"Ujan."
Elvan melirik Zavian; yang baru saja mencicit sambil memandangi jendela, yang bahkan belum mau beranjak dari bangkunya, dan yang tiba-tiba saja tampak gelisah bagai didominasi ketakutan.
"Pulang kaga lo?"
Mendengar sergahan Elvan, Zavian pun memindah tatapannya menuju sepasang mata tajam itu, "Nanti aja, El. Tunggu berenti. Tunggu ilang. Vian ngga mau basah."
"Siapa juga yang mau ujan-ujanan sama lo?" Elvan sengaja meninggikan nadanya, "Kita kan sama-sama bawa payung. Tinggal jalan dikit buat sampe halte, terus naik busway. Ngga usah jadi bocah, deh. Jangan ngerepotin gue lagi lo."
Namun, belum sempat Zavian membalas, rangkulan Renja di bahu Elvan justru membuatnya semakin terperangkap, terlebih seringai itu juga turut muncul, "Marah-marah mulu lo, El. Kenapa lagi? Ngga bisa pulang kalian gara-gara ujan? Vian trauma ditinggal El lagi kaya kapan hari, ya? Kalo ngga salah, pas itu juga ujan, kan?"
"Plis, lo ngga usah ikut-ikutan, deh, Ren," Elvan menekan dengan dengusan sebal setelahnya, "Pokonya, gue ngga mau ngeladenin ini anak lagi. Semisal dia ngga mau nyusulin gue, gue tinggal di sini. Bodo amat."
Kemudian, tanpa perlu menoleh pada Zavian lagi, Elvan memang benar-benar merealisasikan niatnya barusan. Ketika Elvan sudah keluar kelas dan hampir mencapai gerbang sekolah, Zavian baru sadar kalau menetap di sini dengan Renja sama saja dengan bunuh diri.
"EL!"
Teriakan Zavian sesegera itu tertutup derasnya hujan. Sebelum Zavian melarikan diri, Renja sigap menarik ransel di punggung itu hingga dalam sekejap Zavian terhenti di tempatnya berdiri.
"Lagian, lo tadi pake drama segala. Padahal udah diajakin pulang, malah banyak alesan."
Kini, Renja memutar badan menggigil Zavian sampai tatapan mereka akhirnya bertumbuk.
"Kalo lo mau nunggu ujan reda, nunggu bareng gue aja. Gue temenin, lo bisa cerita apa aja."
Zavian buru-buru menggeleng, terlebih saat Renja meremas kedua bahunya, dia jadi seketika panik, "Vian mau pulang sama El aja," Lantas, ia meronta dari tangan-tangan kokoh Renja dan berseru lagi, "Vian bisa nerobos ujan!"
"Pinjemin catetan lo dulu, dong," Renja menahan lagi, kali ini ia sengaja menarik bagian belakang kerah Zavian kuat-kuat, otomatis leher Zavian hampir seperti tercekik sebab jalur napasnya serasa diblokir, "Kenapa lo mukul-mukul tangan gue? Mau ngomong apa?"
Zavian memang berusaha melonggarkan cekalan Renja yang teramat erat ini, tapi tetap saja tak membuahkan hasil, bahkan ketika dia mulai terbatuk, "Uhk! Lepas!" Sekalipun, dia memberontak sana sini, tenaga Renja tetap bukan tandingannya, "El!"
Elvan ternyata berdiri di ambang pintu, menjadi satu-satunya yang bisa Zavian panggil sebagai permintaan tolong saat ini. Setelah berdecak, Elvan berderap cepat menuju tempat Renja dan Zavian saling tarik ulur itu, ia buru-buru menyentak tangan Renja dari bagian belakang kerah Zavian dengan wajah luar biasa kecut.
"Gue mau pulang dalam keadaan selamet alias gue harus bawa anak ini pulang," Elvan pun segera menyuruh Zavian berdiri di belakang dirinya, "Sori, Ren, lo bisa main sama dia besok. Sekarang, gue ngga mau diamuk Ibu negara kalo sampe ngga nganter ini bocah pulang ke rumahnya."
Meski masih kesulitan mengatur napas, Zavian tetap menurut saat Elvan menarik tangannya secara kasar.
Renja tersenyum miring saat memperhatikan dua punggung sempit itu menjauhinya.
"Interesting."
***
"El, El, El."
"Apalagi, sih?" Elvan mengesah frustasi saat Zavian terus menerus menarik bagian belakang seragamnya, "Gue udah nyelametin lo dari Renja, ya. Padahal gue udah deket halte tadi, tinggal naik doang ke busway-nya. Gara-gara lo—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mimosa [✓]
General FictionJUDUL SEBELUMNYA [SORROWFUL MISERY] Zavian tidak bisa memilih dia akan terlahir di keluarga siapa dan dalam keadaan bagaimana, tapi takdir Tuhan ternyata suka sekali bermain dengannya. Ia dibenci semua orang hanya karena dia tidak beruntung. Di usia...
![Mimosa [✓]](https://img.wattpad.com/cover/324505555-64-k578858.jpg)