Demi apapun, Zavian kesulitan bernapas sekarang. Secara mendadak, dia kepayahan menggapai udara dan kelimpungan menenangkan diri. Di antara orang-orang yang mengerubunginya ini, dia paling jelas melihat sosok Elvan dan Callice. Sebelum akhirnya Yatno datang untuk membubarkan mereka.
"Vian bisa denger Bapak?" Yatno menyuruh anak-anak didiknya agar menjauh supaya dia bisa leluasa menepuk pipi sekalian mengurut dada Zavian, "Sesek, ya? Coba oksigen kali, ya? El, El, tolong ambilin tabung oksigen yang di UKS."
Elvan tahu Yatno memintanya secara spontan sebab yang paling menonjol di kerumunan ini adalah dirinya. Karena tidak mau dianggap sebagai murid pembangkang, dia pun segera berlari sesuai perintah Yatno barusan. Sementara Zavian masih terlentang menghadap langit, ia benar-benar tidak tahu mengapa memori-memori itu bisa membuatnya jadi begini, padahal dia hanya ingat soal ayahnya—soal Lazuar. Sembari menunggu Elvan kembali, Callice berjongkok di dekat Zavian, tidak peduli bahwa ada tatapan tajam dari Liyas.
"Vian tenang aja, Vian jangan panik. Ngga papa ini. Makin panik makin sesek. Jadi, tenang biar napasnya enak. Ya?"
Zavian diam, tapi dia menuruti saran Callice. Pertama, dia lupakan bayang Lazuar dari benaknya. Kedua, dia hanya memikirkan hal-hal yang selama ini membuatnya senang. Namun, di tengah semua itu, dia justru seketika sesak saat hari di mana ia kehilangan Sarona muncul begitu saja.
"Lama bener, sih, El. Tetangga lo sekarat gitu."
Renja menyambut kedatangan Elvan, meski tak bersambut. Sedikit banyak dia juga heran karena ini perdana Zavian benar-benar tidak berdaya—untungnya, bukan karena dia. Begitu Elvan menyerahkan oxygen can ke Yatno, dia berjongkok mensejajari Callice, sementara Renja diam-diam memperhatikan reaksi Liyas—yang menguarkan aura penuh dendam itu.
"Nah, Vian. Sekarang, kamu hirup ini pelan-pelan, ya."
Zavian mengangguk kecil saat Yatno menempelkan ujung oxygen can ke hidung dan mulutnya, lantas dia hirup udara yang keluar dari tabung saat Yatno menekan bagian atasnya. Sekian detik berlalu, Zavian mulai merasa paru-parunya bisa kembang kempis dengan normal, pun dengan jantungnya yang tidak melulu berdentum sekeras tadi. Ia membaik.
"Udah enakan?"
Zavian bernapas sebentar, merasakan setiap tarikan dan buangan ini bisa dengan mudah ia lakukan seperti biasa, "U—udah."
"Bener? Jangan bohong, ya."
Zavian mengangguk lagi sehingga Yatno berhenti mendesak. Bukan hanya Yatno yang mengesah lega, tapi Callice, Elvan, dan bahkan Renja pun demikian, termasuk anak-anak lain yang sempat mengira Zavian akan pingsan. Mungkin kecuali Liyas yang buru-buru berbalik, tapi dia berhenti saat Yatno memanggilnya.
"Yas, minta maaf dulu."
Setelah berdecak, Liyas akhirnya terpaksa memenuhi titah Yatno. Demi reputasi dan imajinya, dia harus mengulas senyum sekarang. Ia perhatikan sejenak Zavian yang sudah terduduk dengan bantuan Elvan dan Callice—ya, pacarnya itu kini terang-terangan berada di sisi Zavian.
"Sori, ya, Vian. Gue ngga ngira pukulan gue cukup keras ternyata," Liyas melirik sekilas pada Callice, justru dia sama sekali tidak menengok pada Zavian, "Udah, Pak?"
Yatno mengangguk, baru membolehkan Liyas pergi. Kemudian, dia sendiri berdiri dan harus menyudahi kelas olahraganya hari ini.
"Karena ada insiden, mending kita ketemu lagi minggu depan, ya."
Tentu saja sebagian besar dari mereka bersorak, gembira sebab masih ada banyak jam kosong setelah ini.
Kini, tersisa Elvan, Callice, Renja, dan Zavian yang masih menetap di tempat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mimosa [✓]
General FictionJUDUL SEBELUMNYA [SORROWFUL MISERY] Zavian tidak bisa memilih dia akan terlahir di keluarga siapa dan dalam keadaan bagaimana, tapi takdir Tuhan ternyata suka sekali bermain dengannya. Ia dibenci semua orang hanya karena dia tidak beruntung. Di usia...
![Mimosa [✓]](https://img.wattpad.com/cover/324505555-64-k578858.jpg)