Belum sempat mengatakan apa-apa, Zavian sudah setengah diseret Lazuar untuk masuk ke rumah. Anton, Nire, dan Elvan pun menganggap bahwa mereka memang terlalu ikut campur, sehingga mereka bertiga segera masuk ke rumah juga. Namun, tanpa pernah terpikir bahwa di rumah sebelah, ada Lazuar yang jengkel setengah mati dengan Zavian.
"Maksud kamu apa tiba-tiba meluk? Terus, siapa yang ngajarin seenaknya mutus omongan orang? Hah?!"
Zavian duduk di sofa, tadinya mau bersikap tenang, tapi ternyata dia tetap gemetar.
"Vian ngga sengaja, Pa," Zavian menunduk dalam-dalam, ia yakin cicitannya barusan hampir tak terdengar, "Vian ngga gitu lagi, janji."
"Janji terus dari kapan taun? Kamu itu udah tujuhbelas taun! Kapan dewasanya, sih? Kapan bisa berinteraksi normal sama orang-orang? Kapan ngga malu-maluin? Untung aja di depan tetangga sendiri, kalo nanti pas di pesta nikahan—"
"—Papa jadi nikah?"
Lazuar mendengus, "Baru aja dibilangin jangan asal motong—"
"—Papa nikah sama tante itu?"
Lazuar akhirnya mendekat, lalu dia menaikkan dagu Zavian, "Kenapa? Kamu ngga terima? Kamu ngga setuju? Ada hak apa kamu bisa kaya gitu?"
Zavian menggeleng setelah Lazuar menjauhkan tangannya, "Mama gimana? Mama gimana? Papa lupain Mama?"
Lazuar melengos sejenak, lantas memegangi kedua bahu Zavian, "Tanya sama kamu sendiri. Kalo kamu ngga bunuh Mama kamu, ngga akan ada pernikahan ini. Ngerti?"
Seketika, Zavian tertegun. Ia masih bersikeras menyembuhkan diri dari memori kelam itu, tapi Lazuar justru terang-terangan menyinggungnya kembali. Padahal dia yakin bukan dia pelakunya, entah mengapa Lazuar terus menuduhnya, menyalahkannya, dan menimpakan semuanya.
"Vian ngga bunuh Mama. Vian cuman keujanan, terus Mama pergi."
"BOCAH GOBLOK!" Namun, di sisi Lazuar, dia merasa bahwa Zavian adalah malapetaka penyebab istrinya meninggal dunia. Kini, dia mana bisa sabar menghadapi Zavian dengan sengala kepolosannya itu, sementara dia tahu betul apa yang terjadi di masa lalu, "HEH! HARUSNYA KAMU YANG MATI! BUKAN ISTRIKU!"
"Vian ngga ngerti, Pa. Vian beneran ngga ngerti Papa kenapa marah."
Jika Lazuar tetap meladeni Zavian, dia yakin seisi rumahnya akan berantakan. Belum lagi jika suara-suara kerasnya sampai ke tetangga sebelah, tentu akan menimbulkan banyak kesangsian nanti.
"Terserah kamu mau mikir apa," Lazuar memang melunak, tapi telunjuknya baru saja mendorong pelipis Zavian, "Yang penting, jangan malu-maluin di pesta pernikahan minggu depan."
Minggu depan.
Zavian mengulang dalam batin setelah Lazuar meninggalkannya sendiri.
"Kenapa cepet banget? Vian belum siap. Vian takut, Ma, Vian takut."
***
Elvan girang bukan main bisa mengendarai motornya hari ini. Meskipun belum punya SIM dan orang tuanya masih menguruskan itu untuknya, dia yakin bisa sampai di sekolah tanpa kena tilang.
"Ati-ati. Jangan sampe ketemu polisi."
"Ketemu polisi tidur yang iya, Bun," sahut Elvan sambil menduduki jok motor, baru mengenakan helm-nya, "Tenang aja, aku udah ahli belusukan, kok."
"Ati-ati. Boncengin Vian yang pasti banyak gerak karna dia ngga biasa."
Kali ini, Elvan spontan mencibir, tapi dia sedang dalam mode malas berdebat, "Bunda ngancurin mood aku terus. Lagi enak-enak nikmatin hidup, malah bahas Vian—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mimosa [✓]
Ficción GeneralJUDUL SEBELUMNYA [SORROWFUL MISERY] Zavian tidak bisa memilih dia akan terlahir di keluarga siapa dan dalam keadaan bagaimana, tapi takdir Tuhan ternyata suka sekali bermain dengannya. Ia dibenci semua orang hanya karena dia tidak beruntung. Di usia...
![Mimosa [✓]](https://img.wattpad.com/cover/324505555-64-k578858.jpg)