23; perkenalan

798 74 4
                                        

"Pelan-pelan, Yah," interupsi Nire serta merta membuat Anton jadi mengurangi kecepatannya, "Itu bukannya Vian?"

Elvan, yang semula terpejam sambil mendengarkan musik-musik rock dengan headphone, jadi reflek menegakkan duduknya, lalu membuka mata sekaligus melepas penyuara telinga tersebut. Ia turut celingukan.

"Salah liat kali, Bun," sergahan Anton sempat disetujui Nire, tapi postur yang dia lihat itu serupa anak tetangganya, "Mana mungkin Vian di sini?"

Elvan juga berpikir demikian, seharusnya Zavian memang berada di venue pernikahan, bukan malah jalan-jalan di areal pemakaman. Namun, sosok yang sedang bersimpuh di salah satu gundukan tanah itu tak luput dari fokus Elvan hingga ia tak sadar memekik duluan.

"Beneran Vian!"

Anton dan Nire spontan menoleh ke belakang, bahkan sampai menghentikan laju mobil.

"Susulin dulu sana, Ayah cari parkiran bentar," pungkas Anton sambil celingukan mencari tempat kosong di mana ia bisa meninggalkan mobilnya, "Kasian, kayanya dia butuh sandaran."

"Udah kaya kursi aja ada sandarannya—"

"—El," teguran Nire segera membungkam mulut Elvan, "Kebiasaan nyautin."

"Iya, maap. Ngga lagi. Terus ngomong apa—"

"—Bunda aja yang ngomong, kamu ikut doang," Nire menyambar lagi sambil menuruni mobil dan mulai memacu langkah untuk sampai ke tempat Zavian sana. Sesekali menoleh ke belakang demi memastikan Elvan mengekorinya, ternyata dia menurut, "Cepet, El. Lama amat, sih?"

"Ya ampun, Bun. Orang Vian juga tetep di situ, ngga ke mana-mana."

Namun, omongan Elvan tidak bersambut sebab sesampainya di pusara Sarona, ia malah menyaksikan pelukan Nire untuk Zavian. Sedikit banyak, dia agak tersentuh saat mendapati air mata Zavian yang menderas itu; matanya bahkan sembab, wajahnya pun memucat, bahunya melorot, dan dia menggigil gemetar.

"Vian Sayang," Nire berbisik sembari mengelus puncak kepala Zavian, kali ini Elvan sampai harus memalingkan wajah, "Ada Ibu di sini, bisa jadi ganti Mama Vian, kan?"

Zavian tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menggeleng beberapa kali, tapi histerianya masih terdengar.

"Vian Sayang," Nire melirih seraya mengusap punggung Zavian sekarang, acapkali membuat Elvan merasa iri, "Kalo Vian sedih, Mama di Surga sana pasti sedih juga."

"BIARIN!"

Mendadak Zavian malah berteriak. Hal tak terduga selanjutnya adalah dia berdiri sambil memundurkan diri. Ia tampak marah, benar-benar enggan tangan-tangannya digapai siapapun. Ia menjauh, membuat jarak, menjaga langkah.

"SALAH SENDIRI MAMA NINGGALIN VIAN! PAPA JUGA NGGA SAYANG LAGI SAMA MAMA! VIAN NGGA SUKA! VIAN NGGA MAU!"

Nire jadi seketika sesak, ia menahan tangisannya sendiri sambil terus mengulurkan tangan, berharap Zavian mau menerima.

"Vian," Anton sudah tiba, ia sempat melirik Elvan yang tak mau melakukan apa-apa, baru berusaha mendekat pada Zavian, "Sini, kita ngobrol—"

"—NGGA ADA YANG BISA DIOBROLIN! VIAN MAU KETEMU MAMA AJA!" Zavian terang-terangan mengamuk, "VIAN NGGA MAU PINDAH RUMAH! VIAN NGGA MAU PUNYA MAMA BARU! MAMA VIAN CUMAN SATU!"

"Vian," Anton melembutkan nada suaranya, berharap Elvan tergerak membantunya untuk membuat Zavian luluh, "Sini, dengerin dulu—"

"—VIAN NGGA MAU DENGER APA-APA—"

"—LO ITU DI PEMAKAMAN, BISA SOPAN DIKIT NGGA, SIH? LO ITU MARAH-MARAH DI DEPAN JASAD-JASAD YANG DIKUBUR DI BAWAH TANAH YANG LO INJEK ITU, BISA NGEHORMATIN DAN NGEHARGAIN MEREKA NGGA, SIH?"

Mimosa [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang