08; temuan asing

1.2K 100 4
                                        


Sasta menyetir sambil mengulum suaranya sebab Jafar sama sekali enggan membuka obrolan. Ia berulang kali melirik saudara kembarnya itu; yang sibuk berdecak, yang mendadak gelisah, dan yang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.

"Lagian, ngapain Mama minta kita dateng ke resto cuman buat makan malem bareng sama calonnya, sih?" Jafar akhirnya menyumbang pertanyaan, tapi sebelum Sasta siap melayangkan jawaban, ada sambungan lagi, "Kan terakhir kali, kita jelas-jelas nunjukin kalo kita ngga setuju."

"Yah, siapa tau Mama berubah pikiran."

"Maksud lo?" Jafar spontan menoleh, sejenak memperhatikan Sasta yang bergantian melirik spion atas dan spion samping, ia sedang memarkir mobilnya sekarang, "Atas dasar kasian gitu, makanya Mama berubah pikiran?"

"Ya mana gue tau, kan gue sama kaya lo, ngga tau apa-apa."

Akhirnya, mobil sudah terparkir rapi sehingga Sasta bisa memusatkan seluruh atensinya menuju Jafar.

"Gue ngga mau turun, lo aja yang turun. Biar gue nyetir pulang lagi."

Sasta mengernyit, "Bocah banget lo. Inget, lo itu udah kuliah, bukan masanya buat puber lagi. Pikirin Mama aja lah, kasian."

"Gue kan cuman megang kata-kata Mama, kalo ngga setuju berarti Mama ngga lakuin."

Ketika Sasta mengesah, ia putuskan malas mendebat Jafar lagi, sehingga dia pun turun lebih dulu dan dengan sengaja mengantongi kunci mobil. Seperti dugaannya, Jafar menyusul.

"Kuncinya mana—"

"—lo pulang setelah setor muka dulu."

"Lama-lama pengen gue tonjok muka lo—"

"—tonjok aja, sekarang, di sini. Mumpung rame."

Sasta berhenti melangkah dan seketika membuat Jafar terhenyak. Keduanya bahkan tidak sadar kalau sudah sampai di meja tempat Lazuar, Lucy, dan Zavian duduk melingkar menunggu mereka.

"Kenapa lagi?" Saat suara Lucy menyela, Sasta dan Jafar kompak mengalihkan tatapan tajam yang tadi saling mereka adu menuju sang ibu, "Duduk sini. Udah pada gede masih aja berantem. Malu sama Vian, nih. Eh, kenalan dulu, dong."

Sasta dan Jafar akhirnya kikuk menuruti titah Lucy, mereka sama-sama mengobservasi—Lazuar, pria yang separuh rambutnya sudah beruban itu tersenyum sungkan, tampak seperti orang-orang pada umumnya, tapi berbeda dari orang-orang yang mengincar harta keluarga mereka, ada nilai lain yang Lazuar tonjolkan di kesan pertama ini. Sementara Zavian, pemuda yang tingginya hanya sebatas bahu mereka itu terus menunduk, terkadang tatapannya tak fokus, sesekali juga bergumam tidak jelas, belum lagi kaki-kakinya yang digerakkan terus menerus di bawah sana, semua perilaku tersebut mencerminkan bahwa dia memang mengidap keterbelakangan mental.

"Kok malah bengong," Lucy jadi melemparkan tatapan menuju anak-anaknya sekaligus Zavian, lantas dia juga berusaha membaca ekspresi Lazuar yang tampak tidak nyaman itu—sudah pasti dia merasa tak pantas duduk di restoran semewah ini, toh padahal restoran ini juga milik Lucy," Ayo, kenalan. Ngga usah malu-malu. Sas, Far, kalian kan yang lebih tua dari Vian, ajakin kenalan duluan, dong."

Setelah saling sikut, Sasta dan Jafar ternyata masih betah membuat adegan berkenalan ini tak mencapai akhir. Alhasil, Zavian malah tiba-tiba mengulurkan tangannya lebih dulu, tepat di hadapan wajah-wajah melongo Sasta dan Jafar.

"Vian. Zavian Marzola."

Sasta dan Jafar sama-sama berkedip, tapi tendangan Lucy di bawah meja segera menyentak keduanya.

"Gue Sasta."

Sasta menjabat tangan Zavian, sekilas.

"Gue Jafar."

Mimosa [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang