49; gantung diri

2.6K 95 1
                                        

Sesampainya di rumah, Lazuar segera menyeret Zavian untuk masuk ke kamar anak kandungnya yang terletak di lantai dua ini. Sepanjang melewati tangga, Zavian harus menyesuaikan langkah besar Lazuar, yang cenderung sulit dia ikuti. Sepersekian detik kemudian, Lazuar membanting Zavian ke kasur, sebelum itu dia sudah mengunci pintu kamar.

“Papa, kenapa dikunci? Papa, jangan marah, jangan marahin Vian. Vian salah, Vian salah. Papa jangan marah. Vian janji—”

“—DIEM!” teriak Lazuar, suara beratnya menggema di seisi ruangan. Lalu, dia tarik ikat pinggangnya, seketika membuat Zavian melebarkan mata. Tapi, dia tidak peduli, dia sudah seperti kesetanan sekarang, “KAMU ITU PEMBUNUH! DUA KALI! DUA KALI KAMU NYELAKAIN ORANG YANG SAYA SAYANGI! KENAPA? KAMU NGGA SUKA LIAT SAYA BAHAGIA, HAH?!”

Zavian menggeleng, dengan reflek dia melindungi bagian depan dirinya sebab Lazuar sudah mengacungkan sabuk itu di udara.

Ctash! 

Cambukan pertama telah dilayangkan Lazuar menuju punggung Zavian. 

“AKH!” Setelah memekik, Zavian pun sempat berguling kesakitan tanpa bisa menahan ringisannya, “Sa—sakit, Papa, sa—sakit!”

“MAKANYA,” Lazuar bersiap lagi, kali ini memaksa Zavian agar terlentang menghadap dirinya hingga mata berair itu bisa ia bingkai dalam ingatan seutuhnya—mata sendu yang menyiratkan ingin ampunan, mata sayu yang berharap belas kasih—sekali lagi, Lazuar tak menaruh iba, “HARUSNYA KAMU NGGA USAH LAHIR KE DUNIA INI!”

Harusnya kamu ngga usah lahir ke dunia ini.

Harusnya kamu ngga usah lahir ke dunia ini.

Terus terngiang di kepala Zavian seiring cambukan-cambukan Lazuar yang membabi buta. Dia menyerah, sudah merasa percuma, tidak ada gunanya memelas dan memohon. Ia biarkan Lazuar puas menyakitinya, melukainya, kalau perlu membunuhnya sekalian. Namun, yang bisa dia lakukan sekarang hanya menahan pesakitan itu supaya dia bisa memberitahu tentang kotak berisi kenangan mereka selama ini.

CTASH!

CTASH!

CTASH!

Lazuar bak kerasukan, dia terus menciptakan garis merah di sepanjang badan Zavian; dada, punggung, tangan, kaki, semua dia sasar tanpa rasa kasihan. Sekalipun Zavian tak lagi meronta apalagi memberontak, padahal anak itu sudah diam saja.

“Papa, Papa, de—dengerin Vi—Vian.”

Ketika Lazuar mulai lelah, ia berhenti. Ikat pinggangnya jatuh ke lantai, sementara dia menangis pilu sambil memunggungi Zavian—yang sudah terluka parah, babak belur, dan tak berdaya.

“Di me—meja be—belajar Vian,” Zavian berusaha menyelesaikan kalimatnya meski harus terbata begini, “A—ada kotak isi tulisan Vian, na—nanti Papa baca, ya. Te—terus, ada kincir angin, yang bukan dari origami kaya bikinan Papa sama bikinan Mama dulu. I—Itu Vi—Vian beli.”

Lazuar akhirnya berbalik, ia temukan sprei kasur sudah dipenuhi bercak darah. Begitu pula dengan Zavian, yang tidak bisa membuka kelopak matanya, yang merasakan nyeri dan ngilu di sekujur badan, dan yang tak ada tenaga lagi. 

“Ini hukuman kamu,” desis Lazuar, “Kalo sampe Lucy berakhir sama kaya Sarona, kamu bener-bener ngga saya maafin!”

Selepas itu, Lazuar keluar kamar dan membanting pintunya. Dia bahkan tak menanggapi ujaran Zavian sebelum ini—tentang hadiah permintaan maafnya yang ternyata gagal total. 

“Mama, Mama, Mama,” rapal Zavian, tatapannya kosong mengarah ke langit-langit kamar, “Je—jemput Vi—Vian. Vi—Vian sakit. Vi—Vian capek.”

Karena dadanya terasa sesak bukan main, Zavian jadi memaksa dirinya untuk terduduk dengan susah payah.

Mimosa [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang