Bubaran upacara, Callice masih saja diminta jadi anggota di grup yang akan diikutkan kompetisi cerdas cermat. Padahal sedari tadi dia sudah pura-pura enggan terlibat saat tahu teman-temannya mendesas-desuskan seputar lomba tingkat provinsi itu.
"Cal, lo kan lumayan pinter. Hadiahnya juga lumayan, bisa buat lo nge-date sama Liyas candle light dinner gitu. Lo aja yang ikut, ya? Kan yang diambil cuman dua anak IPA sama satu anak IPS. Nah, dari anak IPA biar lo sama Vian aja, deh."
Karena ada nama Zavian, Callice jadi berhenti melanjutkan langkahnya menuju kelas dan spontan menghadap Wari, lalu mengulang lagi, "Hah? Vian? Emang dia mau? Emang udah setuju?"
"Cal, lo aneh banget. Tadi gue nyerocos panjang lebar ngga pake nyebut nama Vian, lo bodo amat. Eh, sekarang tau-tau excited. Beneran Vian melet lo, ya? Ati-ati, dah. Ntar hubungan lo sama Liyas renggang gara-gara Vian, loh."
"Dih, apaan, sih? Kenapa jadi ke mana-mana?" Callice melengos lagi, kemudian tatapannya bertemu dengan kerlingan Liyas yang sedang mengobrol dengan teman-temannya di depan kelas, "Ntar dibahas lagi, deh. Gue ditungguin Liyas."
Wari terpaksa memendam kembali sederet kalimat yang mau dia bicarakan dengan Callice saat teman sebangkunya itu terbirit menemui Liyas—padahal dua sejoli itu juga masih sekelas sampai pulang sekolah nanti. Namun, begitu Callice sampai di hadapan Liyas, Azim dan Agam, malah mencibirnya.
"Ya elah, gini amat jadi jomblo yang temenan sama couple bucin. Udah sekelas, masih aja kudu ketemu di tiap tempat tiap momen."
"Ye sirik aja lo, Gam," Callice mencebik, tapi senyumannya tertukar untuk Liyas, "Kok kamu udah nyampe kelas duluan?"
"Ya ilah, hal-hal remeh bisa jadi topik ternyata, ya. Seru juga pacaran, apa aja diomongin, yang ngga penting sekalipun."
"Yeu, teros aja sirik lo pada. Makanya, Zim, cari pacar sono," Kali ini, Liyas yang membalas ejekan tersebut, kemudian dia mengangguk pada Callice, "Iya, kamu kan gosip dulu tadi sama Wari."
Alhasil, Agam dan Azim pamit undur diri, sengaja duluan masuk kelas dari pada harus menyaksikan Liyas dan Callice berduaan. Sepeninggal mereka, Liyas meminta Callice agar menghadap lapangan, dari balkon lantai dua sini, mereka bisa menemukan anak-anak kelas IPA3—kelas Elvan dan Zavian—sedang bersiap untuk mata pelajaran pertama mereka, Olahraga.
"Kayanya kamu belum minta maaf ke Vian, deh."
Liyas diam, tapi sorot mata tak terdefinisinya menetap pada sosok Zavian yang sedang memeluk bola voli di tribun sana.
"Mm, Yas. Ada lomba cerdas cermat, terus—"
"—aku denger tadi pas baris," Liyas terburu menyambar, "Anak-anak IPA pada mau ngajuin kamu sama Vian buat ngewakilin, kan?"
Callice mengerjap, dia sadar nada suara itu berubah tajam, "Kamu ngga bolehin aku sekelompok sama Vian, ya?"
"Boleh. Aku bukan pacar yang hobi ngebatesin—"
"—tapi, di balik setujunya kamu, pasti nanti ada masalah, Yas," Callice memutus sebab prasangkanya tidak mungkin salah, "Tenang aja, aku ngga mungkin ada rasa sama dia."
Liyas akhirnya menyampingkan badan hingga ia bisa memandang Callice seutuhnya, lantas bergumam penuh percaya diri, "Iya, aku percaya, kok."
***
Istirahat pertama seusai pelajaran Olahraga dan Matematika, Zavian berniat menetap di dalam kelas, seperti biasa. Namun, saat dia mengeluarkan kotak bekal dari ranselnya, mendadak saja dia jadi tak berselera. Karena ini bukan masakan Sarona atau Nire, sama sekali bukan buatan orang-orang yang dekat dengannya. Yah, Zavian tentu kecewa sebab Lucy membawakannya lauk pauk mewah seperti baked salmon dan mashed potato. Bukannya dia tidak suka, tapi dia hanya rindu kesederhanaan yang dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mimosa [✓]
Ficción GeneralJUDUL SEBELUMNYA [SORROWFUL MISERY] Zavian tidak bisa memilih dia akan terlahir di keluarga siapa dan dalam keadaan bagaimana, tapi takdir Tuhan ternyata suka sekali bermain dengannya. Ia dibenci semua orang hanya karena dia tidak beruntung. Di usia...
![Mimosa [✓]](https://img.wattpad.com/cover/324505555-64-k578858.jpg)