Jam istirahat dan seperti janji Renja, ia akan mentraktir makan siang untuk Zavian. Jadi, ketika semua murid berhamburan keluar kelas sekalian berlomba ke kantin, Renja pun sigap merangkul Zavian yang baru saja akan beranjak dari bangkunya.
"Vian mau makan apa? Eh, sekarang udah ngga bawa bekal, kan? Iya, soalnya yang bawain bekal kan udah ngga ada, ya?"
Zavian mengerjap, tapi omongan Renja barusan justru melayangkan ingatannya pada sosok Sarona; yang memang setiap pagi selalu membawakannya sekotak bekal. Kemudian, Renja setengah menarik Zavian hingga mereka berjalan bersama di koridor. Zavian berkali-kali celingukan, sengaja mencari keberadaan Elvan.
"El mana?"
"Ngapain nyariin tetangga lo? El kan ngga peduli sama lo. Dia justru seneng bisa nitipin lo ke gue, soalnya dia bisa bebas bentar dari tanggung jawabnya. Ngerti?" bisik Renja dan ia yakin Zavian mendapati seringainya, "Ngga usah takut. Ngga akan gue pukulin kaya terakhir kali, kok. Kan gue bilang mau nraktir lo."
"El aja, Vian mau sama El."
Zavian akhirnya memberontak, serta merta ia berhasil meloloskan diri dari lengan Renja yang terkalung di lehernya. Namun, dengan satu cekalan erat, Renja mengembalikan badan kurus Zavian hingga tatapan mereka tertumbuk lagi.
"Nurut, dong."
Zavian, seperti biasa, selalu enggan memandang manik mata lawan bicaranya, "Ngga mau. Vian kenyang."
"Dih, lo kan belom makan apa-apa."
Zavian menggeleng, kini berusaha melonggarkan cengkeraman kuat Renja di pergelangan tangannya, sementara laki-laki yang lebih tinggi darinya itu terus mengejar bola matanya yang bergerak-gerak liar.
"Vian ngga mau sama Renja. Vian cuman mau sama El."
"El itu ninggalin lo, buktinya dia ngilang duluan," tekan Renja, kesabarannya mulai habis sebab Zavian semakin melawan titahnya sekarang, "Ikut gue aja," Alhasil, tanpa perlu mengulur waktu lagi, Renja segera memaksa Zavian agar mengikuti langkahnya hingga mereka sampai di kantin.
"Vian ngga suka rame-rame, Vian mau sendirian!"
Renja berdecak setelah teriakan Zavian barusan mengundang tatapan dari seluruh pengunjung kantin. Dia biarkan Zavian mengamuk, tapi dia tetap mendudukkannya di salah satu meja. Zavian tentu sukar bergerak sebab Renja menekan kedua bahunya. Dia menjadi panik karena orang-orang di kantin mulai menujukan atensi padanya.
"Makanya, diem, deh. Lagian, mana ada orang yang ngga suka ditraktir, sih? Kalo lo ngga nurut, gue sama yang lain, bisa ngulangin apa yang kita lakuin tempo hari, yang bikin lo nangis kejer, yang bikin lo kesakitan. Mau? Kalo ngga mau—"
"—Ren, masih aja lo gangguin Vian."
Renja berbalik saat mendapati Callice—gadis berambut sebahu dan berlesung pipi ini muncul di sebelahnya sambil bersedekap angkuh. Dia mendengus sebelum menyahut remeh, "Mentang-mentang waketos, lo mau mensejahterakan sekolah ini, ya? Oh, lo mau memberantas pembuli kaya gue? Cal, gue ngga gangguin Vian, tau. Gue cuman mau ngajakin dia makan bareng—"
"—tapi, Vian kan nolak, kenapa lo masih maksa?"
Renja akhirnya melirik Zavian, dia tersenyum saat menemukan wajah itu tampak begitu ketakutan, "Lo bisa nyimpulin gitu gara-gara Vian keringetan tiap deket gue?"
Callice mengangguk begitu saja, baginya Zavian menunjukkan ekspresi jujur bahwa dia tidak suka berdekatan dengan Renja, "Keliatan jelas. Lo aja yang buta, Ren."
Renja kembali melirik Zavian, dia berpura-pura kecewa saat wajah itu sengaja dipalingkan darinya, "Duh, karna ada Callice, Vian jadi berani ngacuhin gue, nih."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mimosa [✓]
Ficción GeneralJUDUL SEBELUMNYA [SORROWFUL MISERY] Zavian tidak bisa memilih dia akan terlahir di keluarga siapa dan dalam keadaan bagaimana, tapi takdir Tuhan ternyata suka sekali bermain dengannya. Ia dibenci semua orang hanya karena dia tidak beruntung. Di usia...
![Mimosa [✓]](https://img.wattpad.com/cover/324505555-64-k578858.jpg)