14; urung melangkah

856 90 9
                                        

"Seneng lo?"

Jafar mengedip lambat, dia hanya mengedik saat Sasta bertanya demikian.

"Secara ngga langsung, lo udah bikin sedih Nyokap lo sendiri. Iya, dia yang selama ini ngerawat lo dari bayi ampe jadi mahasiswa gini."

Sebelum Sasta berbalik, Jafar menahannya dengan satu cekalan di tangan itu, baru berbisik lirih, "Gue lakuin ini demi kebaikan lo juga, Sas. Gue cuman mau nyegah hal-hal buruk yang berpotensi ngancurin hidup kita di depan nanti—"

"—omongan lo sama kaya Oma tadi, kalian janjian?" Sasta pun menyentak pegangan Jafar, lantas mendengus remeh, "Emang lo dukun? Ngga ada yang tau soal masa depan, jadi lo ngga berhak asal nge-judge, Far."

Begitu Sasta memunggunginya, Jafar mengesah keras-keras, "Kenapa lo belain orang-orang asing itu, sih? Di atas cuman mau Mama bahagia, emang lo bisa gitu aja ngebiarin mereka gantiin Papa?"

Kali ini, Sasta menoleh, tapi tidak sampai memutar badannya. Tanpa mengatakan apa-apa, dia hanya mengulas senyum miring untuk Jafar—sudah kepalang habis bahan untuk berdebat, sudah terlanjur tak habis pikir dengan kekacauan ini. Sedangkan Jafar, dia masih tidak percaya Sasta justru memihak mereka dibanding bersekutu dengannya. Ketika tatapan tajamnya mengarah pada Helma dan Lucy yang saling bersitegang itu, dia tetap merasa puas sebab rencananya lumayan berhasil—setidaknya, mereka gagal melanjutkan ke jenjang pernikahan.

Namun, Lucy hanya menganggap insiden ini sebagai hambatan kecil.

"Mami, aku udah dewasa. Aku ngga bisa ngikutin kemauan Mami terus. Toh, selama ini aku udah jadi puteri dengan cetakan sesuai mau Mami, kan? Masih kurang?"

Helma tidak menggubris permohonan Lucy, tapi dia melekatkan pandangannya menuju Zavian, yang kini kepayahan menelan ludah sambil memilin jemarinya. Kemudian, dia bergumam, "Kelas berapa anak itu? Sekolah di mana anak itu?"

Setelah Lucy mengikuti arah mata Helma, dia ternyata tak hanya menemukan Zavian, tapi juga mendapati Lazuar—yang sama-sama kikuk, begitu ingin melarikan diri. Ya, Lucy paham suasana seperti ini terasa menyakitkan bagi keduanya; penolakan, intimidasi, dan hinaan tersirat, yang tidak bisa mereka atasi. Lazuar mungkin tahu diri bahwa ia tak pantas berlama-lama di sini, dia tahu di mana levelnya, dia tahu dia membawa seorang aib, sehingga dia bergegas menarik Zavian untuk segera berdiri.

"Maaf, Bu. Saya rasa, sebaiknya kita pulang. Maaf sudah lancang ingin menikahi Lucy."

"Laz," Lucy memanggil sambil mengurai cengkeraman Lazuar di pergelangan tangan Zavian, yang tampak cukup kuat, tapi dia juga harus membagi konsentrasinya demi meluruskan ini semua, "Kita tetep nikah. Besok kita cek venue dan buat fitting bisa diulang—"

"—Lucy, sadar."

Lucy melebarkan matanya saat Lazuar menggunakan penekanan tersebut, "Kamu mau nyerah cuman karna Mami aku ngga ngasih restu? Iya? Kamu mau nyalahin Vian lagi, kan? Atas ini, demi Tuhan, bukan salah Vian—"

"—maaf, Lucy."

Sepersekian detik itu, Lazuar menyeret Zavian hingga mereka keluar dari butik tersebut. Lucy ingin mengejar mereka, tapi Helma sudah menghadangnya lebih dulu dengan wajah murka luar biasa. Ia lantas melirik keberadaan Sasta dan Jafar, baru mengembalikan tatapannya menuju mata berkaca Lucy.

"Kalo kamu nikah sama orang tanpa latar belakang jelas itu, berarti kamu bakal kasih dia posisi instan langsung di atas gitu?"

"Maksud Mami?"

"Ahzuna Group. Mami bicara soal perusahaan yang harusnya diwariskan buat cucu-cucu Mami. Kamu percaya laki-laki itu ngga akan khianatin kamu?"

Lucy tertegun seketika, tapi hatinya menolak anggapan tersebut, "Mi, mempercayai Lazuar itu keputusanku. Terus, yang bisa ngebuktiin bahwa keputusanku salah, ya Lazuar. Apapun itu, aku siap ambil semua hal-hal buruk yang mungkin terjadi kalo aku hidup bareng sama dia—"

Mimosa [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang