"Gara-gara Mama, Oma jadi pulang."
Lucy mengesah pada penuturan Jafar barusan, lantas mendudukkan diri berdampingan dengannya di sofa ini, "Mama ngga maksud gitu, tapi Oma udah kelewatan tadi. Masa nganggep Om Laz sama Vian kaya hama yang perlu dibasmi."
"Emang iya, kan? Baru hari pertama udah buat masalah."
Lucy berdeham, "Far. Mulai lagi."
"Oma aja yang baperan."
Lucy spontan menoleh ke sisi sebelah di mana Sasta bersuara dari tempatnya duduk, lalu menghela napas panjang, "Mama salah juga, sih. Kebawa emosi sesaat. Nanti Mama telpon Oma, terus bujuk-bujuk biar mau nginep di sini lagi."
"Nanti Oma kalo di sini jadi banyak masalah, Ma."
Lucy membasahi bibir sejenak, "Jadi, mending minta maaf doang tanpa nyuruh Oma balik?"
Jafar sempat menyatukan alis saat menemukan wajah penuh muslihat Sasta, tapi tidak ada yang berkomentar lebih jauh sampai akhirnya Lazuar bergabung dengan mereka. Lazuar berdiri di hadapan istri dan anak kembarnya, sedikit banyak mulai ingat bahwa ini hari pertamanya menjadi kepala keluarga lagi.
"Menurut aku, kamu tetep salah, Lucy," Lazuar memulai, ia pandangi satu persatu sepasang mata yang ada di depannya; Jafar tentu memalingkan muka, Sasta tidak begitu memperhatikan, hanya Lucy yang menumbuk tatapannya, "Kamu harusnya susulin Ibu ke rumah, terus minta maaf dan bilang jangan sampe Ibu kapok ke sini lagi, kan kasihan orang tua cuman satu. Ibu pasti nelangsa. Lagian, emang Vian harusnya punya sopan santun."
Namun, Lucy hanya mengangguk sekilas sambil beranjak dari duduknya. Dia sama sekali tidak menimpali omongan Lazuar, kecuali satu hal, "Vian mana? Di kamar?" Karena Lazuar tidak menjawab pertanyaannya, Lucy pun memutuskan sendiri, "Aku liat Vian dulu, deh."
Sasta dan Jafar jadi melongo berdua, sementara Lazuar menggeram marah—lagi-lagi Zavian mencuri atensi setiap orang yang dia cintai; tidak Sarona, tidak Lucy, keduanya sama-sama mementingkan Zavian sekarang.
"Anak cacat mental gitu aja—"
"—apa?" Lucy tadinya sudah hampir mencapai tangga, tapi dia seketika berbalik saat Lazuar mencicit demikian, "Apa, Laz?"
"Iya. Anak cacat mental gitu aja, ngapain kamu bela-belain—"
"—ngapain?" Lucy tertawa sarkas, "Ngapain? Karna aku masih waras. Karna aku masih punya rasa memanusiakan manusia."
Kemudian, Lucy kembali menderapkan langkah menuju kamar Zavian tanpa peduli seperti apa raut orang-orang di belakangnya, termasuk suami dan anak kembarnya.
***
Zavian sudah mengganti baju dengan piyama yang dulu dibelikan Sarona sebagai hadiah ulang tahunnya. Ia berjalan sebentar mengitari seisi kamar—kamar baru yang berbeda drastis dengan kamar lamanya dulu. Mulai sekarang, ia hanya akan menempati ruangan luas ini, tidak akan keluar jika tidak diminta. Bagaimanapun, orang-orang di luar sana seperti membencinya dan ia sadar betul untuk tahu diri.
"Bagus."
Zavian meraba tirai beludru warna abu-abu ini, lalu menyibaknya perlahan sampai ia bisa memandangi halaman penuh rerumputan sekaligus kolam renang itu. Kemudian, dia membuka jendela lebar-lebar, menghirup udara sejuk sambil mengatupkan kelopak, ia nikmati semua yang tersaji untuknya sementara dia duduk di kusen sini.
"Mama suka kalo di sini sama Vian."
Zavian akhirnya berbalik memunggungi apa yang baru saja ia pandangi untuk sejenak. Lantas, dia bergerak ke meja belajar, ia sentuh satu persatu hiasan yang ada di sana; lampu, alat tulis, figur-figur kartun, dan laptop. Seumur hidup, ia tak pernah punya meja belajar dengan fasilitas selengkap ini, sehingga ia takjub sesaat sebelum menduduki kursinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mimosa [✓]
Ficção GeralJUDUL SEBELUMNYA [SORROWFUL MISERY] Zavian tidak bisa memilih dia akan terlahir di keluarga siapa dan dalam keadaan bagaimana, tapi takdir Tuhan ternyata suka sekali bermain dengannya. Ia dibenci semua orang hanya karena dia tidak beruntung. Di usia...
![Mimosa [✓]](https://img.wattpad.com/cover/324505555-64-k578858.jpg)