32; aturan sosial

720 74 5
                                        

Di sekolah, yang terjadi tetap seperti biasanya. Zavian mengikuti lima mata pelajaran; Fisika, Biologi, Bahasa Inggris, Kesenian, dan Sejarah Wajib. Jam terakhir, semua pasang mata di kelasnya sudah mengatup separuh, tapi Zavian masih menjadi satu-satunya yang aktif mendengarkan penjelasan sekaligus menjawab pertanyaan Bu Rahma di papan tulis sana.

Bel akhirnya berbunyi, pertanda bahwa ini sudah jam untuk pulang. Seketika semua orang menjadi segar bugar kembali, mereka sudah sibuk mengemasi buku-buku dan alat tulis masing-masing, sementara Zavian tetap tenang di bangkunya.

"Jangan lupa PR-nya dikumpul Senin depan, ya."

"Siap, Bu!"

Kemudian, Bu Rahma keluar kelas, sehingga suasana di ruangan ini pun mulai tak terkendali; ramai di sana sini, ada obrolan di tiap sudut, tapi Zavian selalu tak dilibatkan. Karena teringat bahwa tadi Zavian diantar Sasta dan belum pasti akan pulang dengan cara apa, dia pun memberanikan diri untuk menengok ke tempat Elvan dan Renja duduk di belakang sana.

Begitu semua penghuni kelas berhamburan keluar, Zavian sengaja menyetop Elvan lebih dulu—padahal dia melakukan ini sambil menundukkan kepala.

"Apaan, sih?"

Renja menyimak, ia hanya akan diam sampai obrolan mantan tetangga di satu komplek yang sama ini usai.

"Malah diem, ada apaan, sih?"

Zavian akhirnya mendongak, "El mau ngga anterin Vian pulang? Tapi, Vian ngga hafal alamat pastinya, Vian cuman tau nama perumahan sama nomer rumah."

"Kenapa gue?" Elvan mendengus, sejenak merasa gusar, "Kan ada supir lo."

Zavian pun menggeleng, "Pak Supir lagi sakit. Ngga ada yang bisa jemput Vian juga."

"Tapi, El sama gue mau nge-game di warnet," Renja menyela di tengah-tengah, "Gimana?"

Zavian terpekur sejenak, baru membalas ragu, "Ngga papa. Vian juga mau belajar di Perpus dulu buat lomba cerdas cermat."

"Kalo kita lebih lama dari lo gimana?" Renja sengaja menggoda, "Lo berani sendirian?"

Zavian mengangguk pasti, "Iya, Vian tungguin sampe selese."

Alias, Zavian juga lebih memilih berlama-lama di luar rumah dari pada harus pulang ke rumah yang bukan rumahnya itu. Selain masih belum bisa berdamai dengan masa lalu, dia juga merasa cemas sebab ada Helma di sana. Setidaknya, jika dia menjauh sesaat, dia masih punya waktu untuk menyiapkan diri.

"Lo mau nganter dia emang?"

Elvan mengembuskan napasnya, lantas mengedik acuh, "Tunggu gue di depan Perpus sampe gue dateng, jangan ke mana-mana, jangan pindah-pindah."

"Widih, udah concern sama Vian, nih."

Renja sekejap bungkam saat Elvan mendelik tajam padanya.

"Iya, El. Vian ngga akan pergi-pergi. Nanti kalo udah Vian telpon El—"

"—enak aja. Gimana-gimana, lo yang harus nunggu gue, selama apapun itu. Kan lo minta tolong, bukan gue yang butuh," Elvan berkata demikian hanya karena dia agak tidak terima dianggap seperti supir pribadi yang harus datang saat dipanggil, "Satu lagi, inget. Jangan deket-deket sama Callice."

"Iya, El. Vian tungguin, Vian juga ngga deket-deket sama Callice—"

"—kenapa, deh?"

Semua pasang mata reflek terarah pada gumaman Callice di ambang pintu kelas, dia ternyata sudah berdiri di sana.

"Kenapa Vian ngga boleh deket-deket gue?"

Karena Callice tiba-tiba duduk di bangku sebelah Zavian, Elvan dan Renja jadi mendapati kekikukan Zavian—yang semirip salah tingkah. Tentu bukan hanya halusinasi mereka berdua sebab seketika itu keceriaan Zavian sudah berganti dengan kepanikan yang sedang berusaha dia sembunyikan.

Mimosa [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang