41; perpisahan terakhir

1K 74 0
                                        

Suasana tiba-tiba berubah mencekam dan menegangkan, Zavian saja sampai tersungkur di lantai sebab Lazuar barusan membantingnya. Helma kembali duduk di sofa, masih bersisa syok biarpun Sasta dan Jafar sigap memeganginya. Lucy sendiri segera berlari menghadang Lazuar dari menyentuh Zavian, seincipun tidak dia perbolehkan.

“Apa? Kamu selalu bawa Vian pergi buat kamu ajak ngomong berdua. Padahal di situ kamu marahin dia habis-habisan, Laz,” seru Lucy, mulai berapi. “Terus, kamu nyuruh Vian ngelakuin apa? Hah? Kamu suruh dia nurutin maumu yang mana?”

Lazuar kepayahan menelan ludah, tapi dia sempat mengintip Zavian yang masih bersimpuh di belakang badan Lucy. Ia melunak, “Maaf. Aku minta maaf ke kamu, ke Ibu, ke Jafar, dan ke Sasta. Aku minta maaf ke kalian semua,” Kemudian, ada sesal merayap, ada rasa bersalah melingkupi, dia bahkan membungkuk dalam-dalam sebelum akhirnya memberi satu persatu orang di sini tatapan penuh arti, “Makasih banget kalian udah mau terima aku dan Vian di sini, tapi balasan kita malah kaya gini.”

“Baguslah kalo sadar diri—”

“—Mami!” Lucy, untuk kesekian kali, kembali membentak Helma, “Ini urusan rumah tangga aku, Mami harusnya ngga perlu ikut campur.”

“Loh, apa salahnya orang tua mau yang terbaik buat anaknya, sama kaya mau kamu buat Sasta dan Jafar—”

“—plis, Mi. Ngga ada hubungannya,” kesah Lucy, semakin geram jadinya, “Sas, Far. Tolong anter Oma ke kamarnya, ya, Sayang. Mama selesein ini dulu, nanti Mama ngobrol lagi sama kalian berdua.”

Sasta dan Jafar menurut, setidaknya mereka tidak ingin menempatkan Lucy di posisi paling sulit. Terlebih, ada Helma di sini, yang sepertinya sedang sengaja membuat keributan, sehingga mereka pun segera menuntunnya ke kamar. Sepeninggal ibu dan anak-anaknya, Lucy sigap berbalik, sekalian membantu Zavian berdiri. Dia terluka begitu sadar badan Zavian gemetar, tangan dan kakinya pun bergetar, dia sorotkan tatap ketakutan di sana.

“Tawaran kamu kemaren, yang bilang mending kita pisah aja, masih berlaku?”

Lucy mendelik, “Ngga, Laz! Udah ngga ada! Bukan gitu caranya nyelesein ini!”

“Seperti yang udah kita semua tau, adanya aku di sini ngga bawa kebahagiaan apapun.”

Lucy menggeleng berkali-kali, “Ngaco. Ngga, Laz, ngga. Jangan ngomong gitu—”

“—Papa jangan tinggalin Tante,” cicit Zavian hampir serupa bisikan, ia lanjut menundukkan kepala sambil membiarkan tetes demi tetes air mata berjatuhan, “Tante Lucy kan yang bisa bikin Papa bahagia, sedangkan Vian ngga bisa.”

“Vian, hei,” Lucy tidak sadar sudah menahan haru sejak tadi hingga ia turut menangis sekarang, selanjutnya dia peluk Zavian, dia usap punggungnya, dia elus rambutnya, “Jangan bilang gitu. Papanya Vian bahagia kalo ada Vian juga, begitu pula dengan Vian yang bahagia kalo ada Papanya Vian, kan? Ngga ada yang boleh terpisah satu sama lain, ya. Tante, Papanya Vian, sama Vian. Kita bahagia bareng,” Dia sadar suaranya sudah bergetar, serak pun mendominasi.

Namun, di sela pandangannya yang mengabur, Zavian masih bisa mendapati sorot yang menyiratkan kesedihan mendalam di sepasang mata Lazuar. Kebetulan, Lucy sedang memeluk Zavian, jadi dia otomatis memunggungi Lazuar—tanpa tahu bahwa ada pertukaran tatap begitu intens di antara ayah dan anak ini. 

“Vian cuman ngga terima Papa dijelekin Oma. Vian sayang Papa.”

Lazuar menggeleng sambil mundur teratur, ia tunjukkan sikap antipati dan ia pamerkan bentang jarak—sejauh mungkin—dari anaknya sendiri. 

“Sayang? Seandainya kamu bukan anak saya, dunia saya ngga akan seberantakan ini.”

“Jangan didenger,” Lucy buru-buru menutupi kedua telinga Zavian dengan tangan-tangannya, sambil masih meluruhkan air mata, “Jangan didenger.”

Mimosa [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang