28; pertama kali

805 84 6
                                        

Ruang makan yang biasa hanya diisi Lucy, Sasta, dan Jafar, kini tidak lagi sesepi sebelum Lazuar dan Zavian bergabung. Lazuar duduk di sebelah Lucy, sementara di hadapan mereka ada Jafar, Sasta, dan Zavian yang duduk berdampingan. Sarapan pagi ini disiapkan para pelayan, berupa pancake berlumur cokelat dan segelas susu almond. Karena Zavian cukup asing, dia sejak tadi hanya bisa mengagumi perubahan super istimewa yang begitu mendadak ini.

"Sasta sama Jafar ada kelas?" tanya Lazuar, membuka obrolan sambil berusaha mengakrabkan diri dengan anak-anak kembarnya, lalu ia dapat dua anggukan, "Mau Om anter?"

Zavian terpekur sejenak—dia saja tidak pernah diperlakukan demikian, tapi kenapa kakak-kakak tirinya ini bisa mengambil hati papanya?

"Ngga usah, Laz. Mereka kalo ngga dianter supir, ya biasa bawa mobil sendiri, kok," Lucy buru-buru menyahut, tapi matanya malah terarah pada Zavian yang belum menyentuh makanannya sama sekali, "Vian, kenapa? Ngga suka, ya?"

Zavian reflek mendongak, karena teringat dengan wanti-wanti Lazuar yang selalu menyuruhnya untuk menjaga sikap, dia jadi menggeleng penuh sopan santun.

"Ma, Vian kemaren hampir tenggelam."

Sasta menyerobot begitu saja, sehingga Zavian kembali mengulum kalimatnya.

"Loh, kok bisa? Terus?" Lucy seketika menunjukkan raut panik, "Tapi, Vian ngga papa, kan?"

Maka, Zavian mengangguk sekali.

"Kan ada anak klub pecinta alam, Ma," Sasta sengaja melirik Jafar yang masih asik mengunyah, "Ditolongin Jafar, kok."

"Terus, udah bilang makasih?"

Zavian menegak seketika saat suara keras Lazuar menginterupsi lamunannya, jadi dia mencicit, "Belum sempet."

"Bilang sekarang."

Lucy mengesah, lalu menyikut rusuk Lazuar sambil berbisik lirih, "Jangan bikin Vian takut gitu, udah dibilangin."

Namun, Zavian segera mematuhi titah Lazuar, sayangnya dia tidak punya nyali untuk menengok ke arah Jafar, jadi dia bergumam sambil memandangi piringnya, "Ma—makasih, Kak."

Ini pertama kalinya, Zavian melafalkan kata 'kak' di depan nama seseorang setelah seumur hidupnya dia menjadi anak tunggal.

Karena semua orang tampak sedang menunggu responnya, Jafar jadi terpaksa menyuarakan sesuatu, "Sama-sama."

Meski pendek dan singkat, Zavian lega masih ada balasan dari Jafar.

Kemudian, Jafar meneruskan suapan-suapannya, baru menyudahi santapan pagi ini dengan menyilangkan pisau dan garpu di atas piring, "Aku berangkat, ya."

"Lah. Buru-buru amat," Sasta berujar sambil mencegah Jafar mendorong kursinya ke belakang, "Tungguin, bareng gue aja."

"Lo lama."

"Dih. Kaga ini udah," Sasta pun terburu meneguk susu di gelasnya sampai habis tak bersisa, baru beranjak dari duduknya, "Kita berangkat, ya."

"Ati-ati, ya. Jangan ngebut. Emang yang nyetir siapa?"

"Jafar."

"Sasta."

Si kembar kompak mengucap satu nama bersamaan, Lucy sampai harus menggeleng heran.

"Ya udah, siapapun yang nyetir, kudu ati-ati. Nanti Mama tf uang bulanannya."

"Yes!" Sasta dan Jafar pun menukar tos, kegirangan, "Makasih, Ma!"

Selanjutnya, Zavian menerima satu tepukan di bahu dari Sasta, tapi dia hanya dapat lirikan tajam dari Jafar. Lucy tersenyum sumringah saat Sasta dan Jafar menghampirinya untuk cium tangan, tapi keduanya tidak berpamitan sampai seperti itu terhadap Lazuar—dan tidak ada yang memaksa mereka untuk melakukannya.

Mimosa [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang