau kita hidup bahagia. Kalo ternyata tanpa anak itu hidup kita bisa bahagia, kenapa ngga?”

“Ya ngga mungkin lah, Mas. Mana bisa aku bahagia tanpa Vian? Kalo Mas mungkin-mungkin aja karna Mas ngga pernah setitik pun sayang ke Vian. Asal Mas tau, Vian tau dia dibenci sama Mas, tapi dia tetep sayang Mas.”

Zavian masih bergeming, tatapannya yang tak pernah bisa fokus hanya bisa fokus menghadap sesuatu yang berputar—seperti kipas angin di depannya ini. Karena dia mendadak penasaran, jadi dia menyelipkan jemarinya ke dalam sana, sehingga seusai dia memekik keras-keras, darahnya bercucuran.

Mimosa [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang